Jejak Pesarean Gunung Kawi, Berawal dari Wasiat Eyang Djoego hingga Dikelola Turun-Temurun Sejak 1871

17 Juli 2026 07:00 17 Jul 2026 07:00

Thumbnail Jejak Pesarean Gunung Kawi, Berawal dari Wasiat Eyang Djoego hingga Dikelola Turun-Temurun Sejak 1871

Gerbang menuju kompleks pemakaman Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono di Pesarean Gunung Kawi. (Foto: Dendy/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Pesarean Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, tidak hanya dikenal sebagai salah satu tujuan wisata religi. Di balik ramainya peziarah yang datang setiap hari, kawasan ini menyimpan sejarah panjang yang berawal dari wasiat panglima perang Pangeran Diponegoro sebelum wafat.

Staf Humas dan Media Sosial Pesarean Gunung Kawi, Ananda Fatma, menjelaskan bahwa tokoh yang dimakamkan di kompleks tersebut adalah Eyang Djoego dan Eyang Raden Mas Iman Soedjono. Keduanya dikenal sebagai penyebar agama Islam sekaligus pengikut Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa.

"Sebelum meninggal, Eyang Djoego tinggal di Kesamben, Blitar. Di sana beliau mengajarkan banyak pengetahuan baru kepada masyarakat sekitar," ujar perempuan yang akrab disapa Nanda tersebut.

Menurutnya, semasa hidup, Eyang Djoego juga dikenal membantu masyarakat saat terjadi wabah penyakit yang melanda wilayah tersebut. Berbekal kemampuan spiritual dan ilmu agama yang dimilikinya, banyak warga datang meminta petunjuk mengenai cara menghadapi wabah.

Sebelum meninggal dunia, Eyang Djoego berwasiat agar dimakamkan di lereng Gunung Kawi. Wasiat itu kemudian dipenuhi oleh Eyang Raden Mas Iman Soedjono bersama para pengikutnya.

Nanda menuturkan, jenazah Eyang Djoego dibawa dari Kesamben menuju Gunung Kawi dalam perjalanan yang memakan waktu dua hari dua malam. Eyang Djoego wafat pada malam Senin Pahing, kemudian rombongan tiba di Gunung Kawi pada Rabu Wage sebelum akhirnya dimakamkan pada malam Jumat Legi.

"Karena itulah sampai sekarang hari besar di Pesarean Gunung Kawi diperingati setiap malam Senin Pahing dan malam Jumat Legi," katanya.

Foto Sejarah hidup Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono di depan cungkup makam kedua tokoh tersebut di kompleks Pesarean Gunung Kawi. (Foto: Dendy/Ketik.com)Sejarah hidup Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono di depan cungkup makam kedua tokoh tersebut di kompleks Pesarean Gunung Kawi. (Foto: Dendy/Ketik.com)

Sejak Eyang Djoego dimakamkan di Gunung Kawi, para murid dan masyarakat yang merasa memiliki ikatan batin maupun balas budi mulai rutin datang untuk berziarah. Aktivitas tersebut kemudian berkembang menjadi tradisi yang terus berlangsung hingga sekarang.

Setelah prosesi pemakaman pada 1871, Eyang Raden Mas Iman Soedjono memutuskan membawa seluruh keluarganya dari Kesamben ke Gunung Kawi untuk menetap sekaligus merawat makam Eyang Djoego. Keputusan itu juga didasari hubungan keduanya yang sangat dekat.

"Eyang Djoego tidak memiliki istri maupun keturunan, sehingga Eyang Raden Mas Iman Soedjono diangkat sebagai putra kinasih atau anak angkat beliau," jelas Nanda.

Eyang Raden Mas Iman Soedjono kemudian membuka kawasan pesarean dan mengelolanya hingga wafat pada 1876. Ia dimakamkan berdampingan dengan Eyang Djoego di kompleks yang sama.

Hingga kini, pengelolaan Pesarean Gunung Kawi tetap berada di tangan keluarga keturunan Eyang Raden Mas Iman Soedjono melalui Yayasan Ngesti Gondo. Menurut Nanda, juru kunci yang bertugas saat ini telah memasuki generasi kelima, meneruskan tradisi perawatan pesarean yang telah berlangsung selama lebih dari satu setengah abad.


 

Tombol Google News

Tags:

gunung kawi Pesarean Gunung Kawi Sejarah Gunung Kawi Eyang Djoego Raden Mas Iman Soedjono Gunung Kawi Malang Berita Malang Info Malang