HIV/AIDS di Sidoarjo Capai 6.914 Kasus, Dinkes Sampaikan ke Mahasiswa

15 Mei 2026 13:56 15 Mei 2026 13:56

Fathur Roziq

Editor
Thumbnail HIV/AIDS di Sidoarjo Capai 6.914 Kasus, Dinkes Sampaikan ke Mahasiswa

Kepala Dinkes Sidoarjo dr Lhaksmie Herawati Yuwantina MKes menjelaskan kepada perwakilan mahasiswa dari berbagai organisasi tentang perkembangan temuan HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo pada Rabu malam (13 Mei 2026). (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)

KETIK, SIDOARJO – Kabupaten Sidoarjo menghadapi tantangan berat menuju 2030. Jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Sidoarjo terus meningkat. Ratusan kasus baru muncul setiap tahun. Pada 2030, target global maupun nasional adalah meniadakan kemunculan kasus baru HIV/AIDS.

Data terbaru Dinas Kesehatan atau Dinkes Sidoarjo menyebutkan, hingga akhir 2025, jumlah ODHA mencapai 6.914 kasus di Sidoarjo. Terjadi ratusan kasus baru sepanjang beberapa tahun terakhir. Namun, sekitar 35 persennya berasal dari luar Kabupaten Sidoarjo.

”Memang sejak 2001 sampai 2020-an jumlahnya cenderung naik,” kata Kepala Dinkes Sidoarjo dr Lakhsmie Herawati Yuwantina MKes saat berdialog dengan perwakilan mahasiswa se-Sidoarjo di sebuah warung kopi pada Rabu malam (13 Mei 2026).

Jumlah terbanyak ODHA di Sidoarjo adalah laki-laki, yaitu 2/3 dari seluruh kasus. Usia mereka antara 25 sampai 49 tahun. Mereka mengaku tertular virus HIV akibat berhubungan sesama jenis. Laki-laki seks laki-laki (LSL). Di antara mereka, 115 orang tergolong berisiko tinggi.

”Apa tantangannya? Tantangan bagi kita adalah jangan sampai jumlah 6.914 ini terus meningkat,” tegas dr Lhaksmie.

Salah satu persoalan yang muncul adalah keengganan para ODHA untuk berobat secara teratur. Penyebabnya adalah persepsi lingkungan yang memberikan stigma negatif terhadap ODHA. Padahal, berobat secara teratur ini bisa mencegah penderita HIV menjadi AIDS.

Kepala Dinkes Sidoarjo dr Lhaksmie menjelaskan bahwa Dinkes Sidoarjo terus melakukan berbagai langkah untuk mencegah peningkatan jumlah ODHA di  Sidoarjo. Di antaranya, edukasi kepada komunitas dan organisasi-organisasi. Kampanye kepada masyarakat luas. Selain itu, pembeian alat kontrasepsi, penggunaan alat suntik yang steril.

Dinkes Sidoarjo juga secara teratur melakukan monitor dan evaluasi sesuai dengan standard operational procedure (SOP). Tujuannya adalah menekan angka infeksi baru, menghapus stigma terhadap ODHA, dan mendorong masyarakat agar berani melakukan tes dan pengobatan.

Foto Ilustrasi dukungan upaya pencegahan HIV/AIDS. (Gambar: AI)Ilustrasi dukungan upaya pencegahan HIV/AIDS. (Gambar: AI)

Informasi yang diperoleh Ketik.com dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Timur menjelaskan bahwa pencegahan penularan virus HIV dan penyakit menular seksual dapat menggunakan upaya yang dikenal dengan akronim ABCDE. Apa itu?

(abstinence) berarti pantang. Maksudnya, kita harus berkomitmen pada diri kita sendiri agar no sex before marriage. Kita juga hendaknya turut mengedukasi remaja agar melakukan hal yang sama dengan edukasi pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi.

B (be faithful) yang berarti setia. Kesetiaan menjadi kunci utama dalam sebuah hubungan. Dengan menjaga kesetiaan, kita juga menjaga kepercayaan pasangan.

C (condom), yaitu penggunaa kondom. Pemakaian alat kontrasepsi dapat melindungi diri sendiri dan pasangan dari penularan penyakit menular seksual ketika melakukan hubungan seksual yang berisiko.

D (don’t use drugs). Artinya, jangan menyalahgunakan narkotika untuk menghindari penularan penyakit menular seksual. Banyak di jumpai kasus penularan virus HIV pada pengguna narkoba suntik. Sebab, mereka menggunakan jarum suntik secara bergantian.

E (equipment) atau peralatan. Maksudnya, penting menggunakan peralatan yang steril. Misalnya saat memutuskan untuk bekam, akupuntur, atau memasang tato, jangan menggunakan jarum bekas orang lain atau memakai jarum sendiri.

Tren global dan nasional mengarah pada target Zero HIV 2030 (atau Three Zero HIV/AIDS). Masing-masing adalah zero infeksi baru HIV (meniadakan kemunculan kasus baru), zero kematian akibat AIDS (meniadakan kematian terkait penyakit tersebut), dan zero stigma dan diskriminasi (menghentikan perlakuan diskriminatif terhadap orang dengan HIV/AIDS). (*)

Tombol Google News

Tags:

Odha Di Sidoarjo Hiv/aids Di Sidoarjo Dinkes Sidoarjo Mahasiswa Sidoarjo Dr Lhaksmie