KETIK, BATU – Pemerintah Kota Batu mulai merevitalisasi kebun apel pada 2026 untuk mempertahankan keberlanjutan komoditas yang selama ini menjadi identitas sekaligus salah satu penopang ekonomi masyarakat.
Program tersebut diawali pada lahan prioritas seluas 3 hektare dan akan dilanjutkan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran serta kondisi lahan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Kota Batu Hendry Suseno mengatakan revitalisasi menjadi bagian dari upaya menjaga keberadaan apel di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor tersebut.
Kondisi tanaman yang semakin tua, perubahan iklim, alih fungsi lahan, hingga penurunan kualitas tanah turut memengaruhi keberlangsungan kebun apel di Kota Batu.
Berdasarkan data Distan KP Kota Batu, luas kebun apel saat ini tersisa sekitar 300 hektare. Sebagian besar lahan tersebut berada di Kecamatan Bumiaji yang selama ini menjadi salah satu kawasan utama budidaya apel.
Pada tahap awal, revitalisasi dilakukan melalui empat pendekatan, yakni memperbaiki kualitas tanah, melakukan peremajaan tanaman, memberikan pendampingan kepada petani, serta melakukan riset untuk menemukan varietas yang lebih mampu beradaptasi dengan perubahan iklim.
Program tersebut tidak langsung diterapkan pada seluruh lahan apel yang tersisa. Pemkot Batu akan mengembangkannya secara bertahap dengan menyesuaikan kapasitas anggaran dan kondisi masing-masing lahan.
“Empat jenis apel yang selama ini banyak dikembangkan di Kota Batu meliputi Anna, Rome Beauty, Manalagi, dan Wanglin. Keberadaan varietas tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan komoditas apel yang telah melekat dengan sejarah dan daya tarik Kota Batu,” ujar Hendry, Selasa, 15 September 2026.
Selain melakukan intervensi melalui program pertanian, Pemkot Batu juga mengajak masyarakat terlibat dalam menjaga keberadaan apel lokal melalui kampanye #JagaApelBatu.
Gerakan tersebut diarahkan untuk mendorong masyarakat membeli dan mengonsumsi apel lokal, mempertahankan lahan pertanian, mendukung revitalisasi, serta ikut mengenalkan apel Batu kepada masyarakat lebih luas.
Hendry menekankan bahwa keberadaan apel memiliki makna yang lebih luas dibandingkan sekadar komoditas pertanian. Keberadaannya berkaitan dengan identitas Kota Batu sekaligus keberlanjutan pertanian dan perekonomian masyarakat.
“Apel Batu bukan sekadar buah, tetapi bagian dari identitas dan warisan Kota Batu. Menjaganya berarti menjaga masa depan pertanian dan ekonomi masyarakat Kota Wisata ini,” tegas Hendry.
Melalui revitalisasi lahan, peremajaan tanaman, peningkatan kualitas tanah, pendampingan petani, serta pengembangan varietas adaptif, Pemkot Batu berharap keberadaan apel dapat terus dipertahankan.
Upaya tersebut juga diharapkan memastikan generasi mendatang tetap dapat menikmati sekaligus mengenal apel sebagai salah satu ikon Kota Batu. (*)
