Rawat Kearifan Lokal, Sekarbanjar 4 Hidupkan Tradisi Islam Nusantara di Kota Malang

6 September 2026 06:06 6 Sep 2026 06:06

Lutfia Indah, Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Rawat Kearifan Lokal, Sekarbanjar 4 Hidupkan Tradisi Islam Nusantara di Kota Malang

Pelaksanaan kegiatan Festival Sekarbanjar 4 oleh Lesbumi PCNU Kota Malang dan warga RW 04 Kelurahan Merjosari. (Foto: Lutfia/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Lesbumi PCNU Kota Malang kembali menggelar Festival Sekarbanjar untuk ke-4 kalinya di RW 07 Dusun Genting, Kelurahan Merjosari. Kegiatan tersebut sebagai upaya untuk merawat kearifan lokal sekaligus menghidupkan tradisi Islam Nusantara di Kota Malang.

Festival Sekarbanjar telah berlangsung sejak 3-5 September 2026 dengan beragam kegiatan, mulai dari pameran keris, naskah kuno, dan lainnya. Bahkan sejumlah penghargaan juga diberikan kepada pelaku yang dinilai berjasa melestarikan kebudayaan di Kota Malang.

Penghargaan Anugerah Panji Wigati Lesbumi diberikan kepada Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita yang berjasa terhadap eksistensi Lesbumi Kota Malang. Serta Anugerah Sekarbanjar yang diberikan kepada Suminto Kholis atas jasanya mengelola lingkungan dan air.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat turut memberikan apresiasi terhadap terselenggaranya Festival Sekarbanjar 4. Menurutnya masyarakat harus bergotong royong dalam menjaga kearifan lokal.

"Festival Sekarbanjar 4 ini adalah upaya untuk uri-uri kebudayaan dan harus kita pertahankan. Kearifan lokal yang turun temurun ini punya arti mendalam selain untuk peringatan Maulid Nabi, juga silaturahmi warga," ujarnya, Sabtu 5 September 2026 malam.

Festival Sekarbanjar juga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan lebih besar lagi. Hal tersebut sekaligus mendukung program 1000 event yang diusung oleh Pemerintah Kota Malang.

"Apalagi Festival Sekarbanjar banyak menghadirkan pejabat lokal dan nasional. Bisa menjadi potensi unggulan yang bisa dipromosikan dan kita lestarikan," lanjutnya.

Sementara itu, Ketua PCNU Kota Malang, Isroqunnajah menjelaskan masuknya ajaran Islam di Nusantara banyak dipengaruhi oleh para pedagang. Bahkan pengaruh Islam di Nusantara dinilai lebih kuat dibandingkan lama masa pendudukan Belanda di Indonesia.

Saat masuk ke Nusantara, penyebar agama Islam melakuka proses asimilasi, inkulturasi dan juga akulturasi. Upaya tersebut dilakukan agar banyak masyarakat yang tertarik dengan ajaran Islam.

"Bahkan ada proses mutilasi, pemotongan budaya. Kita tahu tumpeng merupakan miniatur gunung yang oleh masyarakat Jawa sebagian dihormati karena dianggap tempat bersemayam Sang Hyang Widhi. Oleh Islam direduksi sehingga gunung tidak dikultuskan sebagai sesuatu yang disembah," ujarnya.

Melalui Festival Sekarbanjar, diharapkan masyarakat tidak hanya paham tentang agama namun juga budaya setempat. Hal tersebut untuk menegaskan bahwa dakwah seharusnya dilakukan dengan santun.

"Melalui Festival Sekarbanjar, Lesbumi harus terus mencoba mengingatkan ke kita bahwa dakwah harus dilakukan dengan santun. Itu inti dari para dai dan wali ketika menyebarkan Islam di Nusantara," pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Festival Sekarbanjar 4 Festival Sekarbanjar Kearifan lokal Kota Malang