Ruh Shalawat dan Ya Lal Wathan di Muktamar Ke-35 NU Tambakberas Jombang, Merawat Spirit Para Muassis

11 Juli 2026 00:05 11 Jul 2026 00:05

Thumbnail Ruh Shalawat dan Ya Lal Wathan di Muktamar Ke-35 NU Tambakberas Jombang, Merawat Spirit Para Muassis

Oleh: KH. Ahmad Ghozali Fadli*

Ada satu hal yang selalu membuat Nahdlatul Ulama (NU) berbeda dalam memandang perjuangan. Di balik rapat organisasi, bahtsul masail, musyawarah, dan kerja-kerja sosialnya, selalu ada lantunan shalawat yang mengiringi.

Para ulama seakan ingin mengingatkan bahwa perjuangan tidak cukup ditopang oleh kecerdasan berpikir, tetapi juga harus dihidupkan oleh cinta kepada Rasulullah SAW.

Makna di Balik Lantunan Shalawat di Forum NU

Karena itulah, ketika Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi NU pada ayat ke-35 memilih firman Allah tentang shalawat kepada Nabi sebagai salah satu ayat fondasinya, sesungguhnya beliau sedang meletakkan ruh perjuangan NU. Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56)

Ayat ini bukan sekadar anjuran memperbanyak shalawat. Ia mengajarkan bahwa perjuangan harus selalu terhubung dengan teladan Rasulullah SAW.

Sebelum memerintahkan orang-orang beriman bershalawat, Allah terlebih dahulu mengabarkan bahwa Dia dan para malaikat-Nya telah bershalawat kepada Nabi.

Ini menunjukkan bahwa kemuliaan Rasulullah SAW menjadi pusat kemuliaan umat. Menyambut Muktamar ke-35 NU, pesan ini terasa semakin relevan.

Muktamar memang forum tertinggi organisasi untuk memilih pemimpin dan merumuskan arah perjuangan. Namun lebih dari itu, ia merupakan momentum memperbarui ikatan rohani kepada Rasulullah SAW sebagai sumber inspirasi perjuangan para ulama.

Muktamar Ke-35 NU Kembali ke Tanah Para Pendiri

Makna itu semakin kuat karena Muktamar akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.

Bagi warga Nahdliyin, Tambakberas bukan sekadar lokasi, tetapi ruang sejarah yang melahirkan ulama-ulama besar, terutama KH. Abdul Wahab Chasbullah.

Dari lingkungan inilah tumbuh tradisi keilmuan, dakwah, dan pengabdian yang membentuk karakter Nahdlatul Ulama.

Tidak jauh dari sana berdiri Pesantren Tebuireng, tempat Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari meletakkan fondasi Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.

Jejak KH. Bisri Syansuri dan para masyayikh lainnya juga masih terasa hidup di Jombang. Karena itu, Muktamar di Tambakberas bukan sekadar memilih tempat, tetapi seperti mengajak warga NU kembali menimba semangat dari mata air perjuangan para pendiri.

Nilai historis itu semakin lengkap ketika mengingat lahirnya syair "Ya Lal Wathan", mars perjuangan ciptaan KH. Abdul Wahab Chasbullah. Syair ini lahir dari kegelisahan seorang ulama yang ingin menanamkan cinta tanah air sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan.

"Ya Lal Wathan, Ya Lal Wathan... Hubbul Wathan minal Iman..."

Selama puluhan tahun lagu ini menggema di pesantren, madrasah, masjid, hingga berbagai forum kebangsaan. Ia bukan sekadar lagu perjuangan, melainkan penegasan bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari menjaga amanah Allah.

Ruh Shalawat dan Ya Lal Wathan

Menariknya, ruh Ya Lal Wathan sejalan dengan ruh ayat shalawat. Keduanya mengajarkan bahwa cinta harus diwujudkan dalam pengabdian. Shalawat adalah ekspresi cinta kepada Rasulullah SAW, sedangkan Ya Lal Wathan adalah wujud tanggung jawab merawat Indonesia sebagai tempat tumbuhnya agama, ilmu, dan kemaslahatan.

Cinta kepada Nabi tidak menjauhkan seseorang dari bangsanya, tetapi justru melahirkan kepedulian yang lebih besar terhadap masyarakat. Di tengah perubahan zaman, NU menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Arus digital mempercepat penyebaran informasi, tetapi juga memperluas ruang disinformasi dan polarisasi. Perbedaan mudah berubah menjadi permusuhan, sementara dakwah kadang kehilangan kelembutan akhlaknya.

Dalam situasi seperti inilah shalawat menemukan relevansinya. Orang yang mencintai Rasulullah SAW akan belajar dari akhlak beliau: tegas tanpa membenci, berbeda tanpa bermusuhan, dan berdakwah tanpa kehilangan kasih sayang.

Inilah warisan para pendiri NU. Mereka membangun organisasi dengan ilmu yang mendalam, hati yang lembut, serta komitmen menjaga agama dan persatuan bangsa. Tidak mengherankan jika hampir setiap langkah perjuangan mereka selalu diawali dengan doa, dzikir, dan shalawat.

Karena itu, Muktamar ke-35 NU hendaknya tidak hanya melahirkan keputusan-keputusan organisasi, tetapi juga memperkuat kembali karakter perjuangan Nahdlatul Ulama: berilmu, berakhlak, mencintai Rasulullah SAW, merawat persaudaraan, dan mengabdi kepada agama serta bangsa.

Apabila Muktamar ini mampu menghadirkan keputusan yang lahir dari hati yang dipenuhi shalawat, dipandu hikmah para ulama, dan diniatkan semata-mata mencari ridha Allah SWT, insya Allah NU akan terus menjadi penjaga warisan Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Pada akhirnya, kekuatan terbesar Nahdlatul Ulama bukan semata pada besarnya organisasi atau banyaknya warganya. Kekuatan itu terletak pada ruh yang diwariskan para muassis: hati yang selalu terhubung kepada Rasulullah SAW melalui shalawat, kaki yang kokoh mengabdi kepada Indonesia, serta pandangan yang senantiasa mengarah pada kemaslahatan umat, bangsa, dan kemanusiaan. (*)

*) KH. Ahmad Ghozali Fadli adalah Rais MWCNU Wonosalam, Jombang, Penulis Buku Tadabbur Ayat-Ayat Muqaddimah Qonun Asasi NU

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)
Tombol Google News

Tags:

Muktamar Ke-35 Nu nahdlatul ulama Ahmad Ghozali Fadli Muktamar NU