Memandang AI sebagai Peluang, Bukan Ancaman Pendidikan

29 Mei 2026 10:29 29 Mei 2026 10:29

Mustopa

Editor
Thumbnail Memandang AI sebagai Peluang, Bukan Ancaman Pendidikan

Oleh: Sifa Yunita Sari*

Belakangan ini, munculnya AI atau bisa disebut Artificial Intelligence yang menyebar di khalayak umum seperti halnya kalangan siswa seringkali dianggap sebagai bentuk ancaman baru bagi siswanya. 

Guru mulai khawatir jika tugas yang seharusnya dikerjakan sendiri siswa malah dilakukan oleh kecerdasan buatan tersebut, sehingga dikhawatirkan akan mengurangi minat baca, kemampuan berpikir kritis pun menurun dan bahkan perlahan hilang. Namun, masalah sebenarnya tidak terletak pada adanya AI, tetapi pada cara dunia Pendidikan memandang, memahami, dan menggunakannya.

Saat ini, siswa hidup di zaman yang sudah berbeda. Dengan kecanggihan teknologi yang semakin pesat tidak menutup kemungkinan yang awalnya siswa membuka banyak buku pelajaran dan membaca untuk mendapat jawaban dari pertanyaan tugas yang diberikan oleh guru, tetapi yang dilakukan oleh siswa masa kini memilih cara yang instan dan cepat, melalui internet atau bertanya langsung pada AI. 

Fenomena ini tidak bisa dihindari. AI sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda. Karena itu, Pendidikan seharusnya tidak hanya sibuk melarang, tetapi mulai belajar mengarahkan.

Sayangnya, banyak sekolah masih melihat AI dengan cara yang terlalu sempit. Ketika siswa menggunakan AI untuk membantu tugas, respon pertama yang muncul sering kali adalah tuduhan malas atau tidak mau berpikir. 

Padahal, jika dipahami lebih dalam, kehadiran AI justru menunjukkan bawa pola pembelajaran lama mulai mengalami tantangan. Pendidikan yang hanya berfokus pada hafalan dan jawaban Tunggal kini mudah digantikan oleh teknologi yang mampu memberikan informasi dalam hitungan detik, bahkan bisa meminta informasi yang akurat dan jelas referensinya. 

Contoh nyata dapat dilihat di ruang kelas, tidak sedikit siswa yang mampu menjawab soal dengan cepat karena bantuan AI, tetapi kesulitan menjelaskan kembali isi jawabannya dengan bahasa sendiri. Ini bukan semata kesalahan teknologi, melainkan tanda bahwa Pendidikan terlalu lama mengukur kemampuan siswa dari hasil akhir, bukan proses berpikirnya. Akibatnya, siswa terbiasa mengejar jawaban benar tanpa benar-benar memahami makna pembelajaran. 

Di sisi lain, dalam banyaknya penelitian mengenai AI, salah satunya penelitian Harianti dari Universitas Pendidikan Indonesia tahun 2025 menegaskan AI sebenarnya bisa menjadi alat yang membantu siswa belajar lebih dekat dengan literasi bahkan bisa menambah minat belajar siswa lebih tinggi lagi. 

Alasannya karena kemudahan sistem belajar yang menambah pengetahuan dan wawasan. Banyak siswa sering merasa buku Pelajaran terlalu rumit atau bahasa akademik terlalu sulit dipahami. Dalam kondisi seperti ini, AI dapat membantu menjelaskan materi dengan Bahasa yang lebih sederhana.

Bahkan, beberapa siswa yang sebelumnya malas membaca mulai tertarik memahami materi dikarenakan penjelasan AI terasa lebih interaktif dan mudah dimengerti, tidak hanya itu bahkan dapat diakses kapanpun dan di manapun meski dalam keadaan terdesak sekalipun.

Namun, di sinilah tantangan besarnya. Jika AI hanya digunakan untuk menyalin jawaban secara instan, maka siswa akan kehilangan kesempatan melatih kemampuan berpikir mendalam. Fenomena ini sudah mulai terlihat. Sebagian siswa lebih senang meminta rangkuman cepat dibanding membaca utuh sebuah bacaan. 

Kondisi tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya salah dari siswa. Dunia digital memang membentuk kebiasaan serba cepat. Media sosial membuat generasi muda terbiasa menerima informasi pendek dalam beberapa detik. 

Ketika masuk ke ruang kelas yang penuh teks panjang dan metode monoton, siswa mudah merasa bosan. Di titik inilah pendidikan perlu adanya perubahan. Guru tidak cukup hanya meminta siswa “jangan bergantung pada AI”, tetapi harus mampu menciptakan pembelajaran yang membuat siswa tetap mau berpikir dan kritis.

Oleh sebab itu, yang perlu dibangun bukan ketakutan terhadap AI, melainkan literasi digital yang sehat. Siswa perlu diajarkan bahwa AI bukan pengganti otak manusia, tetapi alat bantu atau sebuah alternatif untuk memperluas pemahaman. 

Guru juga perlu mulai mengubah pola pembelajaran. Misalnya, tugas tidak hanya meminta jawaban akhir, tetapi juga meminta alasan, proses berpikir, atau refleksi pribadi siswa. Dengan begitu, AI tidak lagi menjadi jalan pintas untuk hanya dijadikan tempat mencontek membabi buta melainkan sarana guna berdiskusi dan mengeksplorasi pengetahuan.

Selain itu, pendidikan harus mulai menyadari bahwa peran tidak akan tergantikan oleh teknologi. AI memang bisa memberi jawaban cepat, tetapi tidak bisa menggantikan empati, pengalaman, dan sentuhan manusia dalam mendidik. Guru tetap memiliki peranan penting dalam membentuk karakter, membangun nilai sosial, dan menumbuhkan kesadaran berpikir kritis pada siswa.

Ada pula penelitian terbaru di tahun 2026 ini oleh Aisyah yang sudah dipublikasikan di Cornel University, mengenai sebagian besar guru sudah mulai mengetahui betapa pentingnya dampak dari AI jika digunakan dengan bijaksana, dan sangat membantu pada proses belajar siswa. Oleh sebab itu, ketakutan berlebihan terhadap AI justru dapat membuat Pendidikan tertinggal dari perkembangan zaman. 

Teknologi akan terus berkembang, suka atau tidak. Persoalannya bukan bagaimana menghentikan AI, tetapi bagaimana memastikan manusia tetap menjadi pusat dari proses belajar itu sendiri. Sebab ancaman terbesar Pendidikan hari ini bukan AI, melainkan hilangnya kemampuan manusia untuk berpikir secara sadar, kritis, dan bijaksana dalam menggunakan teknologi, termasuk AI. 

Maka mulai ubah pola pikir, jika AI bukanlah ancaman, tetapi peluang besar untuk perubahan kemajuan dunia pendidikan.

*) Sifa Yunita Sari merupakan Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Islam Malang

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)
Tombol Google News

Tags:

opini AI Pendidikan Sifa Yunita Sari