KETIK, SLEMAN – Di usianya yang ke-110, Kabupaten Sleman menolak sekadar bersolek lewat pembangunan fisik. Dari keheningan malam tirakatan, hentakan 15 dalang, hingga gemuruh selawat ribuan jemaah di Lapangan Denggung, Sleman sedang meneguhkan laku batin: Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman. Sebuah manifesto tentang kepemimpinan yang merunduk dan warga yang nyawiji.
Deru angin malam di lereng Gunung Merapi tak mampu menyurutkan kehangatan yang menjalar di jantung Kabupaten Sleman sepanjang akhir pekan ini. Tiga malam berturut-turut, sejak Kamis hingga Sabtu (14–16 Mei 2026), Bumi Sembada larut dalam laku spiritual dan kultural yang intens. Sederet ritual ini digelar bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban seremonial ulang tahun, melainkan sebagai ruang kontemplasi massal di usia kabupaten yang kini genap 110 tahun.
Tanda-tanda bahwa perayaan tahun ini mengusung bobot magis dan filosofis yang kuat sudah terasa sejak Kamis malam 14 Mei 2026.
Malam Tirakatan: Laku Prihatin dan "Nyawiji"
Suasana khidmat menyelimuti kompleks Kantor Bupati Sleman saat pusaka tombak Kyai Turunsih mulai dikirab. Perlahan namun pasti, pusaka lambang pengayoman itu diarak menuju Pendopo Parasamya. Langkah kaki para pengiring yang senyap seolah menegaskan bahwa malam itu adalah malam mawas diri—sebuah laku prihatin.
Bupati Sleman Harda Kiswaya (kiri) menyerahkan gunungan kepada Kadis Kebudayaan Ishadi Zayid saat membuka pagelaran wayang kulit kolosal 15 Dalang di Lapangan Denggung, Sleman, Jumat malam, 15 Mei 2026. (Foto: Prokompim Slmn for Ketik.com)
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Wakil Bupati Danang Maharsa, mengingatkan bahwa esensi dari tirakatan adalah mengheningkan cipta, rasa, karsa, dan karya. Di tengah deru modernisasi, Sleman memilih bersahaja untuk mengingat kembali fondasi perjuangan para leluhur.
"Tirakatan ini merupakan sarana untuk mengolah batin agar kualitas ibadah, pekerjaan, dan hubungan sosial menjadi lebih baik dibandingkan masa lalu," pesan Harda, menggarisbawahi pentingnya transformasi spiritual aparatur negara dan warga.
Pesan itu dipertegas oleh tema besar yang diusung tahun ini: “Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman”. Sebuah frasa Jawa yang sarat makna sosiologis. Tema ini menuntut adanya semangat nyawiji (bersatu padu) dan golong gilig (kebulatan tekad) antara pemangku kebijakan dan rakyat. Pemerintah berkomitmen tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian alam dan nilai-nilai keberadaban yang mulai luntur di banyak kota besar.
Orkestrasi 15 Dalang: Ikhtiar Merawat Epik "Mahasaka"
Dua puluh empat jam setelah keheningan tirakatan, atmosfer Sleman berubah drastis menjadi panggung budaya yang kolosal. Jumat malam 15 Mei, area Parkir Utara Lapangan Denggung, Tridadi, disulap menjadi lautan manusia. Malam itu, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Sleman menggelar sebuah pertunjukan yang jarang terjadi: kolaborasi 15 dalang dalam satu panggung.
Lakon yang dibawakan adalah “Mahasaka”. Di bawah sorotan lampu dan dentuman gamelan yang dinamis, para dalang mulai dari tokoh senior seperti Ki Edi Suwondo dan Ki Agus Hadi Sugito, hingga deretan dalang muda berbakat seperti Ki Risang Aji dan Ki Zaky Kaditama—secara bergantian memainkan jemari mereka di atas kelir.
Kolaborasi ini bukan sekadar pamer ketangkasan berseni. Melalui karakter wayang, ke-15 dalang tersebut menyisipkan kritik sosial, refleksi pembangunan daerah, hingga dialog-dialog segar mengenai isu-isu terkini yang dihadapi warga Sleman. Wayang ditempatkan kembali pada khitahnya: sebagai media refleksi sekaligus kompas moral pembangunan.
Bupati Harda Kiswaya, yang hadir langsung membuka acara secara simbolis, tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya. Di atas panggung, ia menegaskan bahwa komitmen Pemkab Sleman terhadap kebudayaan tidak akan pernah bergeser.
"Kegiatan ini menjadi wujud komitmen kita dalam melestarikan dan mempromosikan budaya yang kita miliki. Pemerintah berkomitmen penuh untuk terus mendukung para pelaku seni agar kebudayaan asli daerah tidak tergerus zaman," ujar Harda malam itu, disambut riuh tepuk tangan penonton yang bertahan hingga dini hari.
Gemuruh Selawat: Keseimbangan Fisik dan Spiritual
Puncak dari trilogi perayaan ini bermuara pada Sabtu malam 16 Mei 2026. Lapangan Denggung kembali memutih. Ribuan warga dari berbagai penjuru Sleman menyemut, menghadiri agenda Pengajian dan Sholawatan yang menghadirkan dua tokoh besar: Gus Mohammad Ali Shodiqin (Gus Ali Gondrong) dengan Mafia Sholawat-nya, serta ulama kharismatik KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq).
Bupati Sleman Harda Kiswaya (kanan) menerima lentera saat prosesi ritual Malam Tirakatan Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman di Pendopo Parasamya, Sleman, Yogyakarta, Kamis 14 Mei 2026. (Foto: Prokompim Slmn for Ketik.com)
Kehadiran jajaran Forkopimda lengkap, termasuk Bupati Harda Kiswaya dan Wabup Danang Maharsa di tengah-tengah jemaah, mencairkan sekat antara birokrasi dan rakyat. Di bawah bimbingan Gus Ali Gondrong, gema selawat yang bergemuruh ritmis seolah menggetarkan langit Sleman, disusul oleh ceramah kebangsaan dari Gus Muwafiq yang mendinginkan suasana.
Bagi Pemkab Sleman, malam spiritual ini adalah penegas arah kebijakan masa depan. Harda Kiswaya memanfaatkan momentum ini untuk mengingatkan bahwa kemajuan sebuah daerah akan rapuh jika hanya diukur dari beton dan aspal.
“Kabupaten Sleman tumbuh bukan hanya maju infrastrukturnya, tetapi juga menjadi daerah yang masyarakatnya memiliki karakter kuat, akhlak yang baik, toleransi yang tinggi, dan kepedulian sosial yang kokoh,” tegas Harda di podium.
Tiga malam perayaan Hari Jadi ke-110 ini mengirimkan sinyal kuat ke luar daerah: Sleman sedang bergerak maju dengan cara memeluk erat akarnya. Melalui harmoni antara laku batin (tirakatan), pelestarian tradisi (wayang kulit), dan penguatan moral (selawat), Bumi Sembada tampaknya siap menghadapi tantangan zaman tanpa harus kehilangan jiwanya. (*)
