S3 BK Masih Langka di Indonesia, UM Bidik Posisi Pelopor Tingkat Doktoral

23 Mei 2026 13:36 23 Mei 2026 13:36

Illa Khoirur R., Aziz Mahrizal

Redaksi Ketik.com
Thumbnail S3 BK Masih Langka di Indonesia, UM Bidik Posisi Pelopor Tingkat Doktoral

tim asesor LAMDIK dari Universitas Negeri Semarang dan Universitas Negeri Yogyakarta saat jadi dalam asesmen lapangan Program Studi S3 BK Fakultas Ilmu Pendidikan UM . (Foto: dok. Humas UM)

KETIK, MALANG – Program Studi (Prodi) S3 Bimbingan dan Konseling (BK) di Indonesia saat ini masih tergolong langka. Hingga kini, baru empat perguruan tinggi yang menyelenggarakan program doktoral tersebut, salah satunya adalah Universitas Negeri Malang (UM). 

Minimnya jumlah penyelenggara ini membuat pengembangan keilmuan BK di tingkat doktoral menjadi tanggung jawab besar bagi kampus-kampus tersebut.

Hal itu mengemuka dalam asesmen lapangan Prodi S3 BK Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UM yang berlangsung pada Jumat, 22 Mei 2026. Agenda visitasi ini menghadirkan tim asesor Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) dari Universitas Negeri Semarang dan Universitas Negeri Yogyakarta.

Wakil Rektor I UM, Ibrahim Bafadal, menyampaikan bahwa penguatan mutu program studi merupakan langkah krusial untuk menjaga kualitas pengembangan keilmuan BK di Indonesia. Menurutnya, keempat kampus penyelenggara program doktor BK memikul tanggung jawab besar dalam mendorong kemajuan keilmuan sekaligus kualitas sumber daya manusia (SDM) di bidang tersebut. 

“Kami berkomitmen meningkatkan kualitas Program Studi S3 Bimbingan dan Konseling secara berkelanjutan. Keempat LPTK ini memiliki tanggung jawab besar dalam pengembangan keilmuan BK di Indonesia,” ujarnya.

Asesor LAMDIK, Muhammad Nur Wangid, menilai jumlah penyelenggara S3 BK yang masih terbatas membuat penguatan mutu akademik menjadi hal penting, termasuk dalam penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan pendidikan saat ini. Ia berharap UM mampu terus berkembang dan menjadi pelopor pengembangan pendidikan BK di tingkat doktoral.

“Karena baru ada empat perguruan tinggi penyelenggara S3 BK di Indonesia, maka tanggung jawab pengembangan keilmuan BK tingkat doktoral ada pada kita bersama,” katanya.

Sementara itu, asesor LAMDIK lainnya, Dwi Yuwono Puji Sugiharto, menekankan pentingnya membangun kolaborasi antarkampus dibandingkan persaingan institusi. Menurutnya, sinergi menjadi kunci dalam menciptakan lulusan doktor BK yang adaptif terhadap tantangan pendidikan masa depan.

“Yang perlu dibangun bukan persaingan, melainkan kolaborasi untuk bersama-sama meningkatkan mutu pendidikan BK di Indonesia,” ungkapnya.

Dekan FIP UM, Ahmad Yusuf Sobri, mengatakan asesmen lapangan menjadi bagian evaluasi untuk memastikan kurikulum dan pengembangan program studi tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia pendidikan.

Dalam asesmen tersebut, Ketua Program Studi S2 dan S3 BK UM, Muslihati, turut memaparkan berbagai capaian program studi, mulai dari penguatan kerja sama internasional, peningkatan tata kelola, pengembangan sumber daya manusia, pendanaan riset kolaboratif, hingga penguatan publikasi jurnal ilmiah.(*)

Tombol Google News

Tags:

LAMDIK Universitas Negeri Malang S3 Bimbingan Dan Konseling Um Prodi S3 Bk Langka Doktoral Bimbingan Dan Konseling Fip Um Ibrahim Bafadal