Wagub Jatim Emil Bongkar Masalah Anjloknya Harga Telur, Fokuskan Produksi Peternak hingga Distribusi

7 Juli 2026 16:42 7 Jul 2026 16:42

Fitra Herdian, Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Wagub Jatim Emil Bongkar Masalah Anjloknya Harga Telur, Fokuskan Produksi Peternak hingga Distribusi

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak. (Foto: Fitra/Ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Anjloknya harga telur ayam yang dikeluhkan peternak dengan aksi demonstrasi, langsung direspons pemerintah, lewat Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak.

Ia mengaku terus berusaha mencari jalan keluar atas persoalan ini. Menurutnya saat ini fokus kepada peran pedagang perantara (middleman) tidak bisa sepenuhnya dilakukan.

Emil mengatakan, untuk mengatasi anjloknya harga telur harus dilihat secara menyeluruh, mulai dari tingkat peternak, distribusi hingga harga pasar.

"Harga yang saat ini berlaku di pasar itu kisaran Rp25.000 per kilogram. Nah artinya kalau diasumsikan ini middleman itu memakan margin yang terlalu tinggi, kenyataannya kalau disuruh beli di produsen Rp26.500 per kilogram, tapi pasar selama ini jualnya Rp25.000 maka ada pekerjaan rumah (PR) tambahan," jelasnya, Selasa, 7 Juli 2026.

Lanjutnya, solusi permasalah telur harus menyeluruh. Tidak hanya melaksanakan surat dari Badan Pangan Nasional (Bananas) tentang acuan pembelian dengan mengumpulkan pedagang perantara.

"Harus betul-betul bongkar permasalahnya ada di mana gitu," tegasnya. Pemprov Jatim berencana mempertemukan seluruh pihak terkait, termasuk peternak dan pedagang perantara untuk mencari solusi yang lebih komprehensif.

Ia melanjutkan, pertemuan itu akan menjadi forum untuk mengurai kemungkinan persoalan margin distribusi yang selama ini dikeluhkan peternak.

"Jangan hanya bertemu middleman saja. Harus duduk bareng peternak. Kalau ada hal-hal yang middleman ini misalnya, istilahnya (menurut) peternak middleman memakan margin terlalu besar, ayo dibongkar hitungannya," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Emil juga membahas penyebab lain turunnya harga telur selain kelebihan pasokan atau over supply. Ia mengungkapkan, penyebab turunnya harga telur karena masa produktif ayam petelur yang sudah afkir.

Ayam petelur memiliki masa produksi sekitar 90 minggu. Namun dalam praktiknya sebagian peternak memperpanjang masa produksi hingga sekitar 120 minggu karena sebelumnya permintaan dinilai tinggi.

"Bagaimana cara membatasi? Kami memang berkoordinasi dengan penyedia grand, dari grandparent stock sampai ke DOC (Day Old Chick) istilahnya. Itu dikoordinasi tidak boleh melampaui," tuturnya.

Penentuan batas usia ayam petelur ini dilakukan, bertujuan agar jumlah produksi telur di masa mendatang dapat lebih terkendali. (*)

Tombol Google News

Tags:

Emil Elestianto Dardak Ayam Petelur Harga Telur Ayam peternak telur Berita Surabaya Info Surabaya