Dokter RSUD Darsono Pacitan Ungkap Bahaya Makanan Kekinian bagi Kesehatan Gigi

12 September 2026 18:06 12 Sep 2026 18:06

Al Ahmadi

Editor
Thumbnail Dokter RSUD Darsono Pacitan Ungkap Bahaya Makanan Kekinian bagi Kesehatan Gigi

Dokter Gigi Spesialis Penyakit Mulut RSUD dr. Darsono Pacitan sekaligus Ketua PDGI Cabang Kabupaten Pacitan, Satrya Ayu Erawatie Prayudha, mengingatkan masyarakat memperhatikan konsumsi makanan kekinian serta menjaga kebersihan gigi dan mulut pada momentum Hari Kesehatan Gigi, Sabtu, 12 September 2026. (Foto: Dok. Ketik)

KETIK, PACITAN – Peringatan Hari Kesehatan Gigi setiap 12 September menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi dan mulut.

Dokter Gigi Spesialis Penyakit Mulut RSUD dr. Darsono Pacitan, Satrya Ayu Erawatie Prayudha, Sp.PM., M.DSc, mengingatkan masyarakat agar lebih bijak mengonsumsi makanan-minuman kekinian yang umumnya minim serat dan dapat mengandung gula atau karbohidrat olahan cukup tinggi.

Tren makanan kekinian seperti minuman manis, dessert, makanan cepat saji hingga berbagai camilan dengan tekstur lembut kini semakin mudah ditemukan.

Di balik rasanya yang menarik, konsumsi makanan tersebut secara berlebihan dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan gigi.

Satrya mengungkapkan, makanan dengan kandungan gula tinggi, terutama jika dikonsumsi terlalu sering dan tidak diimbangi dengan kebersihan mulut yang baik, dapat meningkatkan risiko masalah pada gigi.

“Saat ini keluhan gigi mulut merata pada semua usia pengaruh dari makanan kekinian yang minim serat tidak diimbangi dengan konsumsi serat dan kurang oral hygiene,” ujarnya, Sabtu, 12 September 2026.

Perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua PDGI Cabang Pacitan menjelaskan, bakteri yang terdapat pada plak gigi memanfaatkan gula dari makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Proses tersebut menghasilkan asam yang dapat merusak lapisan pelindung gigi atau email.

“Jika berlangsung berulang kali, permukaan gigi dapat mengalami kerusakan hingga terbentuk lubang,” imbuhnya.

Menurut Satrya, kerusakan gigi dapat berkembang secara perlahan tanpa disadari.

Lubang kecil yang tidak mendapatkan perawatan dapat semakin dalam hingga menimbulkan keluhan seperti gigi ngilu, sakit saat mengunyah, gigi sensitif terhadap makanan panas atau dingin, bahkan sakit gigi berdenyut.

Ia menyebut gigi berlubang atau karies masih menjadi salah satu masalah kesehatan gigi yang banyak ditemukan di masyarakat Pacitan.

Tidak sedikit pasien baru datang ketika keluhan sudah semakin parah.

“Kalau secara umum lebih kepada gigi berlubang yang sering dibiarkan tidak mendapatkan perawatan sejak dini dan akhirnya tidak bisa dirawat lagi dan harus dicabut karena muncul infeksi sekunder,” katanya.

Karena itu, Satrya mengimbau masyarakat, khususnya di Pacitan, agar lebih peduli terhadap kesehatan gigi dan mulut dengan melakukan pemeriksaan secara rutin.

Pemeriksaan tersebut diperlukan agar kelainan pada gigi maupun jaringan lunak mulut dapat terdeteksi sejak dini dan mendapatkan tata laksana yang tepat.

“Yang saat ini seringnya pasien datang ke dokter gigi hanya bila ada keluhan terkait gigi dan mulutnya,” imbaunya.

Selain memperhatikan makanan, masyarakat juga perlu membenahi kebiasaan menjaga kebersihan gigi.

Satrya mengatakan masih banyak masyarakat yang terbiasa menyikat gigi saat mandi dan menganggap kebiasaan tersebut sudah cukup.

Padahal, waktu menyikat gigi yang dianjurkan adalah dua kali sehari, yakni setelah sarapan pagi dan sebelum tidur malam.

“Kebiasaan tersebut penting karena setelah sarapan, masih terdapat sisa makanan dan plak yang menempel di permukaan gigi,” jelasnya.

Konsumsi makanan yang banyak mengandung glukosa dan karbohidrat, kurang mengonsumsi sayur dan buah, serta cara menyikat gigi yang belum membersihkan seluruh permukaan gigi dengan baik juga dapat menjadi faktor yang memicu gigi berlubang.

“Sementara itu, menyikat gigi sebelum tidur menjadi waktu yang sangat penting. Saat tidur produksi air liur berkurang sehingga kemampuan alami mulut untuk membersihkan dan menetralisir asam juga menurun,” imbuhnya.

Satrya menegaskan, menyikat gigi setelah mandi bukan berarti salah.

Namun, masyarakat perlu menjadikan waktu setelah sarapan dan sebelum tidur sebagai patokan utama.

“Masyarakat perlu mengubah kebiasaan dengan menjadikan setelah sarapan dan sebelum tidur sebagai patokan utama, bukan sekadar ‘setelah mandi’ dan jangan asal menyikat gigi,” pungkasnya.(*)

Tombol Google News

Tags:

Satrya Ayu Pdgi Pacitan RSUD Darsono Kesehatan Gigi Makanan Kekinian Gigi Berlubang Karies Gigi kebersihan mulut kabupaten pacitan Berita pacitan Info Pacitan