Tingkatkan Kapasitas Digital PR, Humas Pesantren Nurul Jadid Gandeng PWI Probolinggo

2 Juni 2026 14:46 2 Jun 2026 14:46

Ponirin, Muhammad Faizin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Tingkatkan Kapasitas Digital PR, Humas Pesantren Nurul Jadid Gandeng PWI Probolinggo

Humas dan Infokom Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, menyelenggarakan kegiatan Sekolah Kehumasan (Foto: Ponirin Mika/Ketik.co.id)

KETIK, PROBOLINGGO – Humas dan Infokom Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, menyelenggarakan kegiatan "Sekolah Kehumasan" dengan menggandeng Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Probolinggo. Kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan wawasan kehumasan digital ini digelar di Aula Mini Pesantren pada Selasa, 2 Juni 2026.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh jajaran humas dari berbagai satuan kerja di bawah naungan Pondok Pesantren Nurul Jadid, para pewarta putra dan putri pesantren, serta perwakilan humas sekolah.

Kasubbag Humas dan Infokom Pondok Pesantren Nurul Jadid, Ponirin Mika, mengungkapkan bahwa agenda ini merupakan langkah penting bagi humas pesantren untuk memperbarui strategi komunikasi di tengah dinamika era digital. Ia menekankan bahwa humas pesantren memiliki tanggung jawab moral yang besar dalam distribusi informasi kepada masyarakat.

“Kita sebagai humas dan infokom pesantren harus menjadikan media sosial sebagai media dakwah yang ramah, sejuk, dan mencerahkan. Pesantren harus aktif memproduksi konten yang tidak hanya informatif, tetapi juga sarat akan nilai moral, mampu membentengi umat dari hoaks, serta memosisikan pesantren sebagai pilar edukasi yang dipercaya masyarakat luas,” tegas Ponirin.

Acara ini menghadirkan Ketua PWI Probolinggo Raya, Babul Arifandhie, sebagai narasumber utama yang mengupas materi bertajuk Digital PR & Social Media Management. Babul memaparkan bahwa tata kelola media sosial bukan sekadar urusan administratif, melainkan strategi krusial untuk membangun reputasi dan menciptakan hubungan positif dengan publik, termasuk wali santri.

Menurut Babul, terdapat tiga fokus utama yang harus dikuasai oleh praktisi humas pesantren saat ini, antara lain:

  • Pemahaman Algoritma dan Tren Konten: Pengelola dituntut memahami karakter algoritma platform yang terus berubah, serta mengadaptasi tren terkini seperti video pendek (short video), konten autentik di balik layar (behind the scenes), dan optimalisasi Social SEO.

  • Penguasaan Copywriting: Praktisi humas didorong untuk menguasai teknik menulis persuasif untuk publikasi, seperti penerapan formula AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) dan PAS (Problem, Agitate, Solve).

  • Pemantauan Isu (Social Media Listening): Langkah mitigasi proaktif untuk mendeteksi sentimen negatif sejak dini, khususnya terkait isu sensitif di dunia pendidikan seperti perundungan atau keluhan fasilitas.

Babul memberikan penekanan khusus pada mitigasi krisis, mengingat institusi pendidikan rentan terhadap terpaan isu negatif di ruang digital. Ia mengimbau tim humas sekolah untuk melakukan pencarian manual secara terjadwal menggunakan kata kunci spesifik di platform X, TikTok, dan Instagram.

“Pantau ketat ruang komentar dan tagging secara berkala. Jangan biarkan ada komentar negatif menggantung tanpa respons selama lebih dari 2 jam di jam kerja,” arahannya.

Babul menyimpulkan bahwa konten kreatif memang efektif menarik perhatian, namun respons komunikasi yang cepat dan empati yang tuluslah yang akan mempertahankan kepercayaan jangka panjang dari para orang tua murid dan masyarakat luas. (*)

Tombol Google News

Tags:

Sekolah Kehumasan Pesantren Nurul Jadid Pwi Probolinggo