KETIK, SAMPANG – Sudah sekitar tiga bulan warga Desa Kedungdung, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Madura, menghadapi keterbatasan air bersih.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan air untuk aktivitas sehari-hari menjadi persoalan yang harus dihadapi masyarakat selama musim kemarau.
Di tengah kondisi itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur turun menyalurkan bantuan air bersih kepada warga, Kamis (17/9/2026). Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa hadir secara langsung bersama Bupati Sampang H. Slamet Junaidi dalam pendistribusian bantuan tersebut.
Sebanyak 4.254 jiwa yang berasal dari 951 kepala keluarga (KK) tercatat terdampak kekeringan di wilayah tersebut. Bantuan air kemudian didistribusikan untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.
Warga terlihat mendatangi lokasi pembagian untuk memperoleh air bersih. Selain pasokan air, masyarakat terdampak juga menerima bantuan sembako dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Khofifah mengatakan, kehadiran Pemprov Jatim dalam penanganan kekeringan bukan untuk menggantikan langkah yang telah dilakukan pemerintah daerah, melainkan memberikan dukungan tambahan.
“Jadi kehadiran Pemprov ini sifatnya mensubstitusi komplementaritas, menguatkan, melapisi dari yang sudah dilakukan oleh Kabupaten Kota. Nah setiap titik yang saya datang biasanya selain ada support air bersih juga ada sembako, makanya kita juga berbagi sembako,” ujar Khofifah.
Menurutnya, bantuan air merupakan bentuk respons cepat ketika masyarakat membutuhkan pasokan air. Namun, persoalan kekeringan membutuhkan penanganan yang lebih permanen agar masyarakat tidak terus bergantung pada distribusi air setiap musim kemarau.
Salah satu upaya yang sedang didorong Pemprov Jatim adalah mencari dan memetakan titik-titik yang memiliki potensi sumber air. Hasil pemetaan tersebut nantinya dapat menjadi dasar untuk menentukan lokasi pengeboran sumur.
Khofifah menyebut proses pemetaan sumber air dilakukan dalam skala besar dengan melibatkan program TNI di seluruh wilayah Pulau Madura.
“Sebetulnya ini kan sedang ada pemetaan skala besar ya TNI sepulau Madura, itu sebetulnya untuk bisa diidentifikasi dibor dengan kedalaman tertentu itu juga harus dimaksimalkan,” katanya.
Jika ditemukan sumber air dengan debit yang memadai, pemerintah juga dapat mempertimbangkan sistem penyaluran air menuju permukiman warga. Khofifah menyebut, cara tersebut pernah diterapkan di sejumlah daerah dengan jarak sumber air hingga 17 kilometer dari kawasan masyarakat.
“Sumber air cukup itu bisa ditarik sampai 17 kilometer, kita sudah pernah melakukan itu di banyak tempat yang terdeteksi,” tegasnya.
Sementara mengenai kemungkinan pembangunan embung dan waduk di Sampang, Khofifah mengatakan pemerintah belum menentukan lokasi pembangunan. Menurutnya, diperlukan assessment terlebih dahulu untuk mengetahui wilayah yang mempunyai potensi.
“Kalau terkait pembangunan embung dan waduk, kita masih mau melihat potensi wilayah titik mana saja yang akan berpotensi dibangun embung atau waduk, karena harus dilakukan assessment terlebih dahulu,” tuturnya.
Penanganan kekeringan di Sampang pun tidak hanya diarahkan pada pemenuhan kebutuhan air saat kemarau. Pemerintah juga mulai mengarahkan perhatian pada pencarian sumber air dan pembangunan infrastruktur yang dapat menjadi penyedia air dalam jangka panjang. (*)
