KETIK, PALEMBANG – Alam Indonesia kembali mengirim sinyal bahaya. Ikan Tempalo (Betta sp.)—pesona cupang liar endemik yang mendiami rawa gambut Sumatera, Kalimantan, hingga Bangka Belitung—kini berada di ambang kepunahan massal. Serangan ganda dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta ekspansi perkebunan kelapa sawit secara perlahan menghancurkan rumah asli sang "penghuni air hitam".
Pengeringan lahan melalui kanal drainase skala besar tak hanya menguras air, tetapi juga merusak keasaman (pH) dan kualitas ekosistem gambut yang menjadi syarat mutlak hidup Tempalo. Tanpa konservasi darurat, maskot perairan nusantara ini diprediksi akan punah dari alam liar dalam hitungan tahun.
Jeritan dari Rawa Gambut Sumatera Selatan
Kondisi kritis ini diakui langsung oleh Kepala Pangkalan PSDKP Batam melalui Koordinator Satuan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Satwas SDKP) Palembang, Robiyanto Tanum, S.Pi. Ia menyoroti populasi Tempalo lebak (Betta anabatoides) di Sumatera Selatan yang sudah pada taraf mengkhawatirkan.
"Dulu Tempalo lebak sangat mudah ditemui di rawa gambut Ogan Ilir, OKI, Banyuasin, MUBA, hingga Muara Enim. Keberadaannya makin langka sejak rawa disulap jadi perkebunan dan terus terbakar tiap kemarau," ungkap Robi, Minggu (13/9/2026).
Padahal, Sumsel adalah surga puluhan ikan hias eksotis yang diburu penghobi dunia—mulai dari Botia, Lais Palembang, Buntal Palembang, Belida, Channa Serandang, Sili Api, hingga Tiger Fish Sumatera (Ringau) yang sedang viral. Sayang, popularitas mereka tak sebanding dengan keselamatan habitatnya.
"Maraknya pembukaan lahan dengan cara dibakar, penggunaan setrum dan racun ilegal, serta pencemaran air membuat posisi mereka makin terdesak," tambah Robi prihatin, meski warga lokal sebenarnya sudah berupaya menjaga ekosistem lewat kearifan lokal sistem Lebak Lebung.
Krisis Ekologis Mengintai Nusantara
Ancaman ini berantai dan membayangi wilayah lain di Indonesia:
- Sumatera & Riau: Habitat utama Betta pugnax di aliran sungai tenang Jambi, Riau, dan Sumsel kian menyusut.
- Bangka Belitung: Betta burdigala (Tempalak Merah), Betta schalleri (Tempalak Pungor), dan Betta chloropharynx berada di titik nadir krisis.
- Kalimantan: Rumah bagi Betta channoides di Kaltim menghadapi trauma ekologis serupa akibat pengeringan rawa.
Baku Hantam Melawan Api di Garis Depan
Di tengah ancaman krisis keanekaragaman hayati ini, tim gabungan karhutla dari Manggala Agni, TNI, Polri, masyarakat Sumsel, dan instansi terkait terus berjibaku memadamkan api di kawasan rawa gambut.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (BPKHL) Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan, Ferdian Kristanto, mengonfirmasi bahwa personel Manggala Agni tanpa henti melakukan pemadaman di sejumlah titik krusial:
- Suaka Margasatwa Padang Sugihan
- Area Pangkalan Lampam, OKI (Sungai Bungin)
- Kebun Raya Sriwijaya
- Area Muara Medak, MUBA
- Area Sungai Rotan, Muara Enim
- Area Ogan Ilir (pemadaman di Sungai Rambutan bahkan berlangsung hingga dini hari)
"Mengingat operasi ini berjalan panjang, kami terus mengatur rotasi pasukan, pasokan logistik, dan vitamin daya tahan tubuh. Terima kasih juga kepada tim medis dan awak media yang terus menjadi supporting system serta menjaga asa kami di lapangan," tutur Ferdi.
Jika pemulihan gambut dan penghentian pembakaran lahan tidak segera dilakukan secara masif, Indonesia harus bersiap kehilangan salah satu keanekaragaman hayati tercantiknya untuk selamanya. (*)
