Film Layak Dicintai, Bukan Ditakuti oleh Mereka yang Terpaksa

14 April 2026 05:20 14 Apr 2026 05:20

Ali Azhar, Muhammad Faizin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Film Layak Dicintai, Bukan Ditakuti oleh Mereka yang Terpaksa

Oleh: Ali Azhar*

Saya mencintai ilmu komunikasi. Saya mencintai jurnalisme. Saya bahkan rela membagi waktu antara kuliah dan bekerja sebagai jurnalis karena memang itulah yang ingin saya bangun. Tapi ada satu hal yang tidak pernah ada dalam daftar mimpi saya: menjadi bagian dari produksi film.

Bukan karena saya membenci film. Justru sebaliknya saya menghormati dunia itu. Saya tahu betapa beratnya kerja seorang sineas. Saya tahu berapa banyak keringat yang tertumpah di balik setiap frame yang tampil di layar. Dan justru karena saya menghormatinya, saya merasa tidak pada tempatnya ketika sistem memaksa saya masuk ke sana tanpa persiapan, tanpa minat, dan tanpa pilihan.

Saya pernah berada di peminatan Broadcast. Saya coba, saya jalani, dan saya sadar itu bukan saya. Lalu saya pindah ke Public Relations sebuah keputusan yang saya ambil dengan penuh kesadaran. Saya pikir, dengan memilih PR, saya sudah menemukan jalur yang tepat. Jalur yang sesuai dengan apa yang ingin saya bangun.

"Saya pikir dengan mengambil peminatan public relations ini nanti tidak ada mata kuliah perfilman, eh ternyata ada di semester 6. Itu bukan passion saya, sedangkan itu berbeda jauh dengan slogan kampusnya."

Ternyata saya keliru. Di semester enam, Film Production tetap ada di daftar mata kuliah yang harus saya tempuh. Tidak ada pengecualian, tidak ada alternatif. Saya harus masuk ke dunia yang sudah satu kali saya tinggalkan kali ini dalam proyek film berjudul Maya bersama PH Lima Production, dengan tuntutan teknis sinematografi yang serius dari sutradara dan produser.

"Kita yang tidak punya skill dalam bidang sinematografi kayak bener-bener dituntut harus expert sama sutradaranya sama produsernya. Ya gimana dong, itu kan bukan peminatan saya, dan proyek ini juga kita tidak dibayar sama sekali."

Saya ingin jujur di sini. Saya tidak marah kepada dunia perfilman. Saya tidak marah kepada para sineas. Yang saya persoalkan adalah sistem yang menempatkan saya dan mungkin banyak mahasiswa PR lainnya dalam situasi ini tanpa pertimbangan yang matang. Karena ketika seseorang yang tidak mencintai film dipaksa masuk ke dalam prosesnya, yang pertama kali dirugikan bukan hanya orang itu. Dunia film itu sendiri yang menanggung akibatnya.

"Gini nih yang bikin image dunia perfilman itu semakin buruk, di hadapan orang yang tidak suka film."

Bayangkan seseorang yang hadir di set bukan karena pilihan, bukan karena passion, bukan karena dedikasi melainkan karena tidak ada jalan lain. Bayangkan energi yang ia bawa, sikap yang ia tunjukkan, dan cerita yang ia bagikan kepada orang-orang di sekitarnya setelah proses itu selesai. Apakah itu promosi yang baik untuk industri film? Tentu tidak.

Dan saya tidak ingin menjadi orang itu. Saya tidak ingin menjadi seseorang yang pulang dari set dengan membawa kesan buruk tentang dunia yang sebenarnya saya hormati dari jauh.

Tapi pada 11 April 2026, saya berada tepat di titik itu. Evaluasi rehearsal berlangsung ketika saya sudah benar-benar tidak punya tenaga tersisa.

"Kemarin saya bener-bener tidak kuat, bener-bener kecapean, tapi tetap dipaksa buat rehearsal, dan itu di luar kemampuanku."

Yang lebih menyakitkan, tekanan yang datang bukan semata soal kualitas produksi. Ada hal-hal yang melampaui batas profesional dan memasuki wilayah yang sangat personal.

"Saya juga kalau dibentak sedikit kadang langsung down, kemarin terlalu over sampai-sampai saya bener-bener marah ke mereka, karena saya pembelaan diri."

"Saya udah berusaha juga kemarin, tapi mereka tidak menghargai usaha saya, dan malah bawa-bawa hal personal."

Saya sudah berdiskusi dengan rekan-rekan saya di luar kelompok. Penilaian mereka senada dengan yang saya rasakan bahwa yang diserang bukan kinerja, melainkan hal-hal yang jauh lebih personal dari itu. Bahkan ada rekan dalam kelompok yang ketika diberi tanggung jawab membantu sebagai asisten sound, memilih untuk tidak menjalankannya namun saat evaluasi justru menjadi yang paling vokal mengkritik.

Saya membawa semua ini ke dekan. Dan saya menghargai bahwa beliau merespons.

"Hal-hal seperti itu sebenarnya bisa dikomunikasikan sebelum produksi sehingga tidak ribet di lapangan saat produksi. Kalau menurut saya, masalahmu dengan kelompok itu karena kurangnya komunikasi yang terbuka di antara kalian."

Beliau juga menyampaikan sesuatu yang membuat saya berpikir panjang. "Biasanya mahasiswa protes dan lapor ke dosen itu karena ada teman di kelompok yang kerjanya tidak serius. Tapi kamu kok malah tidak senang kalau kelompokmu kerja serius. Cobalah dikomunikasikan lagi. Tidak usah diambil hati, itu kan kerja kelompok bersama. Kalau nilainya bagus kan kamu juga dapat nilai bagus. Coba pikirkan lagi kepentingan bersamanya."

Saya mengerti maksud beliau. Dan saya tidak menolak saran itu sepenuhnya. Tapi saya perlu meluruskan satu hal yang tampaknya disalahpahami.

"Bukan karena saya tidak suka kalau teman saya kerja serius, tapi mereka bawa-bawa hal personal, sehingga itu hal di luar kemampuan saya, itu kayak dipaksakan. Sama, itu bukan peminatan saya, bukan passion saya. Anak-anaknya marahinya bukan karena kinerja, tapi mencatut personal."

Komunikasi yang lebih baik dalam kelompok itu saya setuju perlu diperbaiki. Tapi komunikasi yang lebih baik tidak akan mengubah fakta bahwa saya adalah mahasiswa PR yang diwajibkan mengikuti mata kuliah sinematografi. Dua persoalan itu berbeda, dan keduanya perlu dijawab secara berbeda pula.

Satu hal yang membuat saya sedikit bernafas adalah respons dari dosen pengajar Film Production, yang turun langsung untuk mengondisikan situasi dalam kelompok.

"Saya sudah kondisikan dan minta semuanya untuk lebih bijak dalam berkomunikasi."

Dan kepada saya secara pribadi, beliau berpesan: "Tidak perlu takut. Kamu kerjakan apa yang sudah dipersiapkan dengan penuh tanggung jawab."

Beliau juga memastikan bahwa pada hari produksi sesungguhnya, akan ada supervisi langsung. "Di hari H nanti juga ada saya atau Nicole yang akan melakukan supervisi secara langsung. Mungkin tidak full, tapi harapannya semua terkondisikan dengan baik."

Saya pegang kata-kata itu. Dan saya akan menyelesaikan apa yang harus saya selesaikan bukan karena saya tiba-tiba mencintai sinematografi, melainkan karena saya punya tanggung jawab yang harus dituntaskan dengan kepala tegak.

Tapi setelah semua ini selesai, saya berharap ada percakapan yang lebih serius di tingkat institusi. Bukan tentang saya secara pribadi. Tapi tentang pertanyaan yang lebih besar: apakah kurikulum kita benar-benar dirancang untuk menghidupkan passion mahasiswa, atau justry memadamkannya satu semester demi satu semester?

Dunia perfilman Indonesia terlalu berharga untuk dijadikan beban oleh mereka yang tidak memilihnya. Dan mereka yang benar-benar mencintai film terlalu berbakat untuk harus berbagi panggung dengan mahasiswa yang hadir bukan karena cinta, melainkan karena tidak ada pilihan lain dalam sistem KRS.

Film layak dicintai oleh mereka yang memang mencintainya. Bukan ditakuti oleh mereka yang terpaksa berada di sana. (*)

*) Ali Azhar merupakan jurnalis Ketik.com

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)
Tombol Google News

Tags:

Artikel opini Maya Lima Production Film opini