Kita sedang hidup di abad ke-21 yang menghadirkan lanskap ancaman yang jauh berbeda dibandingkan era sebelumnya. Globalisasi dan revolusi teknologi informasi telah mengaburkan batas-batas negara dan mengubah wajah perang.
Ancaman kini tidak lagi bersifat linear dan mudah diidentifikasi (seperti invasi pasukan asing), melainkan bersifat asimetris, multidimensi, dan seringkali tidak kasat mata. Tantangan Ketahanan Nasional bergeser dari fokus pertahanan teritorial semata menjadi pertahanan terhadap kelangsungan hidup bangsa dalam segala aspeknya.
Tahun 2026 merupakan peringatan ke-118 Hari Kebangkitan Nasional. Tanggal 20 Mei merupakan hari sakral dalam romantika perjuangan bangsa Indonesia. Tema peringatan kali ini “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”. Tema ini menekankan pentingnya menjaga generasi muda sebagai penerus bangsa. Salah satu pilar penjagaan generasi muda adalah Gerakan Pramuka. Organisasi ini telah mengabadikan momentum sejarah perjuangan bangsa “Kebangkitan Nasional” menjadi nama tingkatan peserta didik yaitu “Siaga” untuk anak usia 7-10 tahun.
Di abad ke-21 ini, bahwa salah satu tantangan terbesar adalah munculnya ancaman nirmiliter yang dapat melumpuhkan negara tanpa letusan satu peluru pun. Cyber Attacks terhadap infrastruktur kritis seperti perbankan, kelistrikan, dan data kependudukan dapat menciptakan kekacauan nasional dalam hitungan jam. Selain itu, ancaman ideologis berupa radikalisme dan terorisme yang menyebar melalui internet menyasar generasi muda, merusak sendi-sendi persatuan bangsa dari dalam. Ditambah bahaya peredaran narkoba yang masif juga merupakan bentuk perang candu modern yang bertujuan menghancurkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Penting kita pahami pula bahwa ketahanan pada aspek kebutuhan dasar juga menjadi isu krusial. Krisis pangan dan energi global akibat perubahan iklim dan konflik geopolitik menuntut Indonesia untuk memiliki kemandirian. Ketergantungan pada impor pangan dan energi membuat kedaulatan negara rentan didikte oleh pihak asing. Selain itu, pengalaman pandemi COVID-19 menyadarkan kita bahwa ketahanan kesehatan nasional (biosecurity) adalah bagian vital dari pertahanan negara. Kemampuan untuk memproduksi vaksin, obat-obatan, dan alat kesehatan secara mandiri adalah mutlak diperlukan untuk menghadapi ancaman wabah di masa depan.
Menghadapi ancaman nnirmiliter tidak bisa menggunakan alutsista militer seperti tank atau pesawat tempur. Diperlukan pendekatan hukum, teknologi, intelijen, dan edukasi sosial. Penguatan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) serta literasi digital masyarakat adalah strategi pertahanan utama di medan laga nirmiliter ini. Kerjasama internasional juga mutlak diperlukan karena sifat kejahatan ini yang transnasional atau lintas batas.
Presiden Prabowo dalam bukunya (Prabowo, 2023), menyatakan “Perang asimetris adalah peperangan antara pihak yang memiliki kekuatan tidak seimbang, di mana pihak yang lebih lemah menggunakan cara-cara tak lazim (gerilya, teror, propaganda) untuk melawan kekuatan besar. Sedangkan proxy war adalah perang boneka di mana kekuatan besar tidak berhadapan langsung, tetapi menggunakan pihak ketiga (aktor non-negara, LSM, kelompok separatis) untuk melemahkan lawan.
Stabilitas sosial politik akan mudah goyah jika ketahanan pangan dan energi tidak cukup. Ancaman krisis pangan global akibat perubahan iklim mengharuskan Indonesia memperkuat diversifikasi pangan dan tidak bergantung pada beras impor. Di sektor energi, transisi ke energi terbarukan bukan hanya soal isu lingkungan, tetapi strategi keamanan energi agar tidak tersandera oleh fluktuasi harga minyak dunia. Sejatinya ketahanan pangan dan energi adalah pilar kemandirian ekonomi.
Health security menjadi dimensi baru yang sangat strategis pasca-pandemi. Kemampuan mendeteksi, mencegah, dan merespons wabah penyakit adalah bagian dari pertahanan negara. Ketergantungan bahan baku obat dari impor adalah celah kerawanan yang harus segera ditutup melalui pengembangan industri farmasi nasional berbasis kemandirian.
Strategi penguatan Ketahanan Nasional di masa kini harus berfokus pada pembangunan kualitas manusia. Manusia adalah subjek sekaligus objek Ketahanan Nasional. Generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan menguasai teknologi adalah alutsista paling canggih yang dimiliki bangsa. Sistem pendidikan harus diarahkan untuk mencetak warga negara yang tidak hanya kompeten secara akademis, tetapi juga memiliki wawasan kebangsaan yang kokoh. Program-program di kampus dapat diintegrasikan dengan muatan Bela Negara untuk membangun karakter kepemimpinan dan kepedulian sosial.
Tantangan abad ke-21 didominasi oleh ancaman nirmiliter seperti siber, narkoba, terorisme, serta perang asimetris dan proxy war yang menyasar sendi-sendi kehidupan bangsa. Semangat kebangkitan nasional harus menjadi momentum untuk kembali menguatkan akar persatuan kita bukan jargon semata. Sementara Gerakan Pramuka sebagai organisasi yang menyelenggarakan pendidikan kepramukaan dengan bidang garap penguatan karakter adalah alternatif terbaik untuk menyiapkan generasi muda menuju Era kencana rusmini, Indonesia Emas 2045. Frasa “…disanalah aku berdiri jadi Pandu ibuku” adalah untaian kata bermakna warisan WR. Supratman yang harus dirawat dan diimplementasikan. “Pandu” memberikan makna disiplin, pengabdian tanpa syarat, keberanian melawan arus, dan cinta tanah air yang tak pernah padam. Inilah yang harus kita tanamkan dalam sanubari masing-masing sebagai bentuk memiliki jiwa “kebangkitan nasional”. Jayalah Indonesiaku.
*) Dr. Muchamad Taufiq, S.H.,M.H adalah Akademisi ITB Widya Gama Lumajang dan Waka Orgakum Kwarda Gerakan Pramuka Jawa Timur.
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
