KETIK, MALANG – Rak-rak di Perpustakaan Umum Kota Malang kini penuh sesak oleh sekitar 200.000 koleksi buku. Dari jumlah tersebut, buku fiksi rupanya masih menjadi primadona yang paling banyak diburu oleh para pengunjung.
Pustakawan Muda Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah (Dispussipda) Kota Malang, Santoso Mahargono, menjelaskan bahwa tingginya minat terhadap buku fiksi salah satunya dipengaruhi oleh dominasi generasi muda yang berkunjung. Menurutnya, buku bergenre hiburan atau populer memang lebih mudah memikat pembaca dari berbagai kalangan.
"Jadi sesuai kajian, yang dicari itu buku fiksi. Memang fiksi ini kan buku yang sifatnya hiburan atau populer. Jadi wajar kalau itu disukai atau diminati oleh masyarakat," ujarnya, Sabtu, 16 Mei 2026.
Selain buku fiksi, pengunjung Perpustakaan Kota Malang pun banyak yang tertarik dengan buku kesehatan. Santoso menjelaskan banyaknya sekolah kedokteran dan kesehatan membuat buku tersebut banyak diburu pembaca. Selain itu masyarakat dinilai semakin peduli dengan kesehatan.
Disusul dengan buku-buku keterampilan, khususnya buku memasak, yang sering dicari bahkan dipinjam untuk dibawa pulang. Sebaliknya, buku-buku bertema agama maupun kerohanian justru menjadi koleksi yang paling jarang tersentuh oleh pembaca.
"Mungkin di rumah sudah memiliki pengetahuan cukup tentang agama, sudah memiliki buku di rumahnya, atau bahkan cukup dengan Al-Qur'an atau Injil dan sebagainya, bagi mereka sudah cukup," katanya.
Santoso mengakui saat ini kondisi Perpustakaan Umum Kota Malang sudah kelebihan kapasitas koleksi buku. Umumnya pada setiap rak buku harus memiliki ruang kosong untuk memudahkan pembaca mengambil buku.
"Idealnya di perpustakaan itu kan antara rak dan buku harus ada ruang kosong. Tidak boleh diisi penuh buku untuk sirkulasi udara dan penempatan kapur barus. Di sini, satu rak ini penuh bukunya. Mulai atas sampai bawah penuh, enggak ada space sama sekali," ucapnya.
Kondisi tersebut bukan hanya dapat menyulitkan pengunjung dalam mencari buku, tetapi juga berpotensi merusak buku. Masalahnya, Perpustakaan Kota Malang juga tak bisa menghibahkan buku dengan kondisi yang rusak.
"Karena sudah padat juga sulit diambil. Akhirnya bagian atas buku ini sering rusak. Petugas kita juga terbatas, untuk menata buku itu ya butuh waktu. Memang solusinya itu ada dua, penghapusan atau hibah ke masyarakat," katanya. (*)
