KETIK, JAKARTA – Di tengah besarnya aktivitas ekonomi masyarakat Indonesia, akses terhadap pembiayaan formal masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat dan pelaku usaha. Kondisi tersebut sekaligus membuka peluang bagi industri pembiayaan untuk menghadirkan solusi yang lebih adaptif bagi segmen masyarakat yang belum terlayani secara optimal oleh lembaga keuangan formal.
Data World Bank dan OJK 2023 menunjukkan lebih dari 92 juta warga Indonesia terkendala akses perbankan (unbankable). Di sisi lain, sektor informal masih menjadi bagian besar dari struktur ketenagakerjaan Indonesia. Data BPS menunjukkan bahwa pekerja informal masih mendominasi pasar tenaga kerja nasional pada 2024.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya kelompok masyarakat produktif yang memiliki aktivitas ekonomi, namun belum seluruhnya terhubung secara optimal dengan ekosistem keuangan formal.
Hal tersebut disampaikan oleh Rian Hidayat, Co Founder & CEO Aggre Capital. Menurut Rian. tantangan akses perbankan tersebut menjadi ruang baginya untuk bergerak secara nyata membantu masyarakat dan pelaku usaha untuk mendapatkan akses pembiayaan perbankan.
Rian Hidayat, Co Founder & CEO Aggre Capital. (Foto: Dok. Aggre Capital)
Sebagai perusahaan pembiayaan multiguna, Aggre Capital yang Rian dirikan menargetkan setidaknya dapat membantu 5 persen dari 92 juta orang yang terkendala akses perbankan (unbankable).
“Jika rata-rata kebutuhan pembiayaan sebesar Rp100 juta per nasabah, potensi pasar unbankable yang dapat dijangkau mencapai sekitar Rp460 triliun. Di sinilah peran kami, untuk membantu para nasabah, pelaku usaha dan masyarakat Indonesia untuk mendapat akses pendanaan dari lembaga keuangan perbankan,” jelas Rian.
Rian melanjutkan, Aggre Capital melihat kondisi tersebut sebagai sebuah blue ocean dalam industri pembiayaan. Ketika sebagian besar pelaku industri berkompetisi memperebutkan nasabah dengan kualitas kredit yang relatif sehat melalui persaingan harga dan batas plafon pembiayaan, terdapat ruang lain yang membutuhkan pendekatan berbeda untuk mengoptimalkan aset dan memberikan solusi bagi debitur yang masih memiliki potensi untuk dipulihkan.
“Kami melihat ada gap yang cukup besar antara kebutuhan masyarakat terhadap pembiayaan dengan akses yang tersedia. Di satu sisi ada masyarakat produktif yang belum mendapatkan akses pembiayaan formal secara optimal. Di sisi lain, ada portofolio pembiayaan yang membutuhkan pendekatan berbeda agar potensinya dapat kembali dioptimalkan,” ujar Rian.
Menurut Rian, pendekatan terhadap pasar pembiayaan tidak cukup hanya dengan melihat siapa yang paling mudah mendapatkan kredit. Industri juga perlu memahami karakteristik calon debitur, kebutuhan mereka, serta potensi aset yang dimiliki.
Melalui pendekatan tersebut, Aggre Capital terus mengembangkan posisinya sebagai partner pendanaan bagi masyarakat dan pelaku usaha, dengan membuka akses terhadap solusi pembiayaan sekaligus melihat potensi pertumbuhan yang masih terbuka luas di dalam ekosistem keuangan Indonesia. (*)
