KETIK, JAWA TIMUR – Sebanyak 14 guru SMK Jawa Timur (Jatim) terpilih mengikuti Program Magang Luar Negeri ke Jerman. Magang yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama LPDP ini merupakan Guru SMK negeri dan swasta.
Dari total 50 guru SMK terpilih se-Indonesia, sebanyak 14 orang atau sekitar 28 persen berasal dari Jawa Timur. Ia akan menjalani program peningkatan kompetensi di Festo Didactic serta Technische Universität Dresden (TU Dresden).
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini menunjukkan kualitas guru vokasi Jawa Timur mampu bersaing hingga tingkat internasional.
“Kami tentu sangat bangga. Dari 50 guru SMK yang terpilih se-Indonesia, 14 di antaranya berasal dari Jawa Timur. Ini bukan jumlah yang kecil. Hampir sepertiga peserta nasional berasal dari Jawa Timur dan mereka datang dari SMK negeri maupun swasta,” ujarnya, Selasa, 1 September 2026.
Aries menegaskan, para guru yang mengikuti program tersebut tidak hanya diharapkan membawa pulang sertifikat internasional, tetapi juga ilmu dan standar kerja dunia yang dapat diterapkan di sekolah.
“Saya berpesan kepada 14 guru ini, jangan hanya membawa pulang sertifikat internasional. Bawa pulang standar dunia untuk Jawa Timur. Bawa pulang ilmu, teknologi, budaya kerja, disiplin, produktivitas, inovasi, dan cara berpikir baru yang nanti dapat diterapkan di sekolah,” katanya.
Ia berharap pengalaman selama di Jerman dapat ditularkan kepada guru dan siswa lain sehingga memberikan dampak lebih luas bagi pendidikan vokasi Jawa Timur.
“Jangan sampai pengalaman di Jerman berhenti pada 14 orang. Satu guru harus mampu menginspirasi puluhan guru lain dan berdampak kepada ratusan bahkan ribuan murid. Inilah yang kami maksud dengan pendidikan berdampak,” tegas Aries.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyebut para peserta telah melalui proses seleksi yang ketat. Ia berharap pengalaman magang selama tiga bulan di Jerman mampu meningkatkan kualitas pembelajaran vokasi di Indonesia.
“Bapak dan ibu adalah pionir yang diharapkan memberikan yang terbaik bagi anak-anak SMK di tempat mengajar. Maupun bagi SMK lain yang gurunya belum mendapatkan kesempatan mengikuti program magang guru luar negeri,” ujar Mu’ti.
Mu’ti juga meminta para guru memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperluas jejaring dan meningkatkan kompetensi.
“Setiap pengalaman memiliki makna yang sangat penting. Pentingnya jejaring. Tiga bulan terlalu singkat, tetapi ini harus dimaksimalkan untuk meningkatkan kualitas dan bidang ilmu serta meningkatkan potensi masing-masing,” pungkasnya. (*)
