Saya bertemu Deska Nur Pavitra tanpa rencana untuk menulis tentang masa depan. Ia mahasiswa semester lima di sebuah universitas besar di Surabaya. Berasal dari sebuah desa di Bojonegoro. Kini ia hidup sebagai anak kos di Surabaya Barat.
Di sela kuliahnya, Deska bekerja paruh waktu di sebuah usaha pencucian sepatu, tas, dan koper. Tangannya mungkin lebih sering bersentuhan dengan sepatu kotor daripada meja kantor. Ia belum mengenakan toga. Belum memegang ijazah. Belum pula tahu, kelak setelah lulus akan bekerja menjadi apa.
Tetapi ketika berbincang dengannya, ada satu kalimat yang membuat saya lama berpikir. “Masa depan saya mulai dari saat ini. Saya tidak tahu ke depan seperti apa. Tapi saya harus bekerja.”
Sederhana sekali. Namun mungkin justru itulah salah satu pelajaran penting tentang hidup. Deska tidak malu bekerja. Ia tidak merasa harga dirinya turun hanya karena kuliah di universitas besar tetapi bekerja mencuci sepatu, tas, dan koper. Ia juga tidak menunggu sarjana untuk mulai mengenal kehidupan.
Bagi saya, di situlah letak keberaniannya. Di tengah zaman ketika orang mudah memperlihatkan keberhasilan, ada anak muda yang bersedia menjalani proses tanpa perlu terlihat hebat.
Jangan Malu Memulai dari Bawah
Saya ingin kisah Deska dibaca anak-anak muda. Terutama mereka yang hari-hari ini sedang gelisah melihat masa depan. Mungkin sedang kuliah tetapi tidak tahu setelah lulus akan ke mana. Mungkin sudah sarjana tetapi belum mendapat pekerjaan. Mungkin sudah puluhan kali mengirim lamaran dan belum satu pun mendapat jawaban. Mungkin melihat teman-temannya di media sosial sudah bekerja, menikah, memiliki kendaraan, bepergian ke berbagai tempat, sementara dirinya merasa masih berjalan di tempat.
Jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa hidupmu gagal. Dan jangan terlalu sibuk membandingkan halaman pertama perjalananmu dengan halaman kesepuluh kehidupan orang lain.
Hidup tidak selalu dimulai dari ruang berpendingin udara. Tidak selalu dari meja yang bertuliskan jabatan. Kadang hidup dimulai dari kios kecil. Dari menjadi pekerja paruh waktu. Dari berjualan. Dari menerima proyek sederhana. Dari membantu usaha orang lain. Bahkan mungkin dari mencuci sepatu. Yang penting adalah bergerak. Sebab pekerjaan kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh jauh lebih berharga daripada cita-cita besar yang hanya terus dibicarakan.
Jangan malas. Jangan gengsi. Srta jangan terlalu mudah menyerah.Gelar sarjana seharusnya membuat seseorang semakin mampu belajar, bukan semakin pemilih terhadap pekerjaan.
Dunia Tidak Sedang Menunggu Kita
Tetapi sesungguhnya, saya juga tidak ingin menyederhanakan masalah dengan mengatakan bahwa semua bergantung kepada anak muda. Dunia kerja memang sedang berubah. Teknologi, kecerdasan buatan, otomatisasi, ekonomi digital, dan pekerjaan berbasis proyek sedang mengubah cara manusia bekerja.
Ada pekerjaan lama yang berkurang. Ada profesi baru yang muncul. Ada pekerjaan yang tetap bernama sama, tetapi membutuhkan kemampuan yang berbeda. Karena itu kita tidak bisa terus mendidik anak-anak dengan satu kalimat lama:“Sekolah yang tinggi supaya mudah mendapat pekerjaan.”
Sekolah tinggi tetap penting. Pendidikan tetap sangat penting. Tetapi barangkali kalimatnya harus dilanjutkan: “Belajarlah setinggi mungkin agar mampu menghadapi perubahan, menciptakan sesuatu, dan menyelesaikan persoalan”.
Masa depan tidak hanya membutuhkan orang yang mempunyai ijazah. Masa depan membutuhkan manusia yang mau belajar lagi setelah memperoleh ijazah. Membutuhkan orang yang kreatif, adaptif, mampu bekerja bersama, memahami teknologi, dapat berkomunikasi, dan berani memulai. Karena dunia tidak sedang menunggu kita siap.
Negara dan Kampus Jangan Tinggal Diam
Di sinilah kegelisahan saya menjadi lebih besar. Kita tidak boleh hanya menyuruh anak muda bekerja keras sementara negara berjalan seperti biasa. Kita tidak boleh berkata kepada mereka, “Jadilah kreatif,” tetapi ekosistem usaha dipersulit.
Jangan menyuruh mereka menjadi wirausaha apabila akses modal, pasar, pendampingan, dan perlindungannya tidak tersedia. Jangan menyuruh mereka meningkatkan keterampilan tetapi pelatihan kerja hanya berakhir menjadi sertifikat yang disimpan di dalam map.
Negara harus berani membaca masa depan pekerjaan. Industri apa yang akan tumbuh sepuluh tahun mendatang? Keahlian apa yang akan dibutuhkan? Bagaimana lulusan sekolah dan perguruan tinggi dipersiapkan untuk masuk ke sana? Bagaimana usaha kecil dapat naik kelas dan menciptakan pekerjaan? Bagaimana desa-desa seperti tempat Deska berasal tidak hanya mengirim anak mudanya ke kota, tetapi juga mampu menciptakan kesempatan hidup di daerahnya sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan itu harus menjadi pekerjaan serius negara. Lembaga pendidikan dan kampus pun demikian. Jangan sampai mahasiswa sibuk mengumpulkan SKS tetapi gagap menghadapi kehidupan.
Kurikulum tidak boleh hanya penuh teori dan ujian. Mahasiswa perlu lebih banyak bertemu kenyataan. Bekerja bersama masyarakat.Mendampingi UMKM. Masuk ke industri. Membuat proyek. Memecahkan persoalan. Belajar menghadapi gagal. Belajar bernegosiasi. Belajar menghasilkan sesuatu yang dapat digunakan orang lain.
Universitas bukan pabrik pencetak ijazah. Universitas seharusnya menjadi tempat anak muda belajar berdiri menghadapi ketidakpastian.
Jangan Takut kepada Masa Depan
Kita juga sebagai orang tua perlu berubah. Jangan selalu mengukur keberhasilan anak dari jabatan. Jangan malu ketika anak sarjana berjualan. Jangan terburu-buru bertanya, “Kapan diterima kerja?” Karena, terkadang pertanyaan-pertanyaan seperti itu justru menambah berat beban anak-anak kita.
Lebih baik bertanya: Apa yang sedang kamu pelajari? Apa yang sedang kamu coba? Apa yang bisa kami bantu agar kamu terus bergerak?
Saya kembali teringat Deska. Seorang anak desa dari Bojonegoro. Datang ke Surabaya untuk kuliah. Tinggal di kamar kos. Belajar pada siang hari, bekerja ketika ada kesempatan. Ia belum tahu pasti bagaimana masa depannya. Bukankah sesungguhnya kita semua juga demikian?
Tidak seorang pun benar-benar tahu lima atau sepuluh tahun lagi akan menjadi apa. Perbedaannya hanya satu. Ada orang yang menunggu masa depan datang. Ada pula yang mulai menjemputnya sejak hari ini.
Saya berharap anak-anak muda memilih yang kedua. Bekerjalah. Belajarlah. Jangan gengsi memulai dari bawah. Jangan takut gagal. Jangan malas memperbaiki diri.
Tetapi kepada negara, kampus, dunia usaha, dan kita semua yang lebih dewasa, jangan hanya meminta mereka kuat. Tugas kita adalah memastikan perjuangan anak muda tidak berlangsung sendirian. Karena masa depan bangsa bukan hanya soal seberapa hebat generasi mudanya bermimpi.
Masa depan bangsa juga ditentukan oleh seberapa sungguh-sungguh kita menyediakan jalan agar mimpi itu dapat diperjuangkan. Karenanya saya meyakini bahwa ucapan Deska benar: “Masa depan tidak dimulai setelah wisuda. Masa depan dimulai hari ini.”
*) Suko Widodo merupakan Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia – Jawa Timur
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
