Lewat Teknologi Amonifer, Mahasiswa KKN PSDKU UB Kediri Ubah Tongkol Jagung Jadi Pakan Ternak

14 Juli 2026 17:54 14 Jul 2026 17:54

Aisyah Fisa, Aziz Mahrizal

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Lewat Teknologi Amonifer, Mahasiswa KKN PSDKU UB Kediri Ubah Tongkol Jagung Jadi Pakan Ternak

Mahasiswa KKN Kelompok 10 UB Kediri bersama peserta sosialisasi dan pelatihan pemanfaatan tongkol jagung melalui teknologi amonifer di Desa Kelutan. (Foto: Dokumentasi Pribadi Mahasiswa KKN Kelompok 10 UB Kediri)

KETIK, SURABAYA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) PSDKU Universitas Brawijaya Kediri Kelompok 10 melaksanakan kegiatan edukasi dan pelatihan pemanfaatan tongkol jagung menjadi pakan ternak melalui teknologi amoniasi dan fermentasi atau amonifer di Desa Kelutan, Kabupaten Nganjuk, pada 12 Juli 2026.

Kegiatan yang dilaksanakan di bawah bimbingan Dosen Pendamping Lapang (DPL) Diana Aisyah, S.Pi., M.P. tersebut melibatkan kelompok peternak, perangkat desa, serta masyarakat setempat. Program ini menjadi salah satu upaya mahasiswa dalam menjawab permasalahan limbah pertanian yang belum dimanfaatkan secara optimal sekaligus membantu menyediakan alternatif pakan ternak yang lebih ekonomis dan mudah diterapkan oleh masyarakat.

Desa Kelutan memiliki potensi limbah pertanian berupa tongkol jagung yang cukup melimpah setelah musim panen. Padahal, melalui pengolahan yang tepat, tongkol jagung berpotensi dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pakan alternatif bagi ternak ruminansia.

“Selama ini tongkol jagung biasanya hanya kami tumpuk, dibuang, atau dibakar karena belum tahu cara memanfaatkannya. Setelah mengikuti pelatihan ini, kami jadi mengetahui bahwa tongkol jagung ternyata bisa diolah menjadi pakan ternak. Harapannya, cara ini bisa membantu mengurangi limbah sekaligus menekan biaya pakan,” ujar salah satu peserta kegiatan.

Foto Mahasiswa KKN sedang mengaduk campuran bahan amonifer hingga tercampur merata. ( Foto : Dokumentasi Pribadi Mahasiswa KKN Kelompok 10 UB Kediri)Mahasiswa KKN sedang mengaduk campuran bahan amonifer hingga tercampur merata. (Foto: Dokumentasi Pribadi Mahasiswa KKN Kelompok 10 UB Kediri)

Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN PSDKU UB Kediri memperkenalkan teknologi tepat guna berupa amonifer, yaitu kombinasi proses amoniasi dan fermentasi yang bertujuan meningkatkan kualitas serta daya cerna bahan pakan berserat.

Kegiatan diawali dengan penyuluhan mengenai potensi tongkol jagung sebagai bahan pakan ternak, karakteristik kandungan seratnya, serta kendala pemanfaatannya apabila diberikan tanpa pengolahan.

Selanjutnya, peserta mengikuti demonstrasi secara langsung mulai dari persiapan dan pencacahan bahan, pembuatan serta pencampuran larutan urea sesuai dosis yang dianjurkan, penambahan bahan fermentasi, hingga pengemasan bahan ke dalam wadah yang tertutup rapat selama proses fermentasi.

Mahasiswa juga memberikan penjelasan mengenai lama proses fermentasi, ciri-ciri hasil fermentasi yang baik, cara penyimpanan, hingga teknik pemberian pakan kepada ternak. Dengan pendekatan praktik langsung, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga memahami tahapan pengolahan yang dapat diterapkan kembali secara mandiri pada skala rumah tangga maupun kelompok peternak.

Salah satu mahasiswa pelaksana, Wildan, menjelaskan bahwa teknologi amonifer memiliki dua prinsip utama, yaitu amoniasi dan fermentasi.

“Amonifer merupakan kombinasi teknik amoniasi dan fermentasi yang dapat membantu meningkatkan kualitas tongkol jagung sebagai pakan ternak ruminansia. Pada proses amoniasi, amonia yang berasal dari urea membantu merenggangkan struktur serat dan ikatan lignin sehingga selulosa dan hemiselulosa menjadi lebih mudah dimanfaatkan oleh ternak. Sementara itu, fermentasi menggunakan mikroorganisme starter untuk membantu menguraikan senyawa kompleks menjadi bentuk yang lebih sederhana dan lebih mudah dicerna” ujar Wildan.

Inovasi yang diperkenalkan dalam kegiatan ini dirancang agar mudah diaplikasikan oleh masyarakat karena menggunakan peralatan sederhana serta bahan-bahan yang relatif mudah diperoleh. Tongkol jagung yang sebelumnya hanya dianggap sebagai limbah diolah kembali menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna dan potensi nilai ekonomi.

Penerapan teknologi tersebut sekaligus mendukung prinsip ekonomi sirkular, yaitu memanfaatkan kembali hasil samping atau limbah dari kegiatan pertanian agar tetap berada dalam siklus produksi dan memberikan manfaat baru. Dengan demikian, limbah tidak berhenti sebagai residu yang harus dibuang, tetapi dapat diolah menjadi input bagi kegiatan produktif lainnya, khususnya peternakan.

Selain mengikuti praktik pembuatan amonifer, peserta juga diberikan kesempatan untuk berdiskusi mengenai kemungkinan penerapan teknologi tersebut pada kondisi peternakan masing-masing. Diskusi mencakup ketersediaan bahan baku, skala produksi, lama penyimpanan, cara adaptasi pemberian pakan kepada ternak, serta peluang pengembangan produk secara berkelompok.

Melalui program ini, masyarakat Desa Kelutan diharapkan mampu mengoptimalkan tongkol jagung sebagai alternatif sumber pakan ternak, sehingga dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap pakan konvensional, menekan biaya produksi, serta mengurangi persoalan limbah pertanian.

Lebih jauh, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membangun sistem pertanian dan peternakan yang lebih terintegrasi. Limbah dari kegiatan pertanian dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan, sementara hasil samping dari peternakan juga berpotensi dikembalikan ke lahan sebagai pupuk organik.

Melalui pendekatan tersebut, kegiatan KKN tidak hanya berorientasi pada penyampaian pengetahuan, tetapi juga mendorong lahirnya inovasi sederhana yang dapat diterapkan, direplikasi, dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Program pemanfaatan tongkol jagung melalui teknologi amonifer ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan sistem produksi pangan dan peternakan yang berkelanjutan, serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan kembali limbah pertanian menjadi sumber daya yang produktif.

Dengan semangat pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa KKN PSDKU Universitas Brawijaya Kediri berharap inovasi sederhana tersebut dapat terus diterapkan setelah program KKN berakhir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Desa Kelutan dalam membangun sistem pertanian dan peternakan yang lebih efisien, mandiri, dan berkelanjutan. (*)

Tombol Google News

Tags:

Ub Kediri Universitas Brawijaya Kediri Universitas Brawijaya Tongkol Jagung pakan ternak