Saat Jejak Sepatu Pendaki dan Keramahan Mbah Maridjan Menghidupkan Lereng Selatan Merapi

17 Juni 2026 13:25 17 Jun 2026 13:25

Fajar Rianto, Dendy Ganda K.

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Saat Jejak Sepatu Pendaki dan Keramahan Mbah Maridjan Menghidupkan Lereng Selatan Merapi

Foto era 90-an ini memperlihatkan potret abadi rute jalan yang masih asri, dikelilingi pepohonan rimbun khas pegunungan. Sementara sekelompok muda-mudi bergaya khas 90-an dengan jaket denim dan topi rimba berjalan santai menyusuri jalan, menggambarkan betapa populernya Kinahrejo saat itu. (Foto: Dok Fajar R/Ketik.com)

KETIK, YOGYAKARTA – Jauh sebelum bencana erupsi dahsyat tahun 2010 menerjang dan mengubah lanskap lereng selatan Gunung Merapi, Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, merupakan wilayah yang penuh kehangatan.

Dusun tertinggi di lereng selatan ini menyimpan memori mendalam bagi generasi pencinta alam era 1980-an hingga 1990-an.

Sebuah foto arsip era 1990-an koleksi jurnalis Ketik.com, Fajar Rianto, berhasil mengabadikan secercah kehidupan dusun tersebut ketika masih menjadi “pintu gerbang” favorit bagi para pencinta alam.

Dalam foto bergaya analog yang hangat itu, tampak sekelompok muda-mudi dengan representasi gaya era 1990-an—mengenakan jaket denim, topi rimba, dan tas selempang sederhana—berjalan santai menyusuri jalan aspal dusun yang masih asri.

Di belakang mereka, keramaian kecil pejalan kaki lainnya memberikan gambaran nyata tentang betapa populernya jalur ini. Suasananya begitu hijau, dikelilingi pepohonan rimbun khas kaki gunung.

Setiap malam Minggu, Kinahrejo seakan hidup oleh kedatangan para pendaki. Posisi dusun yang strategis menjadikannya titik kumpul utama sebelum memulai pendakian menuju puncak Merapi yang ikonik.

“Dulu, Kinahrejo adalah pintu gerbang sekaligus titik terakhir yang wajib disinggahi sebelum mendaki Merapi dari sisi selatan. Suasananya sangat ramah dan sejuk,” kenang Wulan, mantan pendaki asal Jakarta yang kini tinggal di Yogyakarta dan aktif mendaki pada era tersebut, Selasa (16/6/2026).

Berjalan Kaki Menembus Hutan

Bagi warga setempat, kehadiran rombongan pendaki dari berbagai daerah bukanlah hal asing. Fenomena ini sudah lazim terjadi sejak akhir era 1980-an dan jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Namun, perjalanan menuju dusun ini pada masa itu membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Para pendaki biasanya menggunakan angkutan umum dan turun di Terminal Kaliurang.

Dari sana, petualangan dimulai dengan berjalan kaki selama kurang lebih satu jam menembus lebatnya hutan. Demi alasan keamanan dan kebersamaan, mereka biasanya berjalan beriringan dalam kelompok, baik saat datang maupun pulang.

Para pendatang umumnya tiba di Kinahrejo menjelang atau sesudah Magrib dan baru turun kembali ke Kaliurang keesokan paginya.

Pergerakan ini mencapai puncaknya setiap malam Minggu, hari libur nasional, libur panjang sekolah, atau ketika Keraton Yogyakarta menggelar upacara adat Labuhan Merapi.

Masa-masa aktif pendakian pada era 1990-an selalu melahirkan romansa tersendiri.

Dulu, ketika waktu Magrib tiba, dusun yang semula tenang mendadak ramai oleh senda gurau anak-anak muda yang baru sampai dari Kaliurang.

Napas mereka boleh saja terengah-engah setelah berjalan satu jam membelah hutan, tetapi wajah-wajah itu langsung kembali ceria begitu melihat pendar lampu dari warung-warung desa.

Akses menuju Kinahrejo saat itu masih berupa susunan batu kasar yang cukup menguras tenaga. Baru sekitar tahun 1995 jalan menuju dusun mulai dilapisi aspal, seperti yang terekam dalam foto koleksi tersebut. Sejak saat itu, lokasi favorit para pendaki ini dapat diakses kendaraan dengan lebih mudah seperti sekarang.

Ragam Sudut Bermalam dan Keramahan Warga

Menariknya, tidak semua orang yang datang ke Kinahrejo memiliki ambisi menaklukkan puncak Merapi.

Banyak di antara mereka datang hanya untuk mencari ketenangan atau sekadar mendirikan tenda di kawasan lereng selatan Merapi yang sejuk.

Bagi yang tidak membawa tenda, mereka tidak perlu khawatir terlantar. Selain menggelar kantung tidur (sleeping bag)—atau lebih sering hanya berselimut sarung—di beberapa warung yang buka 24 jam, para pendaki juga kerap menumpang bermalam di rumah-rumah warga.

Masyarakat Kinahrejo sejak dahulu dikenal sangat terbuka dan memiliki keramahan yang luar biasa terhadap para pendatang.

Ruang Tamu Mbah Maridjan: Pusat Kehangatan yang Dirindukan

Foto Nampak Alm Mbah Maridjan berdampingan dengan Fajar R Jurnalis Ketik.com (paling kiri), 13 Februari 1993, sedang duduk santai di meja makan beralas taplak biru. Di atas meja, tampak lembaran koran yang sedang dibahas bersama, memperlihatkan bagaimana rumah beliau menjadi ruang diskusi yang hidup antara sang penjaga gunung dan para petualang muda. (Foto: Dok Fajar R/Ketik.com)Alm Mbah Maridjan berdampingan dengan Fajar R Jurnalis Ketik.com (paling kiri), 13 Februari 1993, sedang duduk santai di meja makan beralas taplak biru. Di atas meja, tampak lembaran koran yang sedang dibahas bersama, memperlihatkan bagaimana rumah beliau menjadi ruang diskusi yang hidup antara sang penjaga gunung dan para petualang muda. (Foto: Dok Fajar R/Ketik.com)

Salah satu titik paling ikonis di dusun ini adalah kediaman juru kunci Gunung Merapi yang legendaris, almarhum Mbah Maridjan. Area di sekitar rumah beliau selalu hidup dan menjadi magnet utama tempat para petualang bertukar cerita.

Semasa hidup, Mbah Maridjan dikenal sebagai sosok yang sangat bersahaja. Pintu rumahnya seolah tidak pernah tertutup bagi para pencinta alam yang ingin bertegur sapa, meminta izin pendakian, atau sekadar menghangatkan badan di tengah dinginnya malam gunung.

Kehangatan itu terekam dalam foto arsip bertanggal Februari 1993.

Dalam foto tersebut tampak Mbah Maridjan duduk berdampingan dengan Fajar Rianto di sebuah meja makan sederhana beralas taplak kain biru. Di atas meja terlihat lembaran koran yang sedang mereka baca bersama, sementara senyum khas sang juru kunci memancarkan ketulusan.

Kesan mendalam itu membekas bagi banyak orang yang pernah menghabiskan malam di rumah beliau.

Mbah Maridjan tidak pernah menempatkan dirinya sebagai sosok penting atau penjaga gunung yang berjarak.

Di ruang tamunya yang sederhana, ketika suasana mulai lengang, para tamu sering disuguhi teh hangat atau memesan teh di warung milik Bu Panut—salah satu putri Mbah Maridjan—yang berada di samping rumah.

Dalam suasana seperti itu, beliau kerap mendengarkan cerita para tamunya sambil tersenyum. Keramahan itu membuat rumahnya terasa seperti rumah sendiri.

Portal Kenangan Masa Lalu

Kini, foto-foto yang diambil lebih dari 30 tahun lalu menjadi dokumentasi berharga. Bukan sekadar visual usang, melainkan portal waktu dan dokumen sejarah.

Lembaran foto tersebut menjadi saksi bisu dari sebuah era ketika manusia, ketulusan warga desa, dan kemegahan Gunung Merapi pernah hidup berdampingan dalam harmoni dan kedamaian, sebelum akhirnya erupsi besar mengubah semuanya.


Tombol Google News

Tags:

Gunung Merapi Lereng Merapi Dusun Kinahrejo Kecamatan Cangkringan Juru Kunci Merapi Pendakian Merapi Jalur Pendakian Obwis Kaliurang Wisata Sleman Sejarah Merapi Foto Lawas Arsip Foto komunitas pendaki pecinta alam Kilas Balik Era 90-an Pendaki Lawas Cerita Nostalgia