KETIK, BATU – Wali Kota Batu, Nurochman, menceritakan perjuangannya menunaikan ibadah haji pada 2026. Ia harus menunggu selama 14 tahun sejak mendaftar hingga akhirnya mendapat kesempatan menjadi tamu Allah SWT bersama sang istri, Siti Fauziyah, di Tanah Suci.
Perjalanan spiritual tersebut dimulai pada 2012, jauh sebelum Nurochman dikenal sebagai anggota DPRD maupun menjabat sebagai Wali Kota Batu.
Saat itu, ia mendaftarkan diri untuk berhaji dengan memanfaatkan program talangan haji guna memperoleh nomor porsi keberangkatan.
Setelah mendapatkan nomor antrean, Nurochman secara bertahap melunasi biaya haji sesuai kemampuan keuangannya.
Penantian panjang itu pun harus diperpanjang akibat pandemi Covid-19 yang sempat mengganggu penyelenggaraan ibadah haji di seluruh dunia.
“Daftar haji pas masih jadi tenaga honorer di Pemerintah Kota Batu, saya mengikuti program talangan haji agar bisa mendapatkan nomor porsi terlebih dahulu. Alhamdulillah, setelah menunggu sekitar 14 tahun, Allah akhirnya memberikan kesempatan kepada saya untuk berangkat,” ujarnya, saat mengundang awak media ke rumah dinas, Minggu, 8 Juni 2026.
Menurutnya, masa tunggu yang panjang justru menjadi pelajaran tentang kesabaran dan keyakinan. Ia memilih menerima setiap proses dengan ikhlas, termasuk ketika jadwal keberangkatannya tertunda akibat pandemi.
Baginya, kesempatan berhaji bukan sekadar perjalanan menuju Makkah dan Madinah, melainkan momentum untuk memperbaiki kualitas diri dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.
“Haji yang saya jalani ini menjadi momentum untuk memperbaiki keberagaman, memperkuat spiritualitas, serta meningkatkan komitmen dalam menjalankan ajaran agama dengan lebih baik,” katanya.
Di usia 57 tahun, Cak Nur akhirnya berangkat ke Tanah Suci bersama sang istri. Selama menjalani rangkaian ibadah, termasuk saat menghadapi suhu ekstrem yang mencapai sekitar 47 derajat Celsius, ia mengaku berusaha menikmati setiap proses dengan penuh rasa syukur.
Ia juga merasakan pengalaman yang berbeda ketika berada di hadapan Ka’bah. Menurutnya, seluruh status sosial, jabatan, dan atribut duniawi menjadi tidak berarti di hadapan Allah SWT.
“Saat berada di Tanah Suci, saya mencoba meninggalkan seluruh atribut duniawi. Di hadapan Allah tidak ada perbedaan jabatan, kedudukan, ataupun status sosial. Semua manusia sama sebagai hamba-Nya. Alhamdulillah, saya dan istri dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah dalam keadaan sehat dan lancar,” tuturnya.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi inspirasi yang ingin dibagikannya kepada masyarakat.
Politisi PKB ini meyakini bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mewujudkan impian berhaji selama disertai niat yang kuat, kesungguhan berusaha, dan keyakinan kepada Allah SWT.
“Tidak ada yang mustahil. Mantapkan niat untuk bisa berkunjung ke Makkah dan Madinah. Jika belum mampu berhaji, mulailah dengan niat untuk umrah. Terus berikhtiar dan berdoa, insyaallah Allah akan membuka jalan terbaik,” ujarnya.
Meski tengah berada jauh dari Kota Batu saat menunaikan ibadah haji, Cak Nur mengaku tidak pernah melupakan masyarakat yang dipimpinnya.
Dalam setiap kesempatan berdoa di Tanah Suci, ia selalu menyisipkan harapan bagi warga dan daerahnya.
Ia memohon agar masyarakat Kota Batu senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, kemudahan rezeki, serta keberkahan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Selain itu, ia berharap Kota Batu tetap menjadi daerah yang aman, harmonis, dan sejahtera.
“Semoga seluruh masyarakat Kota Batu selalu berada dalam lindungan Allah SWT, diberikan kesehatan, keselamatan, kemudahan rezeki, serta keberkahan dalam setiap langkah kehidupan,” pungkasnya. (*)
