KETIK, PACITAN – Sirine berdering keras di Gedung Bugenvil RSUD dr Darsono Pacitan, Kamis siang, 18 Juni 2026.
Petugas kesehatan bergegas menuju ruang perawatan untuk mengevakuasi pasien, sementara tim tanggap darurat bergerak sesuai tugas masing-masing.
Suasana tersebut bukan bencana sungguhan, melainkan bagian dari gladi lapang simulasi kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi, tsunami, dan kebakaran yang menjadi puncak kegiatan In House Training (IHT) RSUD dr Darsono Pacitan.
Pelatihan bertema "Meningkatkan Kesiapsiagaan Rumah Sakit dalam Respons Cepat dan Tepat terhadap Bencana Gempa Bumi, Tsunami dan Kebakaran" itu digelar selama dua hari, Rabu-Kamis, 17-18 Juni 2026, di Ruang Pertemuan Lantai 3 RSUD dr Darsono Pacitan.
Ketua Emergency Medical Team (EMT) RSUD dr Darsono Pacitan, dr. Netty Nurnaningtyas, Sp.EM., mengatakan kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan seluruh sumber daya rumah sakit dalam menghadapi situasi darurat bencana.
"Sejak kemarin seluruh karyawan sudah mengikuti pelatihan. Hari ini merupakan puncaknya, yaitu simulasi penanggulangan bencana dan respons tanggap darurat terhadap gempa bumi, tsunami, dan kebakaran," kata dr. Netty.
Menurutnya, rumah sakit merupakan fasilitas vital yang harus tetap beroperasi saat terjadi bencana.
Karena itu, seluruh petugas wajib memahami sistem komando, prosedur evakuasi, hingga mekanisme penanganan pasien dalam kondisi darurat.
"Karyawan harus semakin tanggap terhadap kondisi darurat. Dari simulasi ini kami juga bisa melihat apa yang masih kurang untuk menjadi bahan evaluasi dan perbaikan ke depan," ujarnya.
Libatkan 690 Peserta
Simulasi evakuasi pasien hingga ke tempat terbuka dalam gladi lapang kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi, tsunami, dan kebakaran.
Pelatihan tersebut diikuti sebanyak 690 peserta yang terdiri dari karyawan RSUD dr Darsono, Koperasi Among Husada Sejahtera, hingga karyawan Bank Jatim yang bertugas di lingkungan rumah sakit.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 566 peserta merupakan karyawan RSUD dr Darsono Pacitan, dengan rincian 57 peserta mengikuti secara luring dan 509 peserta secara daring.
Kemudian sebanyak 120 peserta berasal dari Koperasi Among Husada Sejahtera, terdiri dari satu peserta luring dan 119 peserta daring.
Sementara empat peserta lainnya berasal dari Bank Jatim, dengan satu peserta mengikuti secara luring dan tiga peserta mengikuti secara daring.
Kegiatan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang, mulai dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan, akademisi Universitas Merdeka Madiun sebagai narasumber dan fasilitator, dr. Cahyo Nurallam, Sp.B, hingga dr. Netty Nurnaningtyas, Sp.EM.
Bahas Rumah Sakit Aman Bencana
Narasumber yang juga Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan, Yagus Triarso, memberikan materi praktik tanggap darurat kepada peserta In House Training (IHT) kesiapsiagaan bencana di RSUD dr Darsono Pacitan.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta mendapatkan berbagai materi yang berkaitan dengan kesiapsiagaan bencana di lingkungan rumah sakit.
Materi pertama disampaikan oleh Komite Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) RSUD dr Darsono mengenai implementasi K3RS di lingkungan rumah sakit.
Materi kedua membahas Sistem Kewaspadaan dan Tanggap Darurat Bencana yang disampaikan oleh Koordinator Kewaspadaan Bencana Komite K3RS RSUD dr Darsono.
Selanjutnya peserta mendapatkan materi mengenai konsep Rumah Sakit Aman Bencana, pembentukan Tim Siaga Bencana, peta potensi bencana gempa bumi, tsunami dan kebakaran, rencana kontinjensi, struktur komando darurat bencana, hingga penyusunan skenario penanganan bencana.
Sebagai puncak kegiatan, seluruh teori yang telah diberikan kemudian diterapkan melalui gladi lapang simulasi gempa bumi, tsunami dan kebakaran.
Selain itu, BPBD Kabupaten Pacitan turut memberikan materi mengenai koordinasi dan strategi penanggulangan bencana di lingkungan rumah sakit.
Pasien Lantai Atas Jadi Fokus Evakuasi
Suasana penyampaian materi dalam In House Training (IHT) kesiapsiagaan bencana di Ruang Pertemuan Lantai 3 RSUD dr Darsono Pacitan.
Dalam simulasi tersebut, proses evakuasi pasien menjadi salah satu fokus utama.
Sebab sebagian besar pasien rumah sakit merupakan kelompok rentan yang tidak dapat menyelamatkan diri secara mandiri.
Menurut dr. Netty, tantangan terbesar berada pada proses evakuasi pasien yang dirawat di lantai atas gedung perawatan.
"Pasien anak-anak di lantai tiga dan pasien stroke di lantai dua tentu tidak bisa melakukan evakuasi secara mandiri. Mereka harus dibantu petugas sehingga membutuhkan koordinasi yang baik," jelasnya.
Karena itu, simulasi dirancang mendekati kondisi nyata agar seluruh petugas memahami langkah yang harus dilakukan saat menghadapi bencana sesungguhnya.
Ia menegaskan bahwa kesiapsiagaan tidak bisa dibangun secara instan, melainkan harus dilatih secara berkala melalui berbagai simulasi dan evaluasi berkelanjutan.
"Siap tidak siap, kita harus siap. Karena itu latihan seperti hari ini menjadi salah satu langkah untuk memastikan seluruh tim mampu merespons ketika bencana benar-benar terjadi," tegasnya.(*)
.png)