Kemenperin Cetak 80 Wirausaha Baru di Halmahera Selatan, Bidik Pasar yang Masih Dipasok dari Luar

1 September 2026 06:17 1 Sep 2026 06:17

Thumbnail Kemenperin Cetak 80 Wirausaha Baru di Halmahera Selatan, Bidik Pasar yang Masih Dipasok dari Luar

Gambar ilustrasi pelatihan wirausaha baru (Grafis: Mursal/Ketik.com)

KETIK, HALMAHERA SELATAN – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperluas penguatan ekonomi berbasis usaha lokal di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Sebanyak 80 peserta mendapat pembinaan untuk mengembangkan usaha pada tiga bidang yang dinilai memiliki peluang pasar di daerah.

Program tersebut menyasar pengolahan kue dan roti, pembuatan batik, serta perbengkelan sepeda motor. Pelatihan berlangsung di Labuha pada 11–14 Agustus 2026 melalui kegiatan Penumbuhan dan Pengembangan Wirausaha Baru Industri Kecil.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai penguatan pelaku usaha dari berbagai wilayah perlu disesuaikan dengan potensi yang tersedia di masing-masing kawasan. Sinergi antartingkat pemerintahan juga diarahkan agar kekuatan lokal dapat masuk ke dalam mata rantai kegiatan ekonomi.

“Pemerintah pusat dan pemerintah daerah terus berkolaborasi untuk mempercepat pembangunan ekonomi yang inklusif dan mengedepankan kearifan sumber daya setempat, baik dari pemanfaatan bahan baku lokal hingga sosial budaya,” ucap Agus dalam keterangan resminya, dikutip dari industri.co.id Minggu 30 Agustus 2026.

Posisi industri kecil dan menengah dalam struktur perekonomian nasional terbilang besar. Berdasarkan data BPS 2024, terdapat 4,45 juta unit usaha IKM atau setara 99,79 persen dari keseluruhan unit usaha industri di Indonesia.

Kontribusi sektor tersebut juga terlihat pada penyerapan pekerja. Sakernas Februari 2026 mencatat IKM menampung sekitar 13,06 juta orang, atau 65,38 persen dari seluruh tenaga kerja sektor industri.

Agus menyebut agenda melahirkan pengusaha baru tersebut memiliki landasan kebijakan nasional yang menjadi acuan bagi pemerintah dalam memperluas ekosistem kewirausahaan di berbagai wilayah.

“Penumbuhan wirausaha baru melalui berbagai pembinaan di beragam sektor industri ini juga merupakan pelaksanaan amanah Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional,” tegas Agus.

Di Halmahera Selatan, pelaksanaan program dijalankan Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA). Dari tiga bidang yang dipilih, batik menjadi salah satu sektor yang diarahkan memiliki identitas produk yang kuat melalui corak daerah.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Reni Yanita menerangkan metode yang diberikan kepada peserta dirancang agar proses pengerjaan dapat lebih efisien sekaligus menjaga konsistensi hasil produksi.

“Untuk batik, pelatihan difokuskan pada teknik batik cap dengan motif khas Halmahera Selatan, karena produksi batik dengan teknik ini mudah untuk dilakukan secara berulang, dengan kualitas yang sama dan waktu pengerjaan lebih singkat,” jelas Reni.

Pengembangan corak lokal itu juga diarahkan membuka ruang pasar yang lebih luas. Produk dapat dikembangkan untuk kebutuhan pakaian kedinasan, seragam pendidikan, hingga cendera mata yang membawa identitas Halmahera Selatan.

Pembinaan tidak hanya menyentuh kemampuan menghasilkan barang. Peserta turut mendapat materi mengenai administrasi bisnis, akses pembiayaan, hingga pengelolaan usaha agar kegiatan produksi dapat berkembang dalam kerangka usaha yang lebih tertata.

Plt. Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut Budi Setiawan menjelaskan tahapan berikutnya membawa peserta langsung pada keterampilan lapangan sekaligus penguatan aspek formal untuk menjalankan kegiatan komersial.

“Pada hari kedua hingga keempat, pelatihan mencakup praktik teknis produksi dan manajemen usaha, pendampingan penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB), kunjungan industri, serta bantuan mesin/peralatan,” ucap Budi.

Wakil Bupati Halmahera Selatan Helmi Umar Muchsin menyambut program tersebut sebagai bagian dari penguatan fondasi ekonomi masyarakat. Menurut dia, pergerakan perekonomian di tingkat lokal perlu memiliki basis pengusaha daerah yang mampu tumbuh secara mandiri di tengah masuknya modal berskala besar.

“Percepatan pembangunan ekonomi yang inklusif tidak cukup hanya mengandalkan investasi skala besar, melainkan harus ditopang oleh lahirnya para wirausahawan lokal yang mandiri dan berdaya saing tinggi,” jelas Helmi.

Melalui pembinaan tersebut, 80 peserta di Halmahera Selatan diarahkan tidak berhenti pada keterampilan produksi, tetapi juga memiliki legalitas, kemampuan mengelola bisnis, serta dukungan peralatan untuk mulai mengembangkan usahanya. Tiga sektor yang dipilih sekaligus menyasar kebutuhan pasar yang selama ini masih banyak dipenuhi melalui pasokan dari luar daerah.

Tombol Google News

Tags:

Wirausaha Baru Kemenperin Disnakertrans Halsel Halmahera Selatan Maluku Utara