KETIK, PACITAN – Pemandangan tak biasa terlihat di Jalan Pacitan-Lorok, Desa Bungur, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang digunakan untuk menyiapkan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdiri berdekatan dengan fasilitas penjualan bahan bakar minyak (BBM) eceran atau Pertamini.
Posisi kedua fasilitas tersebut pun menjadi perhatian pengguna jalan yang melintas.
Pasalnya, aktivitas SPPG itu melibatkan kegiatan memasak, sementara di sisi lainnya terdapat fasilitas penyimpanan dan penjualan BBM.
Salah seorang pelintas, Ferry Irawan (38) asal Kecamatan Pacitan, mengaku heran melihat posisi kedua fasilitas tersebut.
“Yang bikin kepikiran itu masak dekat tempat BBM. Pas saya yang lewat situ ya mikir, apa tidak bahaya?” kata Ferry, Selasa, 18 Agustus 2026.
Ferry mengatakan kekhawatiran tersebut muncul secara spontan, masyarakat awam seperti dirinya cenderung melihat persoalan dari sisi tersebut.
“Namanya orang lewat kan enggak tahu aturan teknisnya. Yang kelihatan ya dapur di sini, BBM di situ. Jadi wajar kalau muncul pertanyaan soal keamanannya,” ujarnya.
Bagi Ferry, persoalan tersebut menjadi lebih menarik karena SPPG bukan sekadar dapur rumah tangga.
Dapur tersebut digunakan untuk memproduksi makanan dalam jumlah besar sehingga aktivitas memasak berlangsung secara rutin.
“Ini kan dapur untuk MBG. Kalau yang dimasak sampai ribuan porsi, tentu aktivitasnya lebih banyak dibanding dapur rumah biasa. Makanya menurut saya keamanan harus ekstra,” katanya.
Ia pun berharap keberadaan Pertamini di sekitar SPPG telah melalui kajian dan pemeriksaan dari pihak yang berwenang.
“Kalau memang sudah ada pemeriksaan dan dinyatakan aman, ya tidak masalah. Tapi masyarakat juga perlu tahu, aman itu karena apa,” ujar Ferry.
Menurutnya, penjelasan tersebut penting agar kekhawatiran pengguna jalan tidak berkembang menjadi asumsi yang belum tentu benar.
Ferry juga menilai aspek keamanan seharusnya tidak hanya dilihat dari jarak antara Pertamini dan dapur.
Sistem instalasi gas, kompor, penyimpanan BBM, alat pemadam kebakaran, hingga prosedur apabila terjadi kebocoran atau kebakaran juga perlu diperhatikan.
“Kalau ada keadaan darurat, bagaimana penanganannya juga harus jelas,” katanya.
Jika terjadi insiden, menurut Ferry, dampaknya berpotensi meluas karena tidak hanya menyangkut pekerja dapur.
“Kalau sampai terjadi sesuatu, yang terdampak kan bukan cuma orang di dalam. Programnya bagus. Justru karena programnya bagus, jangan sampai lokasi dapurnya justru membuat khawatir,” katanya.
Pemilik Lahan Sebut Jarak Kompor dan Pertamini Aman
Purnomo, pemilik lahan sekaligus usaha Pertamini di Desa Bungur, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, memberikan penjelasan terkait keberadaan SPPG MBG yang berada berdekatan dengan fasilitas penjualan BBM miliknya.
Sementara itu, pemilik lahan sekaligus pemilik usaha penjualan BBM eceran di lokasi tersebut, Purnomo (47), memberikan penjelasan mengenai keberadaan SPPG yang berdampingan dengan usahanya.
Purnomo mengatakan SPPG tersebut merupakan milik Yayasan Sighrul Kolbun asal Banjarnegara, Jawa Tengah.
Yayasan tersebut menyewa sebagian lahannya untuk digunakan sebagai dapur SPPG sejak Februari 2026.
“Lahan saya di sini disewa. Sebatas kebutuhan dapur. Jadi ini satu SHM yang disewa hanya sebatas kebutuhan dapur MBG,” kata Purnomo.
Menurut Purnomo, sebelum digunakan sebagai dapur SPPG, bangunan tersebut merupakan rumah makan miliknya.
Bangunan kemudian dikembangkan dan dialihfungsikan untuk kebutuhan operasional dapur MBG.
Ia menyebut kondisi lokasi juga telah didokumentasikan dalam proses pendaftaran SPPG.
“Awal pendaftaran itu kan difoto dari depan, dari samping, dari satelit, atas. Dari pihak BGN sendiri tidak ada aturan untuk berdampingan dengan Pertamini,” katanya.
Purnomo menjelaskan fasilitas BBM yang berada di lokasi tersebut merupakan usaha miliknya yang telah ada sebelum bangunan digunakan sebagai SPPG.
“Ini bensin eceran, tapi saya desain seperti SPBU. Kapasitasnya hanya 200 sampai 300 liter. Tangki bahan bakarnya juga tidak dipendam di tanah seperti SPBU, tapi di atas,” lanjutnya.
Terkait kekhawatiran mengenai potensi kebakaran, Purnomo menyebut jarak antara fasilitas BBM dengan sumber api di dapur masih cukup jauh.
“Kalau sepengetahuan saya, jarak dengan kompor sekitar 45 meter. Jadi ini sudah aman,” ujarnya.
Selain jarak, Purnomo mengatakan bangunan SPPG memiliki sejumlah sekat.
Menurutnya, dapur tersebut memiliki sekitar lima lapisan sekat dengan plafon dan dirancang tertutup untuk mendukung standar operasional serta mengurangi risiko kontaminasi dari luar.
Sistem Kompor Disebut Memiliki Pengaman Otomatis
Purnomo juga menjelaskan bahwa kompor yang digunakan di dapur SPPG dilengkapi sistem pengamanan otomatis.
“Waktu sini buka itu mewajibkan kompor pakai sistem otomatis gas. Pada saat ada bau yang bisa membangkitkan percikan api, itu langsung otomatis mati sendiri,” katanya.
Menurut Purnomo, sistem tersebut merupakan salah satu persyaratan yang dipenuhi dalam operasional dapur SPPG.
“Bau dari gas bocor saja, ketika dites pakai korek api, itu tidak hidup, langsung mati semua kompornya,” ujarnya.
Ia mengatakan sebelum beroperasi, SPPG telah melalui sejumlah tahapan administrasi dan pemenuhan persyaratan. Sejumlah instansi juga disebut telah melakukan pengecekan selama proses tersebut.
Untuk mendukung keamanan pangan, Purnomo menyebut sumber air yang digunakan dapur SPPG berasal dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), bukan dari sumur yang berada di sekitar fasilitas BBM.
Layani 2.200 Porsi per Hari
Dalam operasionalnya, SPPG tersebut disebut menyiapkan sekitar 2.200 porsi makanan setiap hari.
Kegiatan tersebut juga melibatkan 47 relawan yang berasal dari masyarakat sekitar.
Selain penerima manfaat reguler, dapur tersebut turut menangani kelompok penerima B3 di tiga desa, yakni Desa Padi, Tulakan, dan Bungur.
Purnomo menyatakan pihaknya siap mengikuti ketentuan yang berlaku apabila terdapat aturan khusus mengenai keberadaan fasilitas penjualan BBM eceran di sekitar dapur pengolahan makanan.(*)
.png)