Hegemoni Gerindra Kota Probolinggo: Gus Nur atau dr Aminuddin yang "Kena Bonsai"?

4 Oktober 2026 18:26 4 Okt 2026 18:26

Eko Hardianto, Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Hegemoni Gerindra Kota Probolinggo: Gus Nur atau dr Aminuddin yang "Kena Bonsai"?

Oleh: Eko Hardianto*

Sabtu pagi, 3 Oktober 2026, saya dan Cak Rasad sarapan di Dapur Issed. Sebuah resto kelas menengah di kawasan Jalan dr. Saleh, Kota Probolinggo. Suasana saat itu cukup lengang. Obrolan mengalir dari harga material bangunan hingga perkembangan politik lokal.

Di tengah percakapan, Cak Rasad melontarkan pertanyaan sederhana."Menurutmu, yang paling menentukan besarnya Gerindra Kota Probolinggo itu siapa? dr. Aminuddin, Gus Nur, atau sekarang Riyadlus?"

Saya tidak langsung menjawab.

Pertanyaan itu terdengar ringan, tetapi sesungguhnya menyentuh satu persoalan mendasar dalam ilmu politik. Apakah kemenangan partai lahir dari kekuatan figur atau dari kekuatan organisasi?

Dalam banyak kasus politik lokal, keberhasilan sebuah partai sering disederhanakan sebagai keberhasilan satu tokoh. Padahal, kemenangan politik biasanya merupakan hasil pertemuan antara kepemimpinan, organisasi, kaderisasi, kemampuan membaca momentum, serta kecakapan mengelola sumber daya politik.

Oh iya, kenapa ujug-ujug membahas DPC Gerindra Kota Probolinggo? Sebenarnya ya karena rotasi kepengurusan sedang berlangsung. Terutama pergantian posisi sekretaris. Mumpung ada cantolan, saya akan mengulas dan menerjemahkannya dalam perspektif di awal tulisan tadi.

Dalam teori pelembagaan partai diperkenalkan Samuel P. Huntington, organisasi politik yang kuat bukan yang bergantung satu figur. Melainkan yang mampu menciptakan sistem, regenerasi, stabilitas, dan pengkaderan. Partai menjadi besar bukan karena satu orang hebat. Tetapi karena mampu mengorkestrasi banyak orang agar bergerak searah.

Jika menggunakan kerangka itu, perjalanan partai besutan Prabowo, ini dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan proses menarik. Secara elektoral, Gerindra menjelma menjadi salah satu kekuatan politik dominan di Kota Probolinggo. Pemilu 2024, partai ini meningkatkan jumlah kursi DPRD dari tiga menjadi empat kursi. 

Pasangan Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka, juga meraih kemenangan telak di Kota Probolinggo. Gelombang itu kemudian berlanjut pada Pilkada 2024 ketika Ketua DPC Gerindra Kota Probolinggo, dr. H. Aminuddin, berhasil menduduki kursi Wali Kota Probolinggo.

Ketika sebuah partai mampu memenangkan Pilpres, meningkatkan kursi legislatif, sekaligus menguasai kursi eksekutif daerah dalam rentang waktu yang berdekatan, maka istilah "hegemoni" menjadi relevan.

Dalam pengertian Antonio Gramsci, hegemoni bukan sekadar kemenangan politik. Tetapi menjadikan kekuasaan dan kepemimpinannya diterima sebagai sesuatu yang wajar. Bahkan dominan dalam ruang publik. Dengan kata lain, kemenangan bukan lagi peristiwa, tetapi kebiasaan politik yang diterima masyarakat.

Namun, adil rasanya jika keberhasilan Gerindra Kota Probolinggo, hari ini tidak hanya dibaca dari era Aminuddin, Gus Nur, atau Riyadlus semata. Sebab perjalanan partai berlambang kepala garuda itu cukup panjang dan tidak selalu berada di posisi puncak.

Data KPU menunjukkan, Pemilu 2009 Gerindra, masih berstatus partai baru. Hanya mampu meraih satu kursi DPRD Kota Probolinggo. Lima tahun kemudian, pada Pemilu 2014, suara Gerindra meningkat menjadi 12.537 suara. Sekitar 9,5 persen suara sah DPRD. 

Pada Pemilu 2019, Gerindra berhasil meloloskan tiga kadernya sebagai anggota legislatif. Mereka adalah Heri Poniman, Hamid Rusdi, dan dr. Aminuddin. Baru pada Pemilu 2024 partai ini mencatatkan lompatan dengan meraih empat kursi DPRD. Bahkan mengantarkan kadernya memenangkan Pilkada Kota Probolinggo.

Artinya, hegemoni terlihat hari ini bukanlah produk satu momentum politik. Tetapi akumulasi kerja lintas generasi. Mereka membangun dari bawah hingga menjelma sebagai salah satu partai dominan di Kota Probolinggo.

Pertanyaannya, siapa yang membentuk hegemoni tersebut?

Tidak dapat dipungkiri, dr. Aminuddin, merupakan wajah politik Gerindra Kota Probolinggo. Ia adalah figur yang tampil di depan. Memimpin partai, sekaligus menjadi simbol kemenangan elektoral. Dalam organisasi politik modern, peran semacam ini sangat penting karena publik membutuhkan figur yang dapat mewakili identitas partai secara langsung.

Keberhasilan Aminuddin, menembus kursi wali kota menjadi bukti ia memiliki daya tarik politik yang kuat. Ia menjadi lokomotif yang menarik gerbong-gerbong dukungan menuju kemenangan.

Tapi perlu dicatat, lokomotif tidak akan bergerak tanpa rel. Di sinilah peran Nur Fathur Rachman Efendi atau Gus Nur menjadi penting.

Selama bertahun-tahun, Gus Nur berada di jantung organisasi. Dia menjabat sebagai Sekretaris DPC Gerindra Kota Probolinggo. Dalam praktik politik, sekretaris merupakan penghubung antara keputusan partai, struktur organisasi, kader di lapangan, dan agenda politik yang harus dijalankan. Ia memastikan mesin partai tetap hidup. 

Konsolidasi kader, penguatan PAC, komunikasi internal, pengelolaan agenda organisasi, hingga proses penjaringan dan pengusulan kandidat merupakan pekerjaan yang sebagian besar berada di wilayah kerja sekretaris.

Jika Aminuddin adalah wajah yang dilihat publik, maka Gus Nur, salah satu figur yang memastikan wajah itu memiliki struktur yang menopangnya. Karena itu, melihat keberhasilan Gerindra hanya sebagai keberhasilan Aminuddin akan menyederhanakan realitas politik yang sesungguhnya jauh lebih kompleks.

Namun cerita Gerindra Kota Probolinggo tidak berhenti pada dua nama tersebut. Munculnya Riyadlus Sholihin Firdaus, justru menghadirkan dimensi baru yang menarik. Pada Pemilu 2024, dia adalah peraih suara personal tertinggi di antara legislator Gerindra, terpilih. Artinya ia hadir bukan karena posisi struktural, melainkan karena legitimasi elektoral yang diperolehnya langsung dari masyarakat.

Dalam ilmu kepartaian, kemunculan figur seperti Riyadlus, merupakan indikator penting bahwa organisasi sedang mengalami regenerasi. Dimana-mana partai sehat itu mampu melahirkan kader-kader baru yang memiliki basis dukungan mandiri.

Di sinilah letak nilai strategis Riyadlus. Jika Aminuddin merepresentasikan kepemimpinan politik dan Gus Nur merepresentasikan kapasitas organisasi, maka Riyadlus merepresentasikan keberhasilan kaderisasi sekaligus regenerasi elektoral.

Karena itu, perubahan struktur yang menempatkan Riyadlus, sebagai Sekretaris DPC menggantikan Gus Nur seharusnya tidak semata-mata dibaca sebagai pergantian figur. Perubahan tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari proses distribusi peran dan regenerasi kepemimpinan dalam tubuh partai.

Tentu, setiap proses regenerasi selalu memunculkan pertanyaan dan spekulasi. Itu hal yang wajar dalam organisasi politik. Namun tantangan sesungguhnya bukan berada pada siapa yang menduduki jabatan sekretaris. Melainkan apakah proses pergantian tersebut mampu menjaga kesinambungan organisasi yang selama ini telah dibangun.

Sejarah politik menunjukkan bahwa ketika satu kekuatan politik terlalu dominan, muncul kecenderungan berkurangnya ruang koreksi dan kritik. Dalam situasi seperti itu, partai yang sedang berada di puncak justru dituntut lebih terbuka terhadap evaluasi.

Karena itu, ujian terbesar Gerindra Kota Probolinggo bukanlah memenangkan pemilu berikutnya. Ujian terbesar mereka adalah membuktikan bahwa dominasi politik dapat berjalan beriringan dengan kinerja pemerintahan, pelayanan publik yang lebih baik, dan kemampuan menerima kritik dari masyarakat.

Di titik inilah Aminuddin, Gus Nur, dan Riyadlus, sesungguhnya berada dalam satu garis yang sama. Aminuddin memberikan arah dan kepemimpinan politik. Gus Nur membangun dan menjaga ritme organisasi. Riyadlus menghadirkan energi regenerasi dan legitimasi elektoral generasi berikutnya.

Maka ketika Cak Rasad, bertanya siapa yang paling menentukan besarnya Gerindra Kota Probolinggo, saya justru melihat pertanyaan itu lebih sebagai pancingan diskusi daripada upaya mencari jawaban yang sesungguhnya.

Sebab kemenangan politik jarang lahir dari satu orang. Ia lahir dari pertemuan antara figur yang dipercaya publik. Kemudian organisasi yang bekerja, dan kader-kader baru yang terus bermunculan.

Jika menggunakan analogi bonsai, mungkin bukan Aminuddin, bukan pula Gus Nur atau Riyadlus yang sedang "dikenak bonsai". Yang sesungguhnya sedang dibentuk adalah pohon besar bernama Gerindra Kota Probolinggo.

Ada yang menanam.

Ada yang merawat akar.

Ada yang menumbuhkan cabang-cabang baru.

Saat kami meninggalkan Dapur Issed pagi itu, pertanyaan Cak Rasad, sebenarnya belum sepenuhnya terjawab. Sebab waktu yang akan menentukan apakah pohon politik itu benar-benar kokoh atau hanya tampak indah untuk sementara.

Namun satu hal yang pasti, hegemoni tidak dibangun oleh satu figur. Kekuatan itu lahir ketika organisasi mampu melampaui figur-figur yang pernah membesarkannya.

*) Eko Hardianto merupakan Jurnalis Ketik.com sekaligus Wakil Ketua PWI Probolinggo Raya

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat pada redaksi
Tombol Google News

Tags:

Gerindra Probolinggo dr. Aminuddin Gus Nur Riyadlus Sholihin Firdaus Politik Probolinggo DPRD Kota Probolinggo Pilkada Probolinggo 2024 pemilu 2024 Hegemoni Politik Regenerasi Partai Kaderisasi Politik Opini Politik