KETIK, HALMAHERA SELATAN – Di tengah kemarau panjang dan kebakaran lahan yang melanda sejumlah wilayah Halmahera Selatan, Maluku Utara, Hutan Karet di Pulau Bacan menyimpan pemandangan kontras. Kawasan hijau peninggalan kolonial Belanda yang telah berusia lebih dari satu abad itu menghadapi tantangan pelestarian ketika ancaman api terus membayangi lingkungan sekitarnya.
Hutan Karet bukan sekadar kumpulan pepohonan tua. Kawasan yang berada di sekitar pusat pemerintahan Halmahera Selatan tersebut merupakan jejak perkebunan kolonial sekaligus bagian dari sejarah perkembangan Labuha.
Catatan sejarah yang dipublikasikan detikcom pada 2019 menyebut kawasan itu merupakan peninggalan perusahaan perkebunan Hindia Belanda, Batjan Archipel Maatschappij (BAM), yang mengontrak lahan Kesultanan Bacan sejak 1881.
Artinya, sejarah pengelolaan kawasan tersebut telah berlangsung sekitar 145 tahun.
Dalam pemberitaan lama Malut Post yang dimuat JPNN, bekas perkebunan karet itu bahkan disebut pernah mencapai luas sekitar 400 hektare, membentang di wilayah Hidayat, Tomori, Mandaong, hingga Kampung Makian.
Namun, angka tersebut merupakan catatan historis. Luas kawasan yang masih tersisa hingga Oktober 2026 belum dapat dipastikan berdasarkan data resmi terbaru.
Di antara pepohonan karet yang menjulang, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan pernah mengembangkan Taman Budaya Saruma sebagai ruang wisata dan representasi keberagaman masyarakat.
Kawasan tersebut dilengkapi rumah-rumah adat, fasilitas penginapan, serta sejumlah bangunan yang berkaitan dengan perjalanan sejarah Pulau Bacan.
Akan tetapi, wajah pelestariannya tidak selalu berjalan seiring dengan nilai sejarah yang dimiliki.
Pemberitaan Ketik.com berjudul Taman Budaya Saruma, Dekat Dilihat Tapi Jauh Disentuh menyoroti kondisi fasilitas wisata yang kurang terawat. Sejumlah rumah adat dan lingkungan taman digambarkan membutuhkan perhatian pengelola.
Selain panorama pepohonan, Hutan Karet juga menjadi habitat kera yang dikenal sebagai Yakis Bacan. Satwa tersebut kerap terlihat hingga ke kawasan perkantoran pemerintah.
Namun, keindahan wisata itu berubah setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan tersebut pada Senin 19 Oktober hingga Selasa 20 Oktober 2025. Sejumlah rumah adat milik pemerintah daerah dilaporkan hangus terbakar.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Halmahera Selatan, Indra Faris, mengatakan penyebab kebakaran belum diketahui.
"Kita belum mengetahui sumber apinya dari mana, tiba-tiba di tengah Hutan Karet sudah terlihat api membesar," ujar Indra, Selasa 20 Oktober 2025 dilansir dari teluknews.
Pemadaman melibatkan Damkar dan kepolisian, termasuk pengerahan mobil water cannon Polres Halmahera Selatan. Namun, petugas hanya mampu menjangkau batas pergerakan api menuju pusat pemerintahan dan permukiman warga.
"Pemadaman api hanya bisa dilakukan di batas api yang akan bergerak menuju pusat pemerintahan dan pemukiman warga. Petugas tidak bisa masuk hingga ke titik api, karena keselamatan petugas juga penting," ujarnya.
Indra memastikan sejumlah rumah adat hangus terbakar. Petugas masih bersiaga memantau pergerakan api dan melakukan pemadaman.
"Hingga saat ini petugas masih terus standby memantau pergerakan api dan melakukan pemadaman," katanya.
Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Halmahera Selatan, Ali Dano Hasan saat di konfirmasi Rabu 21 Oktober 2026 mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil pantauan di lokasi kebakaran, hanya beberapa bangunan yang hangus dilalap api.
Selain bangunan, sejumlah pohon karet berukuran besar juga ikut terbakar dalam peristiwa tersebut.
Ali menambahkan, nilai kerugian akibat kebakaran yang melanda kawasan wisata Hutan Karet tersebut hingga kini belum dapat dipastikan.
