KETIK, BATU – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Batu diarahkan tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal melalui pemanfaatan produk petani, UMKM, dan BUMDes.
Salah satu dapur MBG yang telah menerapkan kebijakan tersebut adalah SPPG Temas 1. Dapur ini memanfaatkan mayoritas bahan baku dari wilayah Kota Batu, mulai dari buah, sayur, telur, daging, hingga bahan kering dan bumbu dapur.
Kepala SPPG Temas 1, Elmico Duta Amordiaz, mengatakan pihaknya telah menjalin kerja sama dengan pelaku UMKM, BUMDes, serta unsur Kelurahan Temas sejak awal operasional.
“Sejak 26 Januari 2026 kami sudah bekerja sama dengan UMKM, BUMDes, dan unsur Kelurahan Temas. Bahan baku yang kami ambil meliputi sayur, buah, telur, daging, bahan kering seperti kecap, serta bumbu seperti bawang merah dan bawang putih,” ujarnya.
Ia menambahkan, penggunaan buah lokal mulai dimaksimalkan sejak awal operasional dapur, sejalan dengan arahan Badan Gizi Nasional (BGN) yang mendorong pemanfaatan komoditas sesuai potensi wilayah.
“BGN menyarankan fokus pada potensi sekitar dapur, misalnya apel, jeruk, atau komoditas lain yang bisa tumbuh di daerah setempat. Karena itu kami menggunakan buah lokal,” katanya.
Sejumlah komoditas lokal yang rutin digunakan antara lain apel, jeruk, pisang, kentang, wortel, sawi, seledri, selada, pokcoy, hingga buncis. Kebijakan ini diharapkan mampu mendorong perputaran ekonomi di tingkat lokal.
“Harapan kami, anggaran negara tidak hanya berputar di kalangan atas, tetapi bisa dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar,” jelasnya.
Selain menyerap produk lokal, SPPG Temas 1 juga memprioritaskan tenaga kerja dari warga sekitar. Dari total 39 relawan yang terlibat, sekitar 80 persen berasal dari Kelurahan Temas dan sisanya dari wilayah Kecamatan Batu.
“Bisa dibilang SPPG Temas ini murni dijalankan oleh masyarakat Kota Batu,” tambahnya.
Untuk menjaga kualitas bahan baku, pihaknya menerapkan standar tinggi, khususnya pada komoditas buah yang harus memenuhi kategori grade A. Pasokan sayur diperoleh melalui kerja sama dengan BUMDes, sementara buah dipasok oleh UMKM lokal.
“Kami menekankan kualitas harus grade A, terutama buah lokal. Sebelum program MBG berjalan, mitra kami juga sudah menyuplai supermarket sehingga kualitasnya terjamin. Meskipun harga sedikit lebih tinggi, tetap tidak melebihi HET. Yang penting mutu bahan baku tetap terjaga,” tegasnya.
Seluruh bahan pangan tersebut digunakan untuk melayani 2.113 penerima manfaat di tujuh sekolah wilayah Temas.
Sebelumnya, Wali Kota Batu, Nurochman, mengimbau seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Batu untuk memprioritaskan penggunaan produk lokal dalam program MBG.
Kebijakan tersebut dinilai strategis untuk memperluas pasar bagi petani, UMKM, dan BUMDes sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat di tingkat lokal. (*)
