Gubernur Khofifah Raih Leadership Award Amerta Nutrition 2026 Berkat Pembangunan Gizi Jatim

27 Oktober 2026 14:27 27 Okt 2026 14:27

Putri Nabilla S., Fiqih Arfani

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Gubernur Khofifah Raih Leadership Award Amerta Nutrition 2026 Berkat Pembangunan Gizi Jatim

Poster Gubernur Khofifah Indar Parawansa meraih Leadership Award dalam Amerta Nutrition Award 2026. (Foto: Biro Adpim Setdaprov Jatim)

KETIK, SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima Leadership Award dalam Amerta Nutrition Award 2026 yang diselenggarakan oleh Jurnal Amerta Nutrition, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga Surabaya.

Penghargaan yang menjadi bagian dari rangkaian 6th Amerta Nutrition Conference (ANC) 2026 tersebut diserahkan secara daring pada pekan lalu.

Penghargaan ini diberikan sebagai apresiasi atas dedikasi Khofifah dalam memperkuat pembangunan gizi dan kesehatan masyarakat di Jawa Timur. Upaya tersebut mencakup percepatan penurunan stunting, penguatan intervensi gizi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pengembangan kolaborasi lintas sektor.

Khofifah menyampaikan terima kasih atas penghargaan tersebut. Menurutnya, apresiasi ini menjadi pengingat untuk terus memastikan pembangunan gizi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan generasi mendatang.

“Saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Jurnal Amerta Nutrition atas penganugerahan ANC 2026 Leadership Award ini. Bagi saya, penghargaan ini bukan sekadar apresiasi kepada seorang pemimpin, melainkan amanah dan pengingat bahwa pembangunan gizi merupakan fondasi penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia dan masa depan bangsa,” ujar Khofifah di Surabaya, Selasa, 27 Oktober 2026.

Ia menegaskan bahwa persoalan gizi berkaitan erat dengan pendidikan, produktivitas, kesejahteraan keluarga dan daya saing bangsa. Karena itu, investasi di bidang gizi harus menjadi prioritas melalui kebijakan dan program yang berkelanjutan.

Salah satu capaian yang menjadi pertimbangan pemberian penghargaan ialah penurunan prevalensi stunting di Jawa Timur dari 17,7 persen pada 2023 menjadi 14,7 persen pada 2024. Capaian tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan prevalensi stunting terbaik kedua secara nasional.

Khofifah menekankan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja sama berbagai pihak, mulai dari perangkat daerah, TP PKK, BKKBN, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, hingga mitra pembangunan.

Percepatan penurunan stunting dilakukan melalui intervensi terintegrasi, termasuk pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita serta edukasi gizi bagi keluarga. Upaya tersebut diperkuat melalui sejumlah inovasi, seperti konseling dari pintu ke pintu, pendampingan ibu hamil yang mengalami kurang energi kronis, serta program Jawa Timur Tanggap terhadap Ibu Hamil Risiko Stunting.

Meski demikian, Khofifah mengingatkan bahwa penurunan prevalensi stunting harus diikuti peningkatan kualitas intervensi dan pendampingan. Setiap program perlu dipastikan tepat sasaran dan memberikan manfaat berkelanjutan.

“Pesan saya, jangan sampai kita hanya mengejar penurunan angka, tetapi melupakan kualitas intervensi dan keberlanjutan hasilnya. Setiap anak harus memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat, berkembang optimal, dan terbebas dari masalah gizi,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya edukasi mengenai pola makan bergizi seimbang dan perilaku hidup sehat agar keluarga mampu memenuhi kebutuhan gizi anggotanya.

Penyelenggara turut menyoroti konsistensi Khofifah dalam mendorong sinergi pemerintah daerah, PKK, Posyandu, dan berbagai pemangku kepentingan. Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis serta penguatan tata kelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jawa Timur.

Dalam pembangunan gizi dan kesehatan masyarakat, Khofifah menekankan tiga hal utama, yakni penguatan kolaborasi lintas sektor, kebijakan berbasis data dan bukti ilmiah, serta intervensi dini yang berkelanjutan.

Menurutnya, pemerintah, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, PKK, Posyandu, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan keluarga perlu bekerja sama dengan pembagian peran yang jelas.

Selain itu, kebijakan berbasis bukti perlu didukung hasil penelitian dan inovasi. Khofifah mendorong perguruan tinggi menjembatani perkembangan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan pelayanan masyarakat.

“Hasil penelitian dan inovasi perguruan tinggi harus diterjemahkan menjadi kebijakan dan praktik pelayanan yang dapat diterapkan, diukur dampaknya, serta dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya pencegahan masalah gizi sejak remaja, calon pengantin, masa kehamilan, hingga periode seribu hari pertama kehidupan. Upaya tersebut membutuhkan kesinambungan program dan komitmen bersama agar pendampingan dapat dilakukan sejak dini.

Khofifah berharap Amerta Nutrition Conference terus memperkuat hubungan antara dunia akademik, pengambil kebijakan, dan pelaksana program di lapangan.

“Saya berharap Amerta Nutrition Conference terus menjadi ruang strategis untuk mempertemukan ilmu pengetahuan, kebijakan, dan praktik di lapangan, sehingga menghasilkan solusi konkret bagi peningkatan status gizi masyarakat,” tuturnya.

Khofifah mengajak seluruh pihak menjadikan penghargaan tersebut sebagai motivasi untuk memperkuat kolaborasi dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

“Mari kita jadikan penghargaan ini sebagai motivasi untuk bekerja lebih keras, berkolaborasi lebih erat, dan memastikan setiap kebijakan pembangunan gizi memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Karena keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas generasi yang kita siapkan untuk masa depan,” pungkas Khofifah. (*)

Tombol Google News

Tags:

Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim Pembagunan Gizi Kota Surabaya