Demo Ricuh di Jogja Enam Mahasiswa Terluka, UGM Buka Suara

2 September 2026 22:57 2 Sep 2026 22:57

Fajar Rianto, Al Ahmadi

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Demo Ricuh di Jogja Enam Mahasiswa Terluka, UGM Buka Suara

Jajaran Kepolisian Resor Kota Yogyakarta mencoba menenangkan kerumunan massa dan melakukan penyekatan di tengah eskalasi ketegangan aksi demonstrasi di Simpang Empat Gramedia. (Foto: Ria for Ketik.com)

KETIK, YOGYAKARTA – Universitas Gadjah Mada (UGM) menyatakan komitmen penuh untuk mengawal serta melindungi seluruh mahasiswa yang menjadi korban aksi kekerasan. Insiden tersebut terjadi dalam gelombang demonstrasi di pusat Kota Yogyakarta.

Peristiwa mencekam yang menyebabkan enam mahasiswa dilarikan ke rumah sakit ini memicu respons tajam dari civitas akademika UGM. Otoritas kampus menilai bahwa bentrokan fisik, aksi anarkis kelompok tertentu, serta minimnya jaminan perlindungan dari aparat keamanan merupakan cerminan buruk. Kejadian seperti ini tidak boleh terulang kembali dalam ruang demokrasi yang sehat dan terbuka.

Sikap Tegas UGM: Kebebasan Beraspirasi

Foto Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM Dr Arie Sudjito (kanan) didampingi Direktur Kemahasiswaan UGM Dr Hempri Suyatna memberikan keterangan terkait kekerasan terhadap mahasiswa saat aksi di Simpang Gramedia. (Foto: Ria for Ketik.com)Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM Dr Arie Sudjito (kanan) didampingi Direktur Kemahasiswaan UGM Dr Hempri Suyatna memberikan keterangan terkait kekerasan terhadap mahasiswa saat aksi di Simpang Gramedia. (Foto: Ria for Ketik.com)

Merespons peristiwa tragis tersebut pada Rabu 2 September 2026, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr Arie Sudjito, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi fisik dan psikologis para mahasiswa korban luka. Saat memberikan keterangan langsung di Gedung Pusat UGM, Arie Sudjito mengingatkan kewajiban kepolisian secara konstitusional dan hukum untuk menjamin keselamatan seluruh peserta aksi damai tanpa pengecualian.

"Dari situ terdapat aparat kepolisian yang memiliki tanggung jawab untuk melindungi mahasiswa dan masyarakat secara keseluruhan. Ini adalah bagian dari tanggung jawab dan memang secara hukum harus dilakukan," tegas Arie Sudjito.

Lebih jauh, Arie Sudjito menyoroti peran strategis mahasiswa sebagai kelompok intelektual muda dan aktivis. Mereka memiliki kepekaan sosial tinggi serta kebebasan murni untuk bersikap kritis terhadap situasi negara. Ia mengecam keras segala bentuk intimidasi, kekerasan verbal, maupun kekerasan fisik untuk membendung pemikiran logis dan idealisme mahasiswa. Menurutnya, tindakan represif dan perbenturan fisik di lapangan hanya menimbulkan kerugian besar bagi semua pihak tanpa menyelesaikan akar masalah.

"Saya berharap mahasiswa sebagai kaum intelektual, aktivis yang punya idealisme, punya kepekaan terhadap situasi. Saya juga berharap pimpinan universitas sama-sama memiliki itu sekarang dan ke depan. Saya berharap Yogyakarta anti kekerasan. Yogyakarta terus mencerminkan kebebasan orang mengekspresikan dan menyampaikan sesuatu dalam melihat situasi sosial. Saya percaya bahwa komitmen itu harus dijaga. Jogja anti teror, Jogja anti kekerasan, dan biarkan masyarakat atau mahasiswa yang beraspirasi," pungkas Dr Arie Sudjito meyakinkan.

Di sisi lain, Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr Hempri Suyatna, turun langsung memantau kondisi di lapangan sejak sore hari. Ia juga mengawal proses evakuasi para korban ke RS Panti Rapih. Hempri Suyatna membeberkan fakta bahwa massa aksi mahasiswa sebenarnya bergerak secara tertib, damai, dan tidak pernah melakukan tindakan provokatif.

"Yang terkena Adik-adik tidak anarkis, tidak ribut, dan sebagainya. Tapi kemudian terbentur dengan tindakan-tindakan yang kemudian ya anarkis dan sebagainya. Ini saya kira jadi sebuah antisipasi kita untuk depannya dan untuk lebih berhati-hati bagaimana kemudian pihak keamanan seharusnya melindungi bagi teman-teman mahasiswa," ujar Hempri Suyatna.

Hempri Suyatna merinci ada enam mahasiswa yang menjadi korban luka-luka dalam insiden malam itu. Korban terdiri dari lima mahasiswa UGM dan satu mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Berdasarkan hasil pemeriksaan awal di RS Panti Rapih, para korban mengalami luka memar di beberapa bagian tubuh, sesak napas, luka akibat dugaan pukulan dan tendangan benda tumpul, hingga paparan semprotan kimia di area mata dan wajah.

Setelah mendapatkan penanganan medis intensif dari tim dokter dengan pendampingan Direktorat Kemahasiswaan UGM, seluruh korban diperbolehkan pulang pada Rabu dini hari sekitar pukul 01.00 WIB.

Aksi Damai Berakhir Ricuh

Foto Barikade aparat kepolisian dengan perlengkapan huru-hara siaga mengamankan ruas jalan persimpangan Gramedia saat situasi massa mulai memanas pada malam hari. (Foto: Ria for Ketik.com)Barikade aparat kepolisian dengan perlengkapan huru-hara siaga mengamankan ruas jalan persimpangan Gramedia saat situasi massa mulai memanas pada malam hari. (Foto: Ria for Ketik.com)

Pernyataan keras dan evaluasi dari perwakilan resmi UGM tersebut berakar pada rentetan aksi massa Aliansi Masyarakat Sipil pada Selasa 1 September 2026. Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta berkumpul di kawasan Wisma Kagama sekitar pukul 16.30 WIB. Membawa spanduk tuntutan dan menyuarakan seruan perubahan sosial, mereka berjalan kaki menuju titik aksi di Simpang Empat Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman.

Menurut perwakilan massa aksi dari UPN Veteran Yogyakarta, Risyad, bersama Mesa dari UGM, kawasan Simpang Gramedia sengaja dipilih sebagai ruang mimbar bebas karena lokasinya sangat strategis di pusat Kota Yogyakarta. Langkah ini diambil untuk menjangkau perhatian masyarakat luas dan menyuarakan keresahan warga. Sepanjang sore, massa aksi secara bergantian menyampaikan orasi ilmiah serta kritik terbuka terkait kebijakan nasional, seperti pemotongan anggaran pendidikan, pola penanganan bencana daerah, hingga evaluasi program prioritas pemerintah pusat.

"Perempatan Gramedia ini merupakan titik vital dan harapannya apa yang diaspirasikan, apa yang jadi keresahan ini juga bisa mewakili dan juga menyuarakan orang-orang yang tidak bisa melakukan aksi karena dituntut oleh pekerjaannya, kondisi ekonomi, kebijakan, regulasi, dan banyak pengabaian negara terhadap masyarakat," tegas Risyad di tengah massa.

Aksi yang membentuk lingkaran besar di perempatan jalan tersebut awalnya berjalan sangat kondusif dan damai. Namun memasuki malam hari, atmosfer di lokasi berubah keruh dan tegang. Berdasarkan catatan kronologi dan pemantauan pihak UGM, bentuk provokasi awal mulai bermunculan sekitar pukul 19.00 WIB dari kelompok masyarakat di luar barisan resmi mahasiswa. Situasi sempat berhasil ditenangkan oleh panitia aksi sekitar pukul 19.30 WIB, tetapi eskalasi ketegangan justru merangkak naik saat malam semakin larut.

Antara pukul 20.28 WIB hingga 21.01 WIB, ketegangan fisik meningkat tajam. Sekelompok orang berpakaian sipil mendatangi massa aksi dari arah selatan dan mulai mendorong barisan. Mengantisipasi bentrokan yang membesar,

Kabag Ops Polresta Yogyakarta, Kompol Sumalugi, memberikan instruksi lewat pengeras suara agar kelompok warga di luar barisan mahasiswa dan polisi segera menarik diri.

"Saya minta rekan-rekan warga yang selain anggota Kepolisian Republik Indonesia, saya minta mundur. Ini mahasiswa sudah bersedia untuk kembali dan minta dikawal. Proses ini kita bantu sama-sama supaya berjalan dengan baik," tegas Kompol Sumalugi di lokasi kejadian.

Di tengah situasi tegang, upaya diplomasi informal sempat diupayakan oleh perwakilan warga setempat. Ia meminta mahasiswa menyepakati penghentian aksi secara damai guna mengantisipasi jatuh korban lebih banyak.

"Tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah! Semua kalah kalau ricuh! Ini kan anak-anak kita, adik-adik kita sendiri. Ngapain harus bentrok dengan warga?" seru warga tersebut dalam ruang perdebatan terbuka di tengah jalan.

Namun dialog tersebut menemui jalan buntu setelah perwakilan mahasiswa mempertanyakan integritas dan pemahaman warga terkait substansi tuntutan aksi. Massa menilai sulit mempercayai klaim representasi masyarakat dari pihak yang tidak mengetahui latar belakang aksi sejak sore hari.

Puncak kericuhan akhirnya meletus ketika massa mahasiswa memutuskan membubarkan diri secara bergelombang dan bergerak mundur ke arah utara sekitar pukul 21.52 WIB. Saat mahasiswa berusaha menjaga barisan tetap tertib sambil menyerukan pesan kedamaian, kelompok massa dari arah selatan mendadak menyeruak dan melakukan penghadangan secara anarkis.

Keributan hebat meletus seketika pada pukul 21.58 WIB. Kejadian ditandai dengan pemukulan mundur, aksi saling dorong secara kasar, hingga pelemparan serbuk merica yang melukai mata para peserta aksi. Di tengah kepanikan tersebut, sejumlah peserta aksi mengaku mendapatkan ancaman verbal serta menduga ada pihak lawan yang membawa senjata tajam saat mendesak barisan mahasiswa.

"Dari tadi kami merasa terancam, Pak. Dari sana ada yang ngomong bunuh, ada yang ngomong bawa senjata tajam," adu salah seorang peserta aksi kepada aparat kepolisian di lokasi.

Massa aksi yang terdesak akhirnya terpecah dan membubarkan diri ke berbagai penjuru kawasan terdekat. Aparat kepolisian baru berhasil membuka barikade jalan secara menyeluruh dan memulihkan arus lalu lintas dari Jalan Solo menuju Tugu Yogyakarta sekitar pukul 22.20 WIB, meninggalkan catatan kelam bagi perlindungan kebebasan sipil dan berekspresi di Kota Pelajar. (*)

Tombol Google News

Tags:

Aksi Jogja Simpang Gramedia Aksi Mahasiswa Kekerasan Mahasiswa aksi premanisme Aparat Kepolisian Ugm Pasang Badan Kebebasan Beraspirasi Mahasiswa Terluka Arie Sudjito Panti Rapih Aliansi Masyarakat Sipil