IPAC 2026 di Kota Batu Pecahkan Rekor Peserta, Paralayang Indonesia Tembus Peringkat 3 Dunia

1 Agustus 2026 08:34 1 Agt 2026 08:34

Khoirunnisa, Aziz Mahrizal

Redaksi Ketik.com
Thumbnail IPAC 2026 di Kota Batu Pecahkan Rekor Peserta, Paralayang Indonesia Tembus Peringkat 3 Dunia

Batu International Sport Tourism Festival (BISTF) 2026 yang dirangkaikan dengan International Paragliding Accuracy Championship (IPAC) 2026 resmi dibuka pada Jumat, 31 Juli 2026. (Foto: Asiyah/ketik.com)

KETIK, BATU – Gelaran Batu International Sport Tourism Festival (BISTF) 2026 yang dirangkaikan dengan International Paragliding Accuracy Championship (IPAC) 2026 resmi dibuka pada Jumat, 31 Juli 2026. Ajang internasional ini menjadi momen membanggakan bagi insan olahraga dirgantara tanah air.

Hal tersebut disampaikan oleh Pengurus Provinsi Paralayang Jawa Timur, Arief Eka Wahyudi, saat membacakan laporan Ketua Pelaksana, Marsma TNI Reza Ranesa Rasyid Sastranegara. Arief mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini berhasil menduduki peringkat ketiga dunia pada cabang olahraga paralayang nomor ketepatan mendarat (accuracy). Peringkat tersebut dihitung berdasarkan akumulasi perolehan poin para atlet sepanjang Januari hingga Juli.

"Untuk saat ini Indonesia berada di peringkat ketiga dunia. Posisi pertama ditempati Tiongkok, kedua Kosovo, dan ketiga Indonesia. Sementara untuk gelar juara dunia dihitung dari akumulasi beberapa seri kejuaraan yang berlangsung sepanjang tahun," ujarnya.

Arief menjelaskan, ajang IPAC tahun ini diselenggarakan dalam tiga seri pertandingan. Seri pertama telah berlangsung di Ibu Kota Nusantara (IKN), dilanjutkan seri kedua di Kabupaten Kotabaru, dan seri ketiga digelar di Kota Batu. Istimewanya, penyelenggaraan seri di Kota Batu berhasil memecahkan rekor jumlah peserta terbanyak sepanjang pelaksanaan IPAC.

"Penajam Paser 44, Kabupaten Kotabaru hanya diikuti 30 peserta, maka di Kota Batu jumlah peserta mencapai 75 atlet. Ini menjadi rekor terbesar penyelenggaraan IPAC," katanya.

Dari total 75 peserta yang berpartisipasi, sebanyak 64 atlet berasal dari Indonesia dan 11 atlet dari Malaysia. Kehadiran para atlet mancanegara ini menegaskan status IPAC di Kota Batu sebagai kejuaraan kelas dunia.

Menariknya, ajang ini didominasi oleh para pemuda. Berdasarkan data panitia, sebanyak 62 persen peserta berasal dari Generasi Z, 28 persen Generasi Milenial, dan 9 persen Generasi X.

"Peserta termuda berusia 14 tahun berasal dari Malaysia, sedangkan peserta tertua berusia 59 tahun yang juga berasal dari Malaysia. Ini menunjukkan bahwa olahraga paralayang dapat diikuti oleh berbagai kelompok usia," jelasnya.

Menutup penyampaiannya, Arief berharap adanya peningkatan dukungan dari pemerintah agar prestasi paralayang Indonesia terus melesat di panggung internasional.

"Kami berharap dukungan pemerintah semakin besar karena prestasi adalah sesuatu yang membanggakan dan patut diperjuangkan. Kami juga ingin terus berdiskusi agar Indonesia dapat terus meningkatkan prestasinya di tingkat dunia," tutup Arief.(*)

Tombol Google News

Tags:

Kota Batu BISTF IPAC Paralayang