KETIK, SURABAYA – Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kota Surabaya bersama Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Surabaya dan sejumlah wartawan di Surabaya menggelar doa bersama untuk lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hingga kini masih dalam pencarian setelah hilang saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Senin (7/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di depan Taman Apsari, Surabaya, Jumat (11/9/2026), diisi dengan doa bersama yang dipimpin Humas Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Khoirul Anam sebagai bentuk dukungan agar seluruh jurnalis dan kru kapal tersebut segera ditemukan dalam kondisi selamat.
Ketua PFI Kota Surabaya Suryanto menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan merupakan aksi, melainkan doa bersama yang dilakukan sebagai bentuk harapan dan kepedulian sesama jurnalis.
“Ini sebenarnya bukan aksi, tapi ini adalah doa bersama untuk lima orang jurnalis dan tiga orang kru yang saat ini masih dalam pencarian. Harapan kami kelima jurnalis dan tiga orang kru ini bisa segera ditemukan dengan selamat,” ujar Suryanto di sela kegiatan.
Lima jurnalis yang masih dalam pencarian tersebut adalah M. Bagus Khoirunnas dari Perum LKBN ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas.
Dalam doa bersama tersebut, para wartawan juga menyalakan lilin sebagai simbol harapan agar kelima jurnalis dan tiga kru kapal segera ditemukan.
“Simbol lilin adalah simbol harapan dari kami semua agar kelima dan tiga orang rekan kami itu bisa segera ditemukan,” kata Suryanto.
PFI Nasional juga terus berkoordinasi dengan organisasi jurnalis, tim SAR gabungan, serta pihak keluarga untuk memantau perkembangan proses pencarian.
Selain berkoordinasi dengan PFI Nasional, komunikasi juga dilakukan dengan media tempat para jurnalis bekerja. Untuk Firman Daus yang bekerja di Anadolu Agency, Suryanto menyebut pihak media tersebut telah mengetahui kejadian tersebut dan turut melakukan komunikasi dengan Tim SAR dan Basarnas.
“Pihak tempat Mas Daud bekerja sudah tahu dan sudah melakukan pendekatan sendiri kepada Tim SAR dan Basarnas,” ujarnya.
Dorong Keselamatan Jurnalis
Peristiwa tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi para jurnalis mengenai pentingnya keselamatan dan mitigasi risiko ketika menjalankan tugas di lapangan, terutama saat meliput wilayah dengan tingkat bahaya tinggi seperti gunung berapi, laut, maupun wilayah konflik.
Suryanto mengatakan jurnalis memang dituntut untuk mendekati objek liputan guna mendapatkan informasi dan visual yang dibutuhkan, namun hal tersebut harus tetap diimbangi dengan perhitungan jarak aman dan mitigasi risiko.
“Sebagai jurnalis, kita memang harus mendekat, tetapi tidak boleh terlalu dekat dan tidak boleh terlalu jauh. Mitigasi risiko itu memang harus dihitung,” katanya.
Menurut Suryanto, kondisi alam tetap memiliki faktor yang tidak selalu dapat diprediksi, meskipun jurnalis telah melakukan berbagai persiapan dan mitigasi sebelum menjalankan tugas.
“Namanya alam juga kita tidak bisa lawan. Mungkin tiba-tiba ada ombak besar, itu kita tidak bisa hitung. Itu yang tidak bisa kita prediksi,” ujarnya.
Karena itu, PFI Surabaya berencana memperkuat pembekalan keselamatan bagi jurnalis melalui program pelatihan mitigasi risiko bencana yang sebelumnya telah direncanakan organisasi tersebut.
Suryanto mengatakan program tersebut masih dalam tahap persiapan, termasuk mencari materi pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan jurnalis di lapangan.
PFI juga mendorong setiap perusahaan media untuk memberikan pembekalan dan sertifikasi keselamatan kepada jurnalis sebelum menugaskan mereka ke wilayah berisiko tinggi.
“Harusnya sebelum jurnalis diberangkatkan ke peliputan konflik atau wilayah konflik, media sendiri sudah membekali dengan sertifikasi-sertifikasi khusus. Jadi yang diberangkatkan adalah orang-orang yang memang sudah memiliki sertifikasi khusus untuk wilayah tersebut,” tuturnya. (*)
