KETIK, SLEMAN – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Sleman terus menggembleng persiapan menghadapi Pekan Olahraga Daerah (Porda) DIY XVIII 2027 di Kabupaten Kulon Progo.
Mengelola 53 cabang olahraga binaan, lembaga yang membawahi bidang keolahragaan di Bumi Sembada ini menerapkan mekanisme evaluasi bertahap, tata kelola berjenjang, dan pengawasan ketat untuk memastikan proses regenerasi atlet berjalan tanpa hambatan.
Langkah tersebut menjadi ikhtiar menjaga tradisi juara sekaligus mempertahankan gelar Juara Umum Porda DIY untuk kelima kalinya secara berturut-turut.
"Prestasi Sleman bukan hasil instan. Rumusnya jelas: kolaborasi, konsistensi, pengelolaan berbasis data, serta pembinaan yang berjenjang," ujar Ketua Umum KONI Sleman Haris Sutarta SE MT, Selasa 18 Agustus 2026.
Penerapan Sports Science dan Jaminan Perlindungan Atlet
Haris Sutarta menceritakan, kedisiplinan skema pembinaan tercermin dalam pelaksanaan Pusat Pelatihan Kabupaten (Puslatkab) 2026–2027 yang dirancang secara cermat selama 14 bulan, terhitung sejak Juli 2026 hingga Agustus 2027.
Program pemusatan latihan jangka panjang tersebut menggembleng 1.399 peserta, terdiri atas 1.265 atlet dan 134 pelatih dari 50 cabang olahraga. Para olahragawan yang masuk ke dalam skuad Puslatkab merupakan hasil saringan ketat dari ajang Kejurkab maupun Porkab.
Untuk memberikan rasa tenang selama menjalani porsi latihan yang menguras fisik, KONI Sleman membentengi seluruh atlet dan pelatih dengan jaminan perlindungan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dari BPJS Ketenagakerjaan.
Menurut Haris, ketelitian pembinaan juga menyentuh aspek teknis melalui pendekatan sports science. Penerapannya mencakup pemantauan pola gizi, penentuan beban serta frekuensi latihan secara tepat berdasarkan kelompok umur (KU 6, 12, hingga 18 tahun), serta evaluasi kinerja organisasi yang digelar secara bulanan.
Di samping itu, terdapat enam pilar strategis yang ditancapkan. Di antaranya peningkatan kualitas SDM pelatih dan atlet, penyediaan sarana-prasarana latihan yang memadai, pencarian bakat alami, pelaksanaan kompetisi berjenjang, pendekatan ilmiah, hingga kecukupan alokasi dana hibah daerah yang dikelola secara efisien dan transparan.
Penguatan fungsi pengendalian serta pengukuran kinerja organisasi menjadi perhatian mendasar agar seluruh program berjalan tepat sasaran.
Pemanfaatan teknologi modern turut dioptimalkan demi mendukung efektivitas latihan serta memantau perkembangan fisik atlet. Hal tersebut diimbangi dengan pemberian apresiasi dari pemerintah daerah berupa tali asih dan insentif bagi pemenang medali untuk memantik semangat bertanding.
Penjaringan Akar Rumput dan Target Juara Umum
Penjaringan bibit unggul juga diperluas hingga ke pelosok daerah melalui pemberdayaan unit Koordinator Olahraga Kapanewon (KORKAP) masa bakti 2026–2029. KORKAP bertindak sebagai 'unit gerilya' untuk mendata, mengidentifikasi, dan memetakan potensi atlet di tingkat desa sebelum diserahkan ke pengurus cabang olahraga untuk dipoles ke level nasional maupun internasional.
Skema penataan dari bawah ini memperkuat pesan Bupati Sleman Harda Kiswaya saat melantik pengurus KORKAP.
"Banyak atlet berbakat lahir dari desa. KORKAP harus menjadi ujung tombak dalam menjaring bibit-bibit atlet di Kabupaten Sleman," ungkap Haris meneruskan pesan Bupati Harda Kiswaya.
Melalui konsistensi pembinaan dan sinergi lintas sektor, KONI Sleman optimistis menatap Porda DIY XVIII 2027.
Target mempertahankan takhta Juara Umum merujuk pada rekor Porda DIY XVII 2025 lalu, saat Sleman menerjunkan 1.061 atlet di 521 nomor pertandingan dan sukses memboyong 170 emas, 178 perak, serta 203 perunggu dengan total 551 medali.
Kerja terencana ini sekaligus menjadi pembuktian KONI Sleman dalam mewujudkan pesan Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X saat melantik pengurus KONI Sleman beberapa waktu lalu.
"Jadikan Sleman sebagai lumbung atlet berprestasi," pungkas Haris Sutarta mengutip pesan KGPAA Paku Alam X. (*)
.png)