Ponpes Nurul Jadid Probolinggo Cetak Santri Berkarakter untuk Indonesia Emas

11 Juli 2026 09:54 11 Jul 2026 09:54

Ponirin, Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Ponpes Nurul Jadid Probolinggo Cetak Santri Berkarakter untuk Indonesia Emas

Pembukaan Orientasi Santri Baru PP. Nurul Jadid (Osabar) tahun ajaran baru 2026 (Foto: Ponirin Mika/Ketik.com)

KETIK, PROBOLINGGO – Di tengah arus modernisasi yang kian deras,  Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, menegaskan komitmennya mencetak generasi muda berkarakter unggul melalui pendekatan pendidikan berbasis nilai spiritual dan akhlak mulia.

Wakil Kepala Pesantren Pondok Pesantren, Gus Mohammad Imdad Robbani, menyampaikan hal itu saat membuka secara resmi Orientasi Santri Baru (Osabar) tahun ajaran baru 2026 di hadapan ribuan santri dan pengurus pesantren, Kamis, 9 Juli 2026.

Gus Imdad menegaskan bahwa pendidikan pesantren bukan sekadar mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan membentuk karakter dan jiwa generasi penerus bangsa- sejalan dengan cita-cita besar Indonesia Emas 2045.

"Pendidikan di pesantren adalah proses membentuk jiwa, bukan sekadar fisik. Sesuai dengan lagu kebangsaan kita, bangunlah jiwanya terlebih dahulu, baru bangunlah badannya," ujarnya.

Osabar tahun ini mengusung tema "Tata Niat, Bangun Tekad, Santri Hebat". Melalui tema itu, pesantren mendorong para santri baru untuk mengorientasikan seluruh aktivitas belajar mereka berlandaskan niat yang lurus, bukan semata orientasi duniawi.

"Tujuan utama kita di pondok ini adalah untuk mengaji dan mencari ilmu karena Allah. Bukan semata-mata untuk mencari ijazah, mengejar kepintaran matematika, atau sekadar mencari kerja di masa depan," tegasnya.

Pesantren ini menerapkan kurikulum terpadu yang menempatkan penguatan akidah dan ilmu fardu ain — seperti tata cara wudu, salat, pemahaman sifat-sifat Allah, dan akhlak mulia — sebagai fondasi utama.

Di atasnya, ilmu-ilmu modern seperti komputer, sains, serta bahasa asing (Arab, Inggris, dan Mandarin) diintegrasikan sebagai bekal kompetensi santri di tengah masyarakat global.

Model pendidikan semacam ini dinilai relevan dengan kebutuhan bangsa yang tengah mempersiapkan bonus demografi menuju Indonesia Emas. Santri tidak hanya dibekali kecerdasan intelektual, tetapi juga kematangan spiritual yang menjadi pondasi kepribadian.

Gus Imdad mengingatkan bahwa tidak ada ulama besar maupun tokoh hebat yang lahir dari proses belajar yang serba santai. Ia mendorong para santri untuk menjadi bagian dari solusi bangsa, bukan bagian dari masalah.

"Santri hebat adalah mereka yang memiliki kapasitas untuk menjadi solusi bagi bangsa, bukan menjadi bagian dari masalah," pungkasnya.

Kepada jajaran pengurus, Gus Imdad juga berpesan agar terus mengingatkan santri baru untuk menjaga niat di setiap aktivitas — dari belajar di kelas, mengaji, salat berjamaah, hingga kegiatan kerja bakti kebersihan lingkungan pesantren.(*)

Tombol Google News

Tags:

Nurul Jadid Tahun 2026 OSABAR