Filosofi Jahe Sere dan Kearifan Lokal: Kadis Kominfosan Pemkot Jogja Dorong Apresiasi Nyata bagi Musisi Yogyakarta

3 September 2026 10:21 3 Sep 2026 10:21

Fajar Rianto, Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Filosofi Jahe Sere dan Kearifan Lokal: Kadis Kominfosan Pemkot Jogja Dorong Apresiasi Nyata bagi Musisi Yogyakarta

Kepala Dinas Kominfosan Kota Yogyakarta, Ignatius Trihastono SSos MM, berbincang tentang pentingnya merawat kearifan lokal melalui filosofi jahe sere dan memberikan apresiasi nyata bagi musisi legendaris asal Kota Gudeg yang selalu 'membumi'. (Foto: Fajar R/Ketik.com)

KETIK, YOGYAKARTA – Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian (Diskominfosan) Pemerintah Kota Yogyakarta, Ignatius Trihastono, SSos MM, menekankan pentingnya mengusung filosofi jahe sere hangat. Yakni menentramkan, dan mengakar, serta kearifan lokal dalam memandang ekosistem kesenian di Kota Gudeg.

Hal tersebut disampaikan saat menyoroti fenomena unik para musisi asal Yogyakarta yang tetap rendah hati meski nama mereka telah melambung di panggung nasional. Trihastono mengungkapkan kekagumannya terhadap sikap para musisi Yogyakarta yang mampu menjaga keseimbangan antara popularitas besar dan kehidupan bermasyarakat. Meski dielu-elukan ribuan penggemar di berbagai daerah, mereka tetap menjadi warga biasa yang menyatu tanpa sekat saat kembali ke lingkungan rumah.

"Banyak seniman musik Yogyakarta yang namanya sudah menasional, tetapi begitu pulang, mereka kembali jadi orang biasa di lingkungannya. Kita lihat saja Duta, vokalis Sheila on Seven, yang tetap ikut ronda malam. Begitu juga personel Shaggydog hingga Endang Soekamti, semuanya akrab membaur seperti layaknya masyarakat biasa," ujar Trihastono, di ruangannya, Kamis 3 September 2026.

Ia menilai karakter bersahaja ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat Jogja: tetap menginjak bumi dan menghangatkan suasana di sekitarnya, bagaikan racikan jahe dan sereh yang memberi rasa nyaman. Kondisi sosial seperti ini sangat langka, bahkan mungkin hampir tidak ditemukan pada ekosistem industri musik di luar Yogyakarta, di mana batasan antara kehidupan selebritas dan warga biasa umumnya terbentang sangat jarak.

Sikap membumi para musisi ternama ini memberi dampak positif bagi ruang sosial warga. Kehadiran mereka di tengah masyarakat tanpa sekat menciptakan rasa kebersamaan yang natural. Sekaligus merawat modal sosial Kota Yogyakarta yang berbasis kekeluargaan dan gotong royong.

Atas dasar nilai-nilai tersebut, Trihastono menegaskan bahwa penghargaan terhadap para pelaku seni ini harus diwujudkan secara lebih nyata dan berkelanjutan. Apresiasi tidak boleh berhenti hanya pada tepuk tangan di atas panggung, melainkan harus masuk ke dalam strategi pengembangan ekosistem kreatif yang lebih luas.

"Harus ada apresiasi soal ini, baik di atas panggung atau kita kembangkan lebih jauh," tegas Trihastono.

Ia menambahkan, pengembangan yang dimaksud mencakup pemberian ruang ekspresi yang bermartabat, pengakuan formal atas kontribusi mereka terhadap citra budaya daerah. Hingga penyediaan fasilitas serta akses jaringan kolaborasi bagi para musisi muda.

Langkah ini menurutnya penting agar generasi penerus dapat melanjutkan rekam jejak karya sekaligus mewarisi kearifan lokal yang telah ditanamkan oleh para seniornya.

Melalui pendekatan ini, Pemkot Yogyakarta berharap industri musik di DIY umumnya dan di Kota Yogyakarta pada khususnya tidak hanya melahirkan karya-karya besar yang dikenal luas. Tetapi juga terus merawat nilai-nilai kebudayaan yang menjadi akar kekuatannya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Filosofi Jahe Sere Kearifan lokal Musisi Yogyakarta Apresiasi Musisi Pemkot Yogyakarta Diskominfosan Jogja Ignatius Trihastono Shaggydog Jogja Endang Soekamti Ekosistem Musik Musik Jogja