Simbol Keragaman di Pesarean Gunung Kawi, Masjid, Klenteng, hingga Wayang Berdampingan

17 Juli 2026 10:00 17 Jul 2026 10:00

Thumbnail Simbol Keragaman di Pesarean Gunung Kawi, Masjid, Klenteng, hingga Wayang Berdampingan

Kelenteng Kwan Im menjadi salah satu bukti keragaman budaya di kompleks Pesarean Gunung Kawi. (Foto: Dendy/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Kompleks Pesarean Gunung Kawi, Kabupaten Malang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata religi. Namun, lebih dari itu, kawasan ini menjadi potret nyata akulturasi budaya dan toleransi yang telah berlangsung sejak masa Eyang Djoego.

Di dalam kompleks pesarean, berdiri berdampingan Masjid Raden Mas Iman Soedjono dan Klenteng Kwan Im. Kehadiran dua tempat ibadah tersebut bukan tanpa alasan, melainkan lahir dari sejarah panjang keberagaman para pengikut Eyang Djoego.

Staf Humas dan Media Sosial Pesarean Gunung Kawi, Ananda Fatma, menjelaskan, awal mula keberagaman itu berawal ketika Eyang Djoego membantu masyarakat menghadapi wabah penyakit yang pernah melanda wilayah sekitar.

"Pada waktu itu ada wabah yang menyebar luas. Banyak masyarakat datang kepada Eyang Djoego meminta pertolongan. Beliau kemudian berdoa menggunakan media air, dan air tersebut diberikan kepada orang-orang yang sakit," ujarnya.

Foto Seorang pengunjung melewati depan Masjid Agung RM Iman Soedjono yang terletak di kompleks Pesarean Gunung Kawi, Kabupaten Malang. (Foto: Dendy/Ketik.com)Seorang pengunjung melewati depan Masjid Agung RM Iman Soedjono yang terletak di kompleks Pesarean Gunung Kawi, Kabupaten Malang. (Foto: Dendy/Ketik.com)

Menurut Nanda, banyak warga yang kemudian sembuh setelah meminum air doa tersebut. Kabar itu menyebar hingga ke komunitas Tionghoa yang kemudian turut datang untuk berobat kepada Eyang Djoego.

"Dari situ akhirnya banyak juga orang-orang Tionghoa yang datang. Jadi pengikut beliau tidak hanya dari kalangan Muslim atau orang Jawa saja," katanya.

Ia menjelaskan, Eyang Djoego bersama Raden Mas Iman Soedjono memang merupakan tokoh Jawa yang dikenal sebagai penyiar agama sekaligus memiliki kemampuan spiritual. Namun, kiprah keduanya membuat pengikut dari berbagai latar belakang budaya dan agama berdatangan.

Setelah Eyang Djoego wafat dan dimakamkan di lereng Gunung Kawi sesuai wasiatnya, para pengikut yang merasa memiliki utang budi rutin datang untuk berziarah.

"Karena yang datang berasal dari berbagai kalangan, baik Muslim, masyarakat Tionghoa maupun masyarakat Jawa, akhirnya dibangun fasilitas ibadah yang bisa mengakomodasi mereka. Dari situlah kemudian ada masjid dan klenteng di kawasan pesarean," jelas Nanda.

Menurutnya, keberadaan Masjid Raden Mas Iman Soedjono dan Klenteng Kwan Im yang berdiri berdekatan merupakan cerminan sejarah tersebut, bukan sekadar simbol.

"Jadi bukan karena beliau hanya tokoh Jawa atau tokoh Islam. Pengikut beliau memang berasal dari berbagai golongan," ujarnya.

Foto Pagelaran wayang ruwatan dengan lakon ruwatan 'Murwakala' digelar di Gedung Ngesti Budoyo, kompleks Pesarean Gunung Kawi. (Foto: Dendy/Ketik.com)Pagelaran wayang ruwatan dengan lakon ruwatan 'Murwakala' digelar di Gedung Ngesti Budoyo, kompleks Pesarean Gunung Kawi. (Foto: Dendy/Ketik.com)

Keragaman budaya di Pesarean Gunung Kawi juga tercermin melalui berbagai tradisi yang masih dilestarikan hingga kini. Salah satunya adalah pagelaran wayang yang digelar sebagai bagian dari tradisi masyarakat Jawa, baik untuk ritual ruwatan maupun pelaksanaan nazar oleh para peziarah.

Tradisi tersebut berlangsung berdampingan dengan aktivitas ibadah para peziarah dari beragam latar belakang agama dan budaya. Kondisi ini menjadikan Kompleks Pesarean Gunung Kawi tidak hanya sebagai tujuan wisata religi, tetapi juga ruang perjumpaan berbagai tradisi yang telah hidup berdampingan selama puluhan tahun.

Tombol Google News

Tags:

gunung kawi Pesarean Gunung Kawi Sejarah Gunung Kawi Gunung Kawi Malang Wayang Ruwatan Gunung Kawi Kelenteng Dewi Kwan Im Gunung Kawi Masjid Agung Rm Iman Soedjono Gunung Kawi Eyang Djoego Raden Mas Iman Soedjono