Begini Sistem Kuliah di China, Mahasiswa Wajib Tinggal di Asrama dan Aktif di Kampus

19 Juli 2026 05:05 19 Jul 2026 05:05

Moh. Faiz, Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Begini Sistem Kuliah di China, Mahasiswa Wajib Tinggal di Asrama dan Aktif di Kampus

Alwi mengenalkan alat musik Angklung, alat Musik Tradisional dari Jawa Barat kepada mahasiswa. (Foto: Dukumentasi Pribadi Alwi)

KETIK, MALANG – Sistem pendidikan di China memiliki beberapa perbedaan dengan Indonesia. Tinggal di asrama dan budaya tekun belajar menjadi dua hal yang paling membekas bagi Alwi Arifin selama menempuh pendidikan tinggi di China.

Dosen asal Indonesia yang kini mengajar di Fujian Polytechnic Normal University itu meyakini hal tersebut sebagai bagian dari sistem pendidikan yang membentuk kedisiplinan mahasiswa.

“Yang paling mencolok adalah sistem mengelola pendidikannya. Semua mahasiswa S1 dan S2 wajib tinggal di asrama kampus,” jelas Alwi.

Menurut Alwi, kehidupan memberikan dorongan untuk berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai daerah dan negara. Lingkungan ini menjadi ruang untuk belajar hidup bersama sekaligus memahami perbedaan budaya.

Selain itu, budaya belajar di China juga meninggalkan kesan tersendiri. Ia mengutarakan bahwa ruang baca perpustakaan telah penuh sejak pukul 06.00 hingga tutup pada pukul 22.00.

“Perpustakaan selalu penuh dari jam buka sampai jam tutup,” ujarnya.

Tak hanya berfokus pada prestasi akademik, kampus di China juga mendorong mahasiswa aktif mengikuti kegiatan nonakademik. Berbagai organisasi, kegiatan sukarela, hingga ekstrakurikuler menjadi bagian dari proses pembelajaran dan dapat memberikan nilai tambahan bagi mahasiswa.

“Kampus memberikan apresiasi kepada mahasiswa yang aktif mengikuti kegiatan nonakademik. Jadi mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga didorong mengembangkan kemampuan organisasi, komunikasi, dan kepemimpinan,” jelasnya

Meski demikian, ia mengakui proses adaptasi pada awal kedatangannya di China tidak selalu mudah. Kendala bahasa, budaya makan, hingga cara masyarakat berkomunikasi sempat menjadi tantangan. Namun, ia memilih beradaptasi dengan lingkungan sekitar tanpa meninggalkan nilai dan prinsip yang diyakininya.

“Mahasiswa dibuat saling berkomunikasi dengan mahasiswa dari negara lain. Jadi, selain belajar di kelas, kami juga belajar memahami budaya dan cara berpikir yang berbeda,” tuturnya.

Alwi menilai setiap negara memiliki keunggulan dalam sistem pendidikannya masing-masing. Ia berharap semakin banyak pelajar Indonesia yang berani memanfaatkan kesempatan belajar di luar negeri untuk memperluas pengalaman akademik maupun budaya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Student Exchanges Kuliah Luar Ngeri