Tergerus Perkembangan Digital Yang Kian Pesat, Pasar Buku Velodrome Kota Malang Kian Sepi Pembeli

17 Mei 2026 08:00 17 Mei 2026 08:00

Kukuh Kurniawan, Dendy Ganda K.

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Tergerus Perkembangan Digital Yang Kian Pesat, Pasar Buku Velodrome Kota Malang Kian Sepi Pembeli

Salah satu pedagang Pasar Buku Velodrome, Mustain saat menunjukkan sejumlah koleksi buku bekas jualannya, Jumat, 15 Mei 2026 (Foto : Kukuh / Ketik.com)

KETIK, MALANG – Aktivitas penjualan buku bekas di kawasan Pasar Buku Velodrome Kota Malang kini tak seramai dulu. Di tengah perkembangan digitalisasi yang kian pesat dan maraknya penjualan buku secara daring, keberadaannya kini mulai dilupakan.

Dari pantauan Ketik.com, kondisi pasar yang terletak di Jalan Simpang Terusan Danau Sentani, Kecamatan Kedungkandang, kian memprihatinkan. Banyak pedagang yang terpaksa menutup lapaknya dan gulung tikar karena sepinya penjualan.

Salah satu pedagang, Mustain mengatakan bahwa Pasar Buku Velodrome berdiri pada tahun 2008. Tempat itu dibangun untuk menampung relokasi pedagang yang sebelumnya berjualan di Pasar Buku Jalan Sriwijaya, depan Stasiun Malang.

“Para pedagang di Pasar Buku Velodrome adalah pindahan dari Pasar Buku Jalan Sriwijaya. Setelah dipindah ke sini, ternyata kondisinya tidak terlalu ramai pengunjung,” ujarnya kepada Ketik.com, Jumat, 15 Mei 2026. 

Ia mengungkapkan bahwa Pasar Buku Velodrome sempat menikmati masa kejayaan pada medio 2010 hingga 2019. Ketika itu, masih cukup banyak pengunjung yang datang dan membeli buku.

Namun, memasuki tahun 2020 bersamaan dengan pandemi Covid-19, kondisi mulai berubah. Ditambah lagi, perkembangan digitalisasi yang semakin pesat membuat banyak anak muda lebih memilih membaca melalui gawai daripada buku, sehingga semakin menambah sunyinya Pasar Buku Velodrome.

Dengan sepinya penjualan, ia mengaku banyak rekannya sesama pedagang terpaksa gulung tikar. Dari total 71 pedagang, kini hanya tersisa sekitar 30 pedagang yang masih bertahan.

“Untungnya, kami masih terbantu dengan adanya pasar kaget yang rutin digelar setiap hari Minggu. Sehingga, masih ada pengunjung yang datang meski terkadang hanya lihat-lihat dan tidak jadi membeli,” ujarnya.

Sebagai upaya agar Pasar Buku Velodrome tetap ramai didatangi pengunjung, para pedagang menyiasatinya dengan menjual genre buku bekas yang berbeda dengan Pasar Buku Wilis.

“Kami jarang menjual buku pelajaran. Selain tiap tahun harus berganti, orang juga lebih banyak mencari buku pelajaran di Pasar Buku Wilis. Sehingga, kami harus menjual buku bekas yang berbeda dan yang diunggulkan di sini adalah komik-komik lawas dan novel,” terangnya.

Sementara itu, pedagang lainnya, Munif, juga mengungkapkan hal senada. Sepinya penjualan membuat sebagian pedagang Pasar Buku Velodrome beralih menjual sayur atau membuka warung kopi.

“Sebagian besar sudah pada tutup, dan mereka lebih berjualan tempe atau sayuran,” ungkapnya.

Meski banyak yang sudah gulung tikar, Munif mengaku masih tetap bertahan. Pasalnya, beberapa konsumen setianya terkadang masih datang untuk membeli buku.

“Beberapa mahasiswa masih banyak yang datang ke sini, baik untuk mencari novel ataupun buku motivasi diri. Mungkin karena harganya yang miring, sebab novel atau buku nonfiksi rata-rata saya jual di bawah Rp50 ribu,” tandasnya.

Tombol Google News

Tags:

Hari Buku Nasional Pasar Buku Velodrome Musta'in Penjual Buku Bekas Malang Buku Bekas Malang Info Malang Berita Malang