Media Gathering Orasis Art Space, Bahas Perjalanan Seni Moelyono dalam Pameran Resisten

29 Oktober 2026 04:40 29 Okt 2026 04:40

Putri Nabilla S., Muhammad Faizin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Media Gathering Orasis Art Space, Bahas Perjalanan Seni Moelyono dalam Pameran Resisten

Suasana media gathering bersama seniman Moelyono dan kurator Wicaksono Adi di Orasis Art Space, Surabaya pada Rabu, 28 Oktober 2026. (Foto: Putri Nabilla Setiyanti/Ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Orasis Art Space menggelar media gathering pada Rabu 28 Oktober 2026 untuk memperkenalkan pameran tunggal bertajuk “Moelyono: Resisten” yang berlangsung pada 28 Oktober hingga 25 November 2026. Kegiatan ini menjadi ruang bagi media untuk mengenal lebih jauh gagasan kuratorial dan perjalanan kesenian Moelyono, seniman asal Tulungagung, Jawa Timur, yang dikenal sebagai pelopor Seni Rupa Penyadaran.

Acara diawali dengan pembukaan oleh moderator, dilanjutkan penjelasan dari kurator Wicaksono Adi mengenai gagasan dan pendekatan kuratorial dalam pameran tersebut. Ia turut menceritakan alasan memilih Moelyono sebagai seniman yang diangkat dalam pameran, terutama karena praktik keseniannya yang tidak hanya berfokus pada penciptaan karya, tetapi juga proses panjang bersama masyarakat.

Menurut Wicaksono Adi, praktik kesenian Moelyono tidak dapat dipahami hanya melalui karya yang dipamerkan di galeri. Proses berkesenian bersama masyarakat selama puluhan tahun menjadi bagian penting dari perjalanan artistiknya.

“Kerja kesenian itu bukan hanya hasilnya di galeri, tapi di baliknya ada proses itu,” ujar Wicaksono Adi saat menjelaskan pendekatan kuratorial pameran “Moelyono: Resisten”.

Setelah penjelasan kurator, Moelyono membagikan cerita mengenai perjalanan keseniannya. Setelah lulus dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 1985, ia sempat bekerja sebagai desainer grafis di Jakarta selama dua tahun. Namun, pengalaman tersebut membuatnya merasa terasing dari lingkungan sosial di sekitarnya hingga akhirnya memutuskan kembali ke Tulungagung dan terlibat dalam kegiatan bersama masyarakat.

Salah satu pengalaman yang membekas baginya adalah ketika mengajar menggambar anak-anak di kawasan Brumbun. Dari pengalaman tersebut, ia melihat bahwa seni dapat tumbuh melalui interaksi dengan lingkungan sekitar.

“Anak-anak bisa menggambar menggunakan apa pun yang ada di sekitarnya. Pakai kaki, pakai tangan, pakai ranting, pasir,” cerita Moelyono saat menjelaskan pengalamannya mengajar anak-anak di Brumbun.

Rangkaian media gathering kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada awak media untuk menggali lebih jauh proses berkesenian Moelyono dan gagasan di balik pameran. Kegiatan ditutup setelah sesi diskusi selesai.

Dalam pameran “Moelyono: Resisten”, gagasan tentang perlawanan dan pemberdayaan masyarakat dihadirkan melalui karya seni instalasi, lukisan, dan drawing. Sejumlah karya mengangkat persoalan sosial, mulai dari konflik agraria hingga perjuangan masyarakat adat dalam mempertahankan tanah dan lingkungan.

Salah satu karya yang ditampilkan adalah instalasi “Geger Pabrik Gula” yang mengangkat persoalan sosial melalui elemen kesenian ludruk. Selain itu, Moelyono menghadirkan karya kolaborasi dengan Mama Lena dari Wamena, Papua, melalui simbol noken dan Salib Merah yang merepresentasikan perlawanan masyarakat dalam mempertahankan tanah adat.

Melalui pameran ini, Moelyono menunjukkan bagaimana pengalaman berkesenian bersama masyarakat selama lebih dari empat dekade membentuk praktik artistiknya. Seni tidak hanya menjadi media ekspresi, tetapi juga ruang untuk membangun kesadaran dan menyuarakan persoalan sosial.

Pameran “Moelyono: Resisten” dibuka untuk umum mulai Kamis, 29 Oktober 2026, hingga 25 November 2026 di Orasis Art Space, Jalan Bukit Golf No. B2-25, Sambikerep, Surabaya. Pameran dapat dikunjungi setiap Selasa hingga Minggu pukul 11.00–18.00 WIB.(*)

Tombol Google News

Tags:

Orasis Art Space media gathering Seniman Moelyono