KETIK, PACITAN – Sosok Joko Kendil, musafir yang sempat ramai viral di media sosial karena disebut-sebut melakukan perjalanan bersama macan putih, terlihat singgah di Alun-alun Pacitan, Jumat, 29 Mei 2026.
Pria asal Desa Menduran, Kecamatan Brati, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah itu tampak duduk santai mengenakan pakaian serba hitam.
Di kepalanya terpasang penutup kepala berwarna hitam, sementara sebuah syal bernuansa hijau dan abu-abu melingkar di lehernya.
Beberapa kalung dan aksesori kayu tampak menggantung di dadanya.
Di sampingnya terdapat tongkat bambu yang menjadi teman perjalanan, sebuah capil atau topi caping, tas berisi perlengkapan pribadi, serta sebotol kopi.
Penampilannya yang serba gelap membuat banyak warga tak sadar akan kehadiran dirinya.
Kepada Ketik.com, Joko Kendil mengungkap tujuan perjalanan yang tengah ditempuhnya serta barang-barang yang selalu menemaninya selama di perjalanan.
"Saya perjalanan dari Wonosari, Gunungkidul. Ini mampir mau ke Gunung Semeru," katanya.
Namun sebelum sampai ke tujuan akhir, ia berencana singgah terlebih dahulu di sejumlah kabupaten.
"Ke Semeru, mampir ke Ponorogo nanti," ujarnya soal tujuan selanjutnya.
Ia menjelaskan, tidak ada agenda khusus saat melintasi Pacitan.
Jalur tersebut dipilih karena searah dengan rute yang akan ditempuh menuju Semeru.
"Karena searah pas jalan. Sebenarnya mau ke Semeru tapi melebar," katanya.
Meski hanya singgah, Joko Kendil mengaku sempat melihat-lihat salah satu destinasi wisata alam, yakni Sungai Maron yang dikenal sebagai Amazon-nya Pacitan dengan panorama sungai yang asri dan perahu wisata.
"Sudah, mampir ke Sungai Baron (Maron)," ungkapnya saat ditanya tempat wisata yang dilintasinya.
Perjalanan jauh yang dilakukannya dengan berjalan dan berpindah dari satu daerah ke daerah lain ternyata tidak membuatnya merasa kelelahan.
Saat ditanya mengenai kondisi fisiknya selama melakukan perjalanan, ia menjawab singkat.
"Tidak," katanya saat ditanya apakah merasa capek.
Hal menarik terungkap ketika Joko Kendil ditanya mengenai bekal yang dibawa selama perjalanan.
Alih-alih menyebut makanan atau perlengkapan tertentu, ia justru menyebut amalan spiritual sebagai bekal utama.
"Syahadat, sholawat dan Al-fatihah," ujarnya.
Sementara itu, isi tas yang dibawanya ternyata sangat sederhana.
Tidak ada barang-barang backpacker mewah maupun perlengkapan berlebihan.
"Baju, sarung dan sajadah. Ini sebotol kopi dikasih orang pas di masjid," katanya.
Bagi Joko Kendil, perjalanan lintas daerah bukanlah hal baru.
Ia mengaku telah menjelajahi berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Aceh, Sumatra hingga Kalimantan.
"Biasanya Aceh, Sumatra, Kalimantan, sudah semua," tuturnya.(*)
