210 Kasus HIV di Halmahera Selatan, Kenali Penularan, Pencegahan hingga Pengobatannya

31 Agustus 2026 12:29 31 Agt 2026 12:29

Thumbnail 210 Kasus HIV di Halmahera Selatan, Kenali Penularan, Pencegahan hingga Pengobatannya

Gambar ilustrasi sosialisasi pencegahan HIV (Grafis: Mursal/Ketik.com)

KETIK, HALMAHERA SELATAN – Human Immunodeficiency Virus atau HIV masih menjadi persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian serius. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga kemampuan tubuh melawan berbagai penyakit dapat menurun apabila infeksi tidak diketahui dan ditangani sejak dini.

Di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, Dinas Kesehatan mencatat sebanyak 210 kasus HIV hingga Juli 2026. Jumlah itu terdiri dari 183 kasus sepanjang 2024–2025 dan tambahan 27 kasus baru yang ditemukan pada Januari hingga Juli 2026.

Kepala Dinas Kesehatan Halmahera Selatan, Asia Hasyim, sebelumnya membenarkan adanya penambahan tersebut. “Yang sebelumnya 183 orang, dan sementara ini ada 27 orang lagi,” kata Asia dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

Perkembangan tersebut juga mendapat perhatian Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam Kasuba. Saat memimpin apel gabungan Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, Bassam meminta persoalan HIV menjadi perhatian bersama pemerintah dan warga.

“Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan, kasus HIV/AIDS terus mengalami peningkatan, bahkan Halsel tertinggi di Maluku Utara,” kata Bassam dalam apel gabungan di halaman kantor Bupati Senin 31 Agustus 2026. Pernyataan mengenai posisi Halmahera Selatan itu disampaikan Bupati dengan merujuk pada data Dinas Kesehatan yang diterimanya.

Dalam kesempatan yang sama, Bassam meminta Satuan Polisi Pamong Praja meningkatkan pengawasan terhadap sejumlah rumah kos di Kota Labuha setelah pemerintah menerima informasi mengenai dugaan aktivitas prostitusi di beberapa lokasi. Ia meminta langkah penertiban tetap dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.

Dari sisi kesehatan, penanganan HIV membutuhkan edukasi, deteksi, pencegahan dan terapi yang mengacu pada jalur penyebaran virus. Secara medis, pekerjaan, tempat tinggal maupun keberadaan seseorang dalam kelompok tertentu tidak dengan sendirinya menyebabkan seseorang tertular HIV.

Penemuan kasus di Halmahera Selatan dilakukan melalui sejumlah layanan, mulai dari rumah sakit, puskesmas hingga program Cek Kesehatan Gratis. Skrining juga menjangkau kelompok masyarakat dan lingkungan pendidikan. Berdasarkan data sementara Dinas Kesehatan Halmahera Selatan, sebagian besar temuan berada pada kelompok usia dewasa.

Di tengah perkembangan tersebut, penting dipahami bahwa HIV berbeda dengan AIDS. HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sedangkan AIDS atau Acquired Immunodeficiency Syndrome adalah kondisi paling lanjut ketika daya tahan tubuh telah mengalami penurunan berat akibat infeksi yang tidak terkendali.

Artinya, seseorang yang terinfeksi HIV tidak otomatis berada pada kondisi AIDS. Dengan diagnosis lebih awal dan terapi yang teratur, perkembangan virus dapat ditekan sehingga orang dengan HIV dapat menjalani kehidupan lebih panjang dan sehat. HIV kini dapat dikelola sebagai kondisi kesehatan kronis apabila pasien mendapatkan diagnosis, terapi dan perawatan yang efektif.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menjelaskan HIV dapat berpindah melalui cairan tubuh tertentu, terutama darah, air mani, cairan vagina dan ASI. Virus dapat masuk ke tubuh orang lain melalui jalur biologis tertentu yang memungkinkan terjadinya infeksi.

Penularan dapat terjadi melalui hubungan seksual anal atau vaginal tanpa perlindungan, penggunaan jarum suntik secara bergantian serta pemakaian alat yang menembus kulit apabila tidak steril dan telah terkontaminasi darah yang mengandung HIV.

Risiko juga dapat muncul melalui tindakan medis menggunakan peralatan tidak steril atau darah yang tidak melewati proses pemeriksaan keamanan. Namun pada layanan kesehatan yang menjalankan standar sterilisasi dan skrining darah secara benar, kemungkinan tersebut dapat ditekan sangat rendah.

HIV juga dapat berpindah dari ibu kepada anak selama kehamilan, persalinan maupun pemberian ASI. Kemungkinan tersebut dapat dikurangi secara signifikan apabila kondisi ibu diketahui lebih awal dan terapi diberikan sesuai tata laksana medis.

Infeksi menular seksual lain seperti sifilis, gonore dan herpes juga dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap HIV. Infeksi menular seksual merupakan penyakit atau infeksi yang terutama berpindah melalui aktivitas seksual. Karena itu, penanganan penyakit tersebut juga menjadi bagian dari upaya pengendalian HIV.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah memahami bahwa HIV tidak menular melalui interaksi sosial sehari-hari. Virus ini tidak berpindah melalui berjabat tangan, berpelukan, duduk berdekatan, makan bersama, berbagi makanan atau air maupun kontak sosial biasa dengan orang yang hidup dengan HIV. (Sumber: WHO)

Pemahaman tersebut penting untuk mencegah stigma. Stigma adalah cap atau pandangan negatif yang dilekatkan kepada seseorang karena kondisi tertentu. Dalam persoalan HIV, stigma dapat membuat seseorang takut menjalani tes atau enggan mendatangi fasilitas kesehatan.

Pada fase awal, infeksi HIV tidak selalu menimbulkan gejala. Sebagian orang dapat tetap merasa sehat, sementara yang lain mengalami keluhan menyerupai penyakit umum. Karena itu, status HIV tidak bisa ditentukan hanya dari penampilan atau kondisi fisik.

Tes HIV menjadi cara medis untuk mengetahui status seseorang. Setelah terjadi infeksi, tubuh akan membentuk antibodi, yaitu protein yang diproduksi sistem kekebalan untuk mengenali zat asing, termasuk virus.

Setelah paparan terdapat pula masa yang dikenal sebagai window period atau masa jendela. Istilah ini merujuk pada rentang waktu ketika seseorang mungkin sudah terinfeksi, tetapi penanda infeksi belum terbaca oleh jenis tes tertentu. Dalam kondisi tersebut, pemeriksaan ulang dapat dianjurkan sesuai penilaian petugas kesehatan. (Sumber: WHO)

Pencegahan HIV Dimulai dari Pengetahuan

Upaya mencegah HIV dilakukan melalui kombinasi berbagai langkah, mulai dari perilaku seksual yang lebih aman, penggunaan peralatan steril, tes HIV, penanganan infeksi menular seksual hingga penggunaan obat pencegahan pada kondisi tertentu.

Dalam aktivitas seksual yang memiliki kemungkinan penularan, penggunaan kondom secara benar dan konsisten menjadi salah satu cara mengurangi risiko HIV maupun sejumlah infeksi menular seksual lainnya. Langkah lain adalah tidak berbagi jarum suntik serta memastikan peralatan untuk tindakan medis, tato, tindik atau prosedur lain yang menembus kulit berada dalam kondisi steril.

Tes HIV juga penting terutama bagi seseorang yang merasa pernah mengalami paparan berisiko. Semakin cepat status diketahui, semakin cepat pula tindakan medis dapat ditentukan.

PrEP, Pencegahan Sebelum Terpapar

Perkembangan ilmu kedokteran menyediakan Pre-Exposure Prophylaxis atau PrEP sebagai salah satu pilihan. Secara sederhana, PrEP merupakan obat antiretroviral yang digunakan oleh orang yang tidak memiliki HIV untuk mengurangi kemungkinan tertular apabila mempunyai risiko paparan yang tinggi.

Sebelum menggunakan PrEP, seseorang perlu dipastikan berstatus HIV negatif melalui tes. Penggunaannya dilakukan dengan pendampingan medis dan disesuaikan dengan kondisi serta tingkat risiko masing-masing orang.

PEP, Pertolongan Setelah Paparan

Selain PrEP, terdapat Post-Exposure Prophylaxis atau PEP. Jika PrEP diberikan sebelum kemungkinan terpapar, PEP merupakan obat antiretroviral yang digunakan setelah seseorang mengalami kejadian yang dinilai memiliki risiko tertular HIV.

WHO merekomendasikan PEP diberikan sesegera mungkin, idealnya dalam 24 jam dan tidak lebih dari 72 jam setelah paparan. Terapi PEP umumnya dijalani selama 28 hari berdasarkan penilaian medis.

Karena batas waktunya singkat, seseorang yang mengalami paparan berisiko tidak dianjurkan menunggu munculnya gejala. Kondisi tersebut dapat berupa tertusuk jarum yang diduga terkontaminasi darah maupun paparan seksual atau darah yang berdasarkan penilaian medis dinilai memiliki risiko.

HIV Dapat Dikendalikan dengan Pengobatan

Bagi seseorang yang telah dinyatakan hidup dengan HIV, terapi utama menggunakan antiretroviral atau ART. Antiretroviral adalah kelompok obat yang bekerja menghambat HIV memperbanyak diri di dalam tubuh.

ART belum dapat menghilangkan HIV sepenuhnya, tetapi mampu menekan jumlah virus hingga sangat rendah. Kondisi itu membantu menjaga sistem kekebalan tubuh sekaligus mengurangi kemungkinan munculnya penyakit akibat penurunan daya tahan tubuh.

Kepatuhan menjalani terapi menjadi bagian penting. Obat harus dikonsumsi sesuai petunjuk medis. Menghentikan atau mengganti obat tanpa pengawasan dapat mengganggu keberhasilan terapi.

Orang dengan HIV yang menjalani terapi juga dapat menjalani pemeriksaan viral load. Istilah ini berarti jumlah HIV yang terdapat di dalam darah. Hasilnya digunakan untuk melihat seberapa efektif obat menekan perkembangan virus.

U=U, Fakta Penting dalam Pengobatan HIV

Salah satu perkembangan penting dalam penanganan HIV dikenal sebagai U=U atau Undetectable = Untransmittable. Dalam bahasa sederhana, ketika jumlah virus berhasil ditekan hingga tidak terdeteksi dan kondisi itu dipertahankan, HIV tidak ditularkan kepada pasangan melalui hubungan seksual.

WHO menegaskan orang dengan HIV yang menjalani terapi antiretroviral dan mempertahankan viral load tidak terdeteksi tidak menularkan HIV secara seksual. Karena itu, terapi bukan hanya menjaga kesehatan pasien, tetapi juga berperan dalam memutus rantai penularan.

Temuan tersebut diperkuat sejumlah penelitian internasional, termasuk PARTNER2 dan HPTN 052, yang menunjukkan terapi antiretroviral efektif menekan risiko penularan seksual ketika virus berhasil dikendalikan. (Sumber: WHO, UNAIDS, Studi PARTNER2 dan HPTN 052)

Pencegahan dari Ibu kepada Anak

Perhatian khusus juga diperlukan dalam pelayanan kesehatan ibu hamil. Perempuan hamil yang diketahui hidup dengan HIV memerlukan terapi dan pemantauan sesuai arahan medis.

Antiretroviral dapat menurunkan kemungkinan HIV berpindah dari ibu kepada anak selama kehamilan, persalinan maupun menyusui. Pada 2025, sekitar 87 persen perempuan hamil yang hidup dengan HIV secara global memperoleh obat antiretroviral untuk mencegah penularan kepada anak.

Tes HIV dalam pelayanan kehamilan membantu mengetahui kondisi ibu lebih awal sehingga langkah medis dapat ditentukan sejak dini. (Sumber: WHO dan UNAIDS)

Sosialisasi Tidak Cukup Hanya Bicara Bahaya

Penanggulangan HIV juga memerlukan sosialisasi yang berisi informasi benar dan mudah dipahami. Edukasi tidak cukup hanya menyampaikan bahaya HIV, tetapi perlu menjelaskan cara virus berpindah, langkah pencegahan, manfaat tes serta pilihan terapi yang tersedia.

Sosialisasi dapat dilakukan melalui rumah sakit, puskesmas, sekolah, kampus, pemerintah desa, tempat kerja, organisasi kepemudaan, kelompok perempuan, komunitas keagamaan hingga kegiatan kemasyarakatan.

Materi yang disampaikan perlu menggunakan bahasa sederhana agar warga memahami kapan perlu melakukan tes, apa yang harus dilakukan setelah mengalami paparan serta pentingnya menjalani terapi secara teratur bagi orang yang telah terdiagnosis.

Kalangan remaja dapat memperoleh edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan, sementara kelompok dewasa perlu mendapat informasi mengenai tes dan akses layanan. Petugas kesehatan juga berperan memastikan pelayanan diberikan tanpa diskriminasi dan tetap menjaga kerahasiaan pasien.

Kerahasiaan menjadi penting karena orang yang menjalani tes maupun hidup dengan HIV berhak memperoleh pelayanan kesehatan tanpa identitas atau kondisi medisnya disebarluaskan.

Jangan Menunggu Gejala untuk Melakukan Tes

Seseorang yang merasa pernah mengalami paparan berisiko dapat berkonsultasi ke fasilitas kesehatan. Tes HIV bukan berarti seseorang pasti terinfeksi, melainkan langkah untuk memastikan status kesehatannya.

Apabila hasilnya negatif, petugas dapat memberikan edukasi mengenai langkah perlindungan berikutnya. Jika positif, terapi antiretroviral dapat segera dimulai agar virus lebih cepat dikendalikan.

Tanpa terapi, HIV dapat terus merusak sistem kekebalan tubuh dan membuat seseorang lebih rentan mengalami infeksi oportunistik. Istilah tersebut berarti penyakit yang lebih mudah menyerang ketika daya tahan tubuh melemah, seperti tuberkulosis dan sejumlah infeksi berat lainnya.

Sebaliknya, pengobatan antiretroviral yang efektif memungkinkan HIV dikelola sebagai kondisi kesehatan kronis sehingga orang yang hidup dengan HIV dapat menjalani kehidupan lebih panjang dan sehat.

Secara global, UNAIDS mencatat sekitar 41 juta orang hidup dengan HIV pada 2025. Pada tahun yang sama terdapat sekitar 1,2 juta infeksi baru, sekitar 570 ribu kematian akibat penyakit terkait AIDS, sementara 32,1 juta orang telah mengakses terapi antiretroviral.

Catatan sumber: Penjelasan medis dan data global dalam berita ini merujuk pada WHO, Kementerian Kesehatan RI, UNAIDS, serta penelitian PARTNER2 dan HPTN 052.

Tombol Google News

Tags:

Kasus Hiv Sosialisasi Pencegahan Hiv Halmahera Selatan Maluku Utara