Ribuan Peserta Hadiri Rembug KTNA Nasional 2026, Pemkot Manfaatkan Momen Dorong Agrotourism

15 September 2026 11:06 15 Sep 2026 11:06

Dafa Wahyu P., Fisca Tanjung

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Ribuan Peserta Hadiri Rembug KTNA Nasional 2026, Pemkot Manfaatkan Momen Dorong Agrotourism

Heli Suyanto, Wakil Wali Kota Batu sekaligus Ketua KTNA Kota Batu. (Foto: Dafa Wahyu Pratama/Ketik.com)

KETIK, BATU – Sekitar 2.000 petani dari berbagai daerah di Indonesia akan berkumpul di Kota Batu dalam Rembug Paripurna KTNA Nasional 2026 pada 19-23 September 2026.

Pemerintah Kota Batu memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkenalkan potensi pertanian sekaligus mendorong konsep agrotourism.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Batu, Heli Suyanto, menyebut skala nasional kegiatan tersebut membuat Pemkot Batu memberikan perhatian serius.

Meski tidak dikemas dengan acara berlebihan, forum yang mempertemukan kelompok tani, nelayan, dan pelaku pertanian dari berbagai wilayah Indonesia itu dinilai strategis untuk memperkenalkan karakter pertanian Kota Batu.

“Ini event nasional, jadi tentu menjadi perhatian serius Kota Batu. Berkumpulnya kelompok tani se-Indonesia ini juga menjadi momentum untuk me-reload program Mbatu Sae,” ujarnya, Selasa, 15 September 2026.

Untuk menyambut para peserta, KTNA Kota Batu telah mengumpulkan sejumlah gabungan kelompok tani (Gapoktan) dalam rapat persiapan. Sebagian peserta bahkan diperkirakan tiba di Kota Batu sebelum seluruh rangkaian kegiatan resmi dimulai.

Pria yang juga Wakil Wali Kota Batu ini mengatakan kehadiran ribuan petani tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengikuti forum organisasi, tetapi juga melihat secara langsung potensi pertanian yang dimiliki Kota Batu.

Karena itu, tambah dia, peserta nantinya akan diajak mengunjungi sejumlah sentra pertanian di berbagai wilayah.

“Bukan hanya duduk di ruang sidang, nanti kami ingin mengajak para peserta melihat langsung sentra pertanian dan potensi yang tersebar di sejumlah wilayah Kota Batu,” jelas Mas Heli, sapaannya.

Menurut Mas Heli, karakter pertanian Kota Batu cukup beragam sehingga memiliki banyak hal yang dapat diperkenalkan kepada petani dari daerah lain. Wilayah utara Brantas atau Kecamatan Bumiaji, misalnya, memiliki potensi hortikultura berupa jeruk dan apel.

Sementara itu, Kecamatan Batu memiliki kawasan wisata tani (KWT) serta pertanian organik. Adapun Kecamatan Junrejo dikenal sebagai salah satu sentra bawang dan padi organik. Berbagai potensi tersebut yang kemudian diarahkan untuk mendukung pengembangan agrotourism.

“Dengan pola tersebut, peserta Rembug Paripurna KTNA Nasional tidak hanya mengikuti agenda organisasi. Mereka juga dapat melihat bagaimana sektor pertanian menjadi bagian dari daya tarik wisata Kota Batu,” papar Mas Heli.

Konsep tersebut dinilai selaras dengan karakter Kota Batu yang berkembang melalui sektor pariwisata sekaligus pertanian. Mas Heli menyebut sekitar 60-70 persen warga Kota Batu merupakan petani, termasuk dirinya dan Wali Kota Batu.

“Saya dan Pak Wali Kota sampai sekarang juga petani,” ungkapnya.

Ia menambahkan, keberadaan pertanian juga menjadi bagian dari pengalaman wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu. Tidak seluruh wisatawan hanya mendatangi wahana, karena lanskap pertanian dan kawasan pegunungan turut menjadi daya tarik.

“Agrowisata tidak bisa dihilangkan. Wisatawan datang juga untuk melihat view pertanian maupun pegunungan yang alami. Seperti di Brakseng,” terangnya.

Rembug Paripurna KTNA Nasional 2026 juga dipandang sebagai kesempatan untuk kembali menempatkan petani sebagai bagian penting dalam menjaga kedaulatan pangan.

Politisi Gerindra ini menilai persoalan pangan memiliki posisi strategis karena kebutuhan tersebut menjadi salah satu kepentingan utama dunia selain energi.

Ia menekankan bahwa pembicaraan mengenai swasembada pangan tidak semata-mata berkaitan dengan produksi beras. Kota Batu, menurutnya, memiliki kontribusi melalui sektor hortikultura yang menghasilkan berbagai komoditas sayuran dan buah.

“Bicara swasembada pangan, Kota Batu ini salah satu penghasil hortikultura terbaik di Jawa Timur. Jadi penopangnya bukan hanya beras, tetapi tanaman lain seperti sayuran dan komoditas hortikultura,” tegas Mas Heli.

Besarnya potensi tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian masih memiliki prospek. Namun, tantangan lain yang perlu diperhatikan adalah keberlanjutan regenerasi petani, khususnya dalam menarik minat generasi muda.

Mas Heli pernah melakukan penelusuran mengenai kondisi regenerasi petani di Kota Batu. Dari penelusuran tersebut, proporsi petani muda disebut masih jauh lebih kecil dibandingkan generasi sebelumnya.

“Dulu saya keliling dan mencoba riset jumlah petani muda. Secara kondisi memang memprihatinkan, mungkin hanya sekitar 20-25 persen. Tapi saya melihat persoalan tersebut bukan berarti anak muda tidak tertarik dengan pertanian,” tuturnya.

Menurut Mas Heli, minat generasi muda justru dapat tumbuh ketika mereka diberikan kesempatan melakukan riset sekaligus mencoba penerapan teknologi di bidang pertanian. Atas dasar itu, pengembangan laboratorium mini pertanian hingga konsep smart integrated farming terus didorong.

Model tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran bahwa pertanian modern tidak selalu identik dengan pola kerja tradisional. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah menggabungkan sektor pertanian dan peternakan dalam satu sistem yang saling mendukung.

“Ini bukan sekadar miniatur. Konsepnya pertanian terintegrasi, ada pertanian dan peternakan. Limbah ternak menjadi pupuk tanaman, sementara tanaman buah maupun daun bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak,” katanya.

Di sisi lain, pelaksanaan event nasional di tengah kebijakan efisiensi pemerintah juga dinilai berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat apabila dikelola secara tepat. Kehadiran ribuan peserta diperkirakan menciptakan kebutuhan terhadap penginapan, konsumsi, hingga produk oleh-oleh.

KTNA Kota Batu karena itu membuka ruang kerja sama dengan pelaku usaha pariwisata, termasuk Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), untuk mendukung kebutuhan peserta selama berada di Kota Batu.

“Di tengah efisiensi sekarang, ketika low season, pemerintah memperbanyak event. Dampaknya juga sosial dan ekonomi kepada masyarakat. Kita gandeng PHRI karena semua peserta membutuhkan makan, oleh-oleh dan penginapan,” paparnya.

Kehadiran petani dan nelayan dari berbagai wilayah Indonesia pun tidak hanya dipandang dari jumlah peserta yang datang. Forum tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk pertanian Kota Batu, memperluas jejaring usaha, serta menunjukkan keterkaitan antara sektor pertanian dan pariwisata.

Sejumlah komoditas unggulan disiapkan untuk diperkenalkan kepada para peserta, mulai dari sawi putih yang telah menembus pasar ekspor Taiwan, wortel, kentang, jeruk, apel, hingga berbagai produk sayuran lainnya.

Berbagai potensi tersebut nantinya dapat menjadi bagian dari kunjungan lapangan peserta, termasuk kelompok tani, Gapoktan, serta pejabat yang mengikuti rangkaian Rembug Paripurna KTNA Nasional 2026.

Heli Suyanto berharap pertemuan petani dari seluruh Indonesia di Kota Batu tidak berhenti sebagai agenda organisasi lima tahunan.

Ia menginginkan forum tersebut menghasilkan gagasan baru bagi pengembangan pertanian sekaligus memperkuat posisi Kota Batu dalam mengintegrasikan pertanian, peternakan, teknologi, dan pariwisata.

“Petani se-Indonesia berkumpul di sini. Semoga ada terobosan yang bisa dihasilkan untuk Indonesia dan untuk Kota Batu,” pungkasnya.(*)

Tombol Google News

Tags:

Rembug Paripurna Ktna KTNA Kota Batu Heli Suyanto Info Kota Batu Berita Kota Batu