Kesehatan Mental Tak Cukup Andalkan Es di Ketiak, Ini Kebiasaan yang Dianjurkan Psikiater

2 Agustus 2026 20:00 2 Agt 2026 20:00

Thumbnail Kesehatan Mental Tak Cukup Andalkan Es di Ketiak, Ini Kebiasaan yang Dianjurkan Psikiater

Ilustrasi suhu badan meningkat. Kemenkes RI

KETIK, SURABAYA – Menjaga kesehatan mental tidak cukup hanya mengandalkan metode yang sedang viral di media sosial, seperti mengompres ketiak dengan es. Para ahli menilai, pengelolaan kecemasan memerlukan kebiasaan hidup sehat dan teknik relaksasi yang telah terbukti secara ilmiah agar hasilnya lebih optimal.

Psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc, mengatakan bahwa langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten justru memiliki manfaat lebih besar dalam menjaga kesehatan mental dibanding mengikuti tren yang belum memiliki dasar ilmiah kuat.

Menurutnya, masyarakat perlu membangun pola hidup yang mendukung kesehatan fisik sekaligus psikologis agar tubuh lebih mampu menghadapi tekanan sehari-hari.

 

Terapkan Pola Hidup Sehat untuk Mengurangi Kecemasan

Dr Riati menjelaskan, salah satu cara paling efektif menjaga kesehatan mental adalah menerapkan gaya hidup sehat secara konsisten.

Beberapa kebiasaan yang dianjurkan antara lain berolahraga secara rutin, tidur yang cukup, mengurangi konsumsi kafein, serta membatasi paparan informasi yang dapat memicu stres maupun kecemasan.

Ia menilai kebiasaan tersebut membantu tubuh menjaga keseimbangan sistem saraf sehingga seseorang lebih mampu mengendalikan respons emosional saat menghadapi tekanan.

Selain itu, masyarakat juga dianjurkan melatih teknik relaksasi seperti latihan pernapasan, mindfulness, dan grounding. Berbagai teknik tersebut telah banyak digunakan dalam praktik kesehatan mental karena terbukti membantu meredakan gejala kecemasan.

 

Konsistensi Lebih Penting daripada Tren Viral

Menurut Dr Riati, menjaga kesehatan mental bukan hanya dilakukan ketika seseorang mulai merasa cemas, melainkan perlu menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

Kebiasaan positif yang dilakukan secara berkelanjutan mampu meningkatkan kemampuan tubuh dan pikiran dalam beradaptasi terhadap stres sehingga risiko gangguan kecemasan dapat ditekan.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa apabila kecemasan berlangsung selama beberapa minggu, mengganggu kualitas tidur, pekerjaan, aktivitas sehari-hari, atau disertai serangan panik, masyarakat sebaiknya segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater agar memperoleh penanganan yang tepat.

"Apabila kecemasan menetap selama beberapa minggu, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai serangan panik, segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Penanganan yang tepat sejak dini akan memberikan hasil yang lebih baik, baik melalui CBT maupun dengan pemberian obat-obatan apabila diperlukan," tutupnya.

Bagi masyarakat yang sempat mencoba kompres es di ketiak, metode tersebut memang dapat memberikan sensasi rileks untuk sementara. Namun, efeknya hanya membantu menenangkan respons tubuh terhadap stres dan tidak mengatasi penyebab utama gangguan kecemasan. Penjelasan mengenai manfaat serta keterbatasan terapi dingin dibahas lebih lengkap pada artikel sebelumnya.

Sementara itu, bagi mereka yang mengalami kecemasan berkepanjangan, berbagai pendekatan berbasis bukti seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), mindfulness, latihan pernapasan, dan teknik grounding tetap menjadi pilihan yang lebih direkomendasikan karena efektivitasnya telah didukung penelitian ilmiah. (*)

Tombol Google News

Tags:

Kecemasan Overthinking kesehatan mental CBT Mindfulness psikolog psikiater