KETIK, SURABAYA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok 30 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar Sosialisai Gerakan Desa Menanam Mandiri (Gemari) di Balai Desa Gemarang Desa Gemarang Kabupaten Ngawi pada Sabtu, 19 Juli 2026.
Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja dari kelompok KKN 30 yang mengusung tema Kesehatan Lingkungan, dengan cara memanfaatkan barang bekas sebagai media tanam pada tanaman tersebut.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Gemarang, Sunarni menjelaskan bahwa, pemaparkan program kerja penanganan kebersihan lingkungan yang akan dilaksanakan di Desa Gemarang, khususnya di Dusun Ngadiluweh dan Ngadirejo.
Menurutnya sangat penting agar masyarakat dapat memahami cara kerja yang perlu dilakukan untuk mendukung kegiatan tersebut.
“Adik-adik mahasiswa apa program kerjanya minimal karena panjenengan nanti yang memberikan bantuan atau penyelesaisan tentang penanganan kebersihan lingkungan di desa gemarang khususnya di dusun ngadiluweh dan ngadirejo maka nanti sampaikanlah program itu kepada kami sebagai masyarakat apa yang harus kami laksanakan,”jelasnya.
Program Gemari ini merupakan inisiatif pemberdayaan masyarakat yang mendorong pemanfaatan lahan pekarangan sebagai area budidaya tanaman produktif.
Melalui program ini, masyarakat diajak untuk menanam berbagai bahan pangan, seperti cabai, tomat, terong, dan aneka sayuran, guna memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga secara mandiri.
Selain memperkuat ketahanan pangan rumah tangga, program ini dapat mengedukasi masyarakat untuk memanfaatkan barang bekas sebagai media tanam sehingga dapat mengurangi timbunan sampah anorganik.
Pemanfaatan pekarangan secara optimal mampu meminimalisir pengeluaran keluarga untuk membeli bahan pangan sekaligus mewujukan lingkungan yang lebih sehat dan bersih.
Program Gemari ini menggabungkan pengelolaan sampah organik dengan budidaya tanaman hemat air sebagai solusi untuk mendukung terciptanya lingkungan yang bersih dan berkelanjutan.
Oleh karena itu, sampah organik rumah tangga dapat diolah menggunakan Lubang Resapan Biopori (LRB) hingga menjadi kompos yang kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk organik bagi tanaman.
Inovasi tersebut tidak hanya membantu mengurangi timbunan sampah organik yang berakhir di tempat pembuangan sampah, melainkan meningkatkan daya resap air ke dalam tanah.
Melalui program tersebut, masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya pengelolaan lingkungan dan kemandirian pangan berbasis potensi yang dimiliki setiap rumah tangga.(*)
.png)