KETIK, JAKARTA – Inggris harus melewati malam yang panjang, panas, dan penuh tekanan sebelum akhirnya memastikan langkah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026. The Three Lions menaklukkan Republik Demokratik Kongo 2-1 pada laga babak 32 besar di Atlanta Stadium, Rabu 1 Juni 2026 siang waktu setempat.
Kemenangan Inggris tidak datang dengan mudah. Mereka lebih dulu dikejutkan gol cepat Brian Cipenga pada menit ke-7. Namun, Harry Kane muncul sebagai pembeda. Kapten Inggris itu mencetak dua gol telat pada menit ke-75 dan 86 untuk membalikkan keadaan sekaligus mengirim pasukan Thomas Tuchel melaju ke fase berikutnya.
Laga baru berjalan tujuh menit ketika Kongo DR membuat Atlanta Stadium terdiam. Dari situasi transisi cepat, bola panjang diarahkan ke area pertahanan Inggris. Cipenga membaca ruang dengan tajam, lalu melepas tembakan rendah yang menaklukkan Jordan Pickford. Kongo unggul 1-0 dan langsung memaksa Inggris bermain di bawah tekanan.
Gol itu menjadi alarm keras bagi Inggris. Di atas kertas, mereka datang sebagai tim yang lebih diunggulkan. Namun di lapangan, Kongo menunjukkan wajah yang sangat disiplin. Dengan formasi 5-3-2, tim asuhan Sebastien Desabre menutup ruang di depan kotak penalti, memadatkan lini tengah, dan memaksa Inggris berputar terlalu lama di area luar blok pertahanan.
Meski tertinggal, Inggris tidak kehilangan kendali permainan. Sebelum turun minum, mereka mencatat 59 persen penguasaan bola, melepaskan delapan tembakan dengan empat tepat sasaran, serta membukukan xG 1,18. Kongo hanya membuat tiga tembakan dengan satu tepat sasaran dan xG 0,69, tetapi efektivitas mereka di awal laga membuat Inggris harus bekerja jauh lebih keras.
Tekanan Inggris meningkat lewat kombinasi Declan Rice, Elliot Anderson, Jude Bellingham, Noni Madueke, Marcus Rashford, dan Harry Kane. Mereka terus mencari celah di antara rapatnya barisan belakang Kongo. Namun, setiap kali bola masuk ke sepertiga akhir, penyelesaian Inggris belum cukup bersih.
Momen penting terjadi menjelang akhir babak pertama. Kane terjatuh di kotak penalti Kongo setelah mendapat tekanan dari pemain belakang lawan. Para pemain Inggris meminta penalti. Wasit Alireza Faghani sempat meninjau situasi bersama VAR, tetapi keputusan akhirnya tetap: tidak ada penalti.
Keputusan itu membuat Inggris menutup babak pertama dalam posisi tertinggal 0-1. Dominasi bola, jumlah tembakan, dan tekanan di kotak penalti belum cukup untuk merusak tembok Kongo.
Masuk babak kedua, Thomas Tuchel bergerak cepat. Inggris mulai menaikkan tempo, mempercepat sirkulasi bola, dan menambah daya ledak dari sisi sayap. Pada menit ke-60, Bukayo Saka dan Anthony Gordon dimasukkan untuk memberi warna baru dalam serangan.
Perubahan itu membuat Inggris lebih hidup. Saka memberi ancaman dari sisi kanan, Gordon menghadirkan tusukan lebih langsung, sementara Kane mulai lebih sering mendapat suplai bola di area berbahaya. Kongo masih bertahan rapat, tetapi tekanan Inggris makin sulit dibendung.
Gol yang ditunggu akhirnya datang pada menit ke-75. Serangan Inggris dibangun dengan sabar. Declan Rice mengirim bola ke area berbahaya, Elliot Anderson ikut terlibat dalam alur serangan, dan Kane berada di tempat yang tepat untuk menyelesaikan peluang. Penyerang Bayern Munich itu menuntaskan kesempatan dengan dingin. Skor berubah 1-1.
Gol penyama itu mengubah suhu pertandingan. Inggris yang sebelumnya gelisah mulai bermain lebih percaya diri. Kongo, yang sejak awal nyaman bertahan dalam blok rendah, mulai kehilangan jarak antarlini. Ruang kecil yang sebelumnya tertutup mulai terbuka.
Menit ke-86 menjadi titik balik terbesar laga. Inggris kembali membangun serangan terstruktur dari sisi lapangan. Gordon ikut menarik pertahanan Kongo, Anderson menjaga ritme bola, dan Kane kembali muncul sebagai eksekutor terakhir. Dengan ketenangan khas penyerang elite, Kane mengoyak gawang Lionel Mpasi untuk kedua kalinya.
Atlanta Stadium bergemuruh. Inggris berbalik unggul 2-1.
Kongo mencoba merespons pada sisa waktu pertandingan. Wissa beberapa kali menjadi sumber ancaman, termasuk lewat situasi bola mati pada masa tambahan waktu. Namun, lini belakang Inggris mampu menjaga konsentrasi hingga peluit panjang berbunyi.
Harry Kane layak menjadi tokoh utama laga ini. Dua golnya bukan hanya menyelamatkan Inggris dari potensi kejutan besar, tetapi juga menegaskan statusnya sebagai pemimpin serangan The Three Lions. Ketika Inggris kehilangan ketajaman di babak pertama, Kane tetap menjadi pemain yang menunggu satu momen untuk mengubah arah pertandingan.
Di sisi lain, Kongo DR pantas pulang dengan kepala tegak. Mereka sempat unggul cepat, bertahan disiplin, dan membuat Inggris frustrasi lebih dari satu jam. Kiper Lionel Mpasi juga tampil solid dengan sejumlah penyelamatan penting yang membuat Kongo bertahan lama dalam keunggulan.
Secara statistik, Inggris memang lebih dominan. Mereka menguasai bola lebih banyak, menciptakan peluang lebih sering, dan menekan kotak penalti Kongo dengan intensitas tinggi. Namun, laga ini juga memperlihatkan bahwa dominasi tidak selalu berarti nyaman. Inggris harus melewati ujian mental sebelum akhirnya menemukan jalan keluar.
Kemenangan 2-1 ini membawa Inggris melaju ke babak 16 besar. Lawan berikutnya bukan sembarang tim: Meksiko, tuan rumah yang akan menanti di Stadion Azteca. Duel itu diprediksi menjadi salah satu laga paling panas di fase gugur.
.png)