Pasar Buku Wilis Malang Sepi, Pedagang Bertahan Lewat Jualan Daring

17 Mei 2026 15:45 17 Mei 2026 15:45

Kukuh Kurniawan, Aziz Mahrizal

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Pasar Buku Wilis Malang Sepi, Pedagang Bertahan Lewat Jualan Daring

Suasana Pasar Buku Wilis Kota Malang pada Minggu, 17 Mei 2026. (Foto: Kukuh/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Pedagang buku bekas di Pasar Buku Wilis Kota Malang memiliki cara tersendiri untuk tetap menjaga minat literasi masyarakat. Selain tetap berjualan dengan membuka lapak, mereka juga menjual buku-buku bekasnya secara daring. 

Salah satu pedagang, Agus Salim, mengatakan bahwa minat baca masyarakat semakin menurun. Hal itu ditandai dengan semakin jarangnya pengunjung yang datang ke pasar buku yang berlokasi di Jalan Simpang Wilis Indah, Kecamatan Klojen tersebut.

"Tiap tahun, pengunjung yang datang semakin berkurang dan penurunannya bisa hingga 80 persen. Ini sudah terasa sejak pandemi Covid tahun 2020 hingga sekarang, dan penyebabnya mungkin karena perubahan zaman dan teknologi," ujarnya kepada Ketik.com, Minggu, 17 Mei 2026. 

Pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Paguyuban Pedagang Pasar Buku Wilis ini mengungkapkan, masyarakat, utamanya anak muda, kini lebih banyak membaca buku digital (e-book). Ditambah lagi, saat ini semakin banyak cerita novel yang dapat dibaca secara daring.

"Sejak Covid itu, masyarakat banyak di rumah dan gaya hidup berubah serba online," tambahnya. 

Untuk menyiasati keadaan agar tetap bertahan sekaligus menjaga minat literasi masyarakat, mereka mau tidak mau harus beradaptasi dengan berjualan secara daring. Cara serupa diketahui juga dilakukan oleh sejumlah pedagang Pasar Buku Wilis lainnya.

"Untuk bertahan, tentu harus mengikuti perkembangan zaman dengan salah satunya berjualan online. Karena kalau jualan secara offline seperti ini tidak menentu, kadang ramai dan kadang sepi," ungkapnya.

Foto Salah satu pedagang di Pasar Buku Wilis, Agus Salim saat menunjukkan berbagai jenis buku bekas yang dijualnya, Minggu, 17 Mei 2026 (Foto : Kukuh / Ketik.com)Salah satu pedagang di Pasar Buku Wilis, Agus Salim saat menunjukkan berbagai jenis buku bekas yang dijualnya, Minggu, 17 Mei 2026 (Foto : Kukuh / Ketik.com)

Sementara itu, pedagang lainnya, Sunardi, menuturkan bahwa Pasar Buku Wilis berdiri pada tahun 2002. Tempat tersebut dibangun untuk menampung relokasi pedagang buku yang sebelumnya berjualan di Jalan Majapahit.

Dari total 68 kios yang ada, kini hanya tersisa 50 persen atau sekitar 35 pedagang yang masih aktif bertahan. Penurunan ini terjadi akibat faktor sepinya penjualan. 

"Rata-rata pengunjung yang datang per harinya sekitar 10 orang. Tetapi yang membeli buku, tidak tentu," terangnya. 

Sunardi menambahkan, Pasar Buku Wilis biasanya mulai ramai dikunjungi pada akhir pekan serta saat memasuki masa tahun ajaran baru sekolah dan perkuliahan. Pada momen-momen tersebut, banyak pengunjung yang mencari berbagai jenis buku pelajaran serta buku materi kuliah.

"Jualan buku ini ibaratnya musiman, ramainya saat akhir pekan dan saat anak-anak masuk sekolah dan kuliah. Kalau hari-hari biasa seperti ini, yang paling banyak dicari buku novel," pungkasnya.(*)

Tombol Google News

Tags:

Pasar Buku Wilis Kota Malang Hari Buku Nasional Hari Buku Pasar Buku