KETIK, PROBOLINGGO – Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo menginiasi Workshop Sertifikasi Musyrif. Tujuan kegiatan ini untuk memberikan pelayanan yang nyaman bagi santri. Salah satu agenda kali ini berfokus pada materi krusial yang bersentuhan langsung dengan keseharian santri, yakni seni menyusun peraturan kamar demi menciptakan lingkungan asrama yang aman, nyaman, dan edukatif. Kegiatan terseut berlangsung di aula 2 Pesantren, Sabtu, 4 Juni 2026.
Kegiatan yang berlangsung dinamis ini diikuti oleh para delegasi pengurus dari tiga pesantren lintas daerah:
-
Pondok Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo
-
Pondok Pesantren Nurul Abror, Banyuwangi
-
Pondok Pesantren Jalaluddin Ar-Rumi, Jember
Hadir sebagai pemateri, Farda Khorul Roin, S.Psi., membedah tuntas bagaimana sebuah regulasi di tingkat kamar mampu membentuk budaya disiplin dan tanggung jawab santri secara organik. Menariknya, sebelum materi dikupas, para peserta ditantang secara aktif untuk menyusun draf peraturan berdasarkan pengalaman empiris di instansi masing-masing.
Dalam pemaparannya, Farda menekankan sebuah paradigma baru: peraturan asrama sebaiknya dikonstruksikan menggunakan kalimat positif.
"Kalimat seperti 'Dilarang meletakkan barang di lantai' cenderung kurang efektif dan bernada restriktif. Bandingkan dengan kalimat 'Harap meletakkan barang sesuai tempatnya'. Itu jauh lebih mengedukasi," jelas Farda.
Lebih lanjut, ia merinci empat pilar utama dalam merumuskan regulasi asrama yang ideal:
-
Singkat dan Jelas: Mudah dipahami dalam sekali baca.
-
Aplikatif: Valid dan dapat dilaksanakan dalam realitas keseharian santri.
-
Partisipatif: Wajib melibatkan santri dalam proses penyusunannya demi menumbuhkan sense of belonging (rasa memiliki) terhadap aturan tersebut.
-
Konsekuen: Memiliki ketegasan konsekuensi yang jelas jika terjadi pelanggaran, sehingga aturan tidak sekadar menjadi "pajangan dinding" yang mati.
Materi yang segar ini langsung memantik respons antusias dari para peserta. I'anatul Maghfiroh, pengurus Wilayah Zaid Bin Tsabit Pondok Pesantren Nurul Jadid, mengaku mendapatkan validasi sekaligus wawasan baru atas apa yang selama ini telah berjalan di wilayahnya.
"Kegiatannya seru dan sarat ilmu baru. Beberapa poin yang dibahas sebenarnya sudah kami formulasikan di pesantren, seperti penerapan konsep kamar tanpa sekat, manajemen pelabelan barang, penamaan loker penyimpanan, hingga sterilisasi barang pribadi seperti sabun dan sepatu agar tidak menumpuk di dalam kamar," urainya.
Senada dengan hal tersebut, duet peserta dari Ponpes Jalaluddin Ar-Rumi Jember, Aliyatur Rofi'ah dan Qurrota Aini, melihat lokakarya ini sebagai momentum emas untuk melakukan rebooting atau penataan ulang manajemen asrama mereka.
"Kami belajar banyak tentang bagaimana memosisikan diri sebagai pengurus yang ideal sekaligus memanajemen ruang agar estetis dan tertata," ungkap mereka.
Keduanya bercerita bahwa program serupa sebenarnya pernah diinisiasi di pesantren mereka. Namun, karena estafet kepengurusan sebelumnya terputus setelah para senior lulus, implementasinya sempat berjalan kurang optimal.
Melalui momentum workshop ini, mereka optimis dapat membawa pulang formula segar untuk memperkuat dan mengoptimalkan kembali manajemen ruang yang sempat terhambat di daerah asal. (*)
