KETIK, SURABAYA – Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) terus memantau perkembangan El Nino di wilayah Jawa Timur pada bulan Juli 2026.
El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang menyebabkan berkurangnya pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, sehingga meningkatkan risiko musim kemarau yang lebih kering dan panjang.
Salah satu dampak El Niño adalah meningkatnya risiko kekeringan yang dapat mengganggu sektor pertanian dan berpotensi menurunkan hasil panen.
“BMKG memprediksi bahwa fenomena El Nino aktif pada pertengahan 2026 hingga awal 2027. Sementara fenomena La Nina sudah terjadi sejak 2025 lalu,” kata Siska Anggraeni, Prakirawan BMKG Stasiun Juanda, Sidoarjo kepada Ketik.com, Jumat, 17 Juli 2026.
BMKG juga terus memantau perkembangan ENSO (El Niño-Southern Oscillation), salah satu indikator utama yang memengaruhi variabilitas iklim global.
“BMKG memprediksi El Nino tahun 2026 akan mencapai level kuat. Karena itu, perlu mengantisipasi terjadinya kekeringan,” jelas Siska.
Menghadapi musim kemarau, BMKG merekomendasikan ke instansi terkait dan masyarakat untuk mengambil langkah-langkah bila terjadi kekeringan.
Di antaranya pada sektor pangan agar menyesuaikan jadwal tanam. Salah satunya menggunakan varietas bibit yang hemat air dan tahan kekeringan.
Pada sektor energi, diharapkan kapasitas air bendungan dipastikan tetap aman guna mendukung operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Sementara pada sektor kesehatan, pemerintah daerah diminta menyiapkan respons cepat dalam mengantisipasi penurunan kualitas udara. Sebab, udara yang kurang baik dapat memicu peningkatan kasus ISPA.(*)
.png)