Bayangkan dua lulusan baru dari kampus yang sama. Nilai mereka setara, semangat mereka sama besar. Bedanya, yang satu punya kakak angkatan yang mau menitipkan lamarannya ke perusahaan impian; yang lain tidak mengenal siapapun di sana. Siapa yang lebih dulu dipanggil wawancara? Kita tahu jawabannya, meski jarang mengakuinya.
Lulusan kedua tidak tertinggal karena kurang mampu. Ia tertinggal karena tidak tahu pintu mana yang harus diketuk, dan tidak ada yang menunjukkannya. Di balik banyak lamaran yang lolos, ada seseorang yang berkata dengan yakin, “Dia bisa diandalkan.”
Kalimat sederhana itu baru berbobot jika datang dari orang yang dipercaya perekrut. Begitulah akses dan informasi di dunia kerja bergerak: berputar di lingkaran orang yang sudah saling kenal.
Di tengah kenyataan itu, Ketua Umum Keluarga Alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (KAMALIKI), Dr. H. M. Hasanuddin Wahid, melontarkan gagasan yang ia sebut “sedekah networking”. Gagasan itu disampaikan dalam pelantikan dan temu alumni pada Ahad, 1 November 2026. Sosok yang akrab disapa Cak Udin ini menawarkannya sebagai cara baru berorganisasi.
Saya memahami gagasan ini begini: kedermawanan tidak selalu berupa uang. Selama ini kita paling mudah membayangkan sedekah sebagai uang yang diberikan, entah lewat zakat atau infak. Ajaran Islam sebenarnya lebih lapang.
Dalam hadis, senyum kepada saudara dan tutur kata yang baik pun disebut sedekah. Bagi orang yang merintis karier dari nol, satu rekomendasi atau satu perkenalan kadang lebih berarti daripada uang saku sebulan. Zakat dan infak tetap menjadi fondasi; sedekah akses hanya menambahkan satu hal lagi yang bisa kita bagikan.
Cak Udin mengingatkan para alumni yang sudah menduduki posisi strategis agar tidak menikmati keberhasilan sendirian, dan membukakan jalan bagi adik-adik angkatan. Menurut saya, ajakan ini baru bermakna jika dipahami sebagai tanggung jawab moral yang lahir dari kesadaran, bukan paksaan.
Para senior itu mungkin merasa tidak punya banyak untuk dibagikan. Saya kira mereka keliru. Satu kalimat dukungan dari orang yang dipercaya kerap membuka lebih banyak pintu daripada seratus surat lamaran.
Sebagai peneliti isu-isu community development, saya melihat landasan teorinya cukup kokoh. Sosiolog Mark Granovetter, lewat penelitiannya pada 1970-an, menemukan bahwa informasi pekerjaan sering datang dari kenalan yang jarang ditemui, bukan dari sahabat dekat.
Artinya, satu perkenalan dari orang yang tepat memang bisa mengubah arah hidup seseorang. Dalam bahasa teori modal sosial, kepercayaan dan relasi adalah sumber daya yang produktif. Sayangnya, organisasi alumni sering berhenti pada reuni dan seremoni.
Sedekah networking menawarkan arah yang lebih berguna: menjadikan organisasi tempat anggotanya saling membantu mengembangkan karier dan usaha.
Praktiknya sederhana. Dalam pembacaan saya, ada empat hal yang bisa dibagikan: rekomendasi pekerjaan, peluang bisnis, koneksi profesional, dan pengalaman hidup. Biayanya nyaris nol bagi pemberi, tetapi nilainya besar bagi penerima.
Seorang senior meneruskan daftar riwayat hidup adik angkatannya ke bagian sumber daya manusia (HRD) di perusahaan yang ia kenal. Tidak ada uang yang berpindah tangan, tetapi sebuah pintu terbuka.
Bagi pemberi itu urusan beberapa menit; bagi penerima, itu bisa menjadi awal kariernya. Seorang pengusaha mempertemukan produsen lokal dengan pembeli berskala nasional. Seorang praktisi bersedia menjadi mentor dan menceritakan kesalahan yang pernah ia buat, supaya generasi muda tidak mengulanginya.
Cara ini tidak menunggu anggaran atau surat keputusan. Cukup pesan singkat berisi nama dan kontak, dan siapa pun bisa memulainya hari ini. Karena itu, ia bisa melengkapi program formal organisasi yang kerap tersendat prosedur.
Namun, kebaikan juga butuh pagar. Tanpa batas yang jelas, sedekah akses mudah tergelincir menjadi nepotisme yang merugikan mereka yang tidak punya koneksi.
Menurut saya, ada tiga pagar yang perlu disepakati. Pertama, rekomendasi harus jujur dan sesuai kemampuan kandidat. Kedua, pemberi akses wajib terbuka tentang hubungannya dengan kandidat agar tidak ada konflik kepentingan yang disembunyikan. Ketiga, keputusan akhir tetap berada di tangan pihak yang merekrut.
Satu tambahan dari saya: akses sebaiknya dibuka seluas mungkin, tidak hanya bagi yang akrab dengan senior. KAMALIKI dan organisasi alumni lain bisa menyediakan satu saluran bersama, misalnya grup atau papan informasi, tempat lowongan dan peluang diumumkan terbuka untuk semua anggota. Dengan begitu, yang menerima kesempatan adalah mereka yang siap, bukan mereka yang kebetulan dekat.
Dengan pagar itu, sedekah networking bukan jalur belakang bagi orang yang tidak kompeten. Ia jembatan bagi talenta yang selama ini terhalang keterbatasan akses. Senior hanya membukakan pintu; yang menentukan tetap kemampuan kandidat. Penerima hari ini diharapkan menjadi pemberi esok hari, dan di situlah kebaikan ini berantai.
Saya sadar gagasan ini masih baru dan belum teruji. Hasilnya tidak akan instan, dan belum ada angka yang bisa saya sodorkan. Karena itu, organisasi yang mencobanya sebaiknya mencatat berapa perkenalan yang terjadi dan berapa yang berujung pada pekerjaan atau kerja sama.
Namun, jika kebiasaan saling menopang ini terus dirawat, jejaring tidak lagi menjadi tangga yang hanya dinaiki sendiri. Pelan-pelan, jarak antaranggota komunitas ikut menyempit.
Saya percaya sedekah networking lebih dari sekadar jargon musiman. Kampus, komunitas, dan organisasi profesi lain layak mencobanya karena mudah dilakukan. Kita mungkin tidak selalu bisa memberi uang, tetapi hampir selalu bisa memberi perkenalan, dan itu cukup untuk memulai. Maka pertanyaannya sederhana: pintu mana yang bisa kita bukakan pekan ini? Wallahu a’lam.
*) Mohamad Tulus merupakan Peneliti Islamic Community Development dan mahasiswa S3 Politik Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis.
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat pada redaksi
