Perkuat Jejaring, Pegiat Turots Gelar Musyawarah Besar di Tengah Momen Muktamar NU

29 Agustus 2026 23:01 29 Agt 2026 23:01

M. Rifat

Editor
Thumbnail Perkuat Jejaring, Pegiat Turots Gelar Musyawarah Besar di Tengah Momen Muktamar NU

Sedikitnya 170 pegiat turots berkumpul di Pondok Al-Muhajirin 3 Bahrul Ulum dalam Musyawarah Besar di Tambakberas Jombang, Sabtu (29/8/2026). (Foto: Rifat/Ketik.com)

KETIK, JOMBANG – Sedikitnya 170 pegiat turots berkumpul di Pondok Al-Muhajirin 3 Bahrul Ulum Tambakberas, Sabtu (29/8/2026).

Mereka berasal dari 87 lembaga atau komunitas seluruh wilayah di Nusantara untuk menggelar Musyawarah Besar (Mubes). Kegiatan dilaksanakan oleh Nahdlatut Turots (NT).

Tampak hadir sebagai undangan Prof Oman Fathurrohman, guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Termasuk Ketua NT Lora Usman Hasan Al-Akhyari, Dr Ahmad Karomi (Sekretaris) dan para pengurus pondok pesantren serta perwakilan pihak sponsor.

Perwakilan NT, Dr KH Ahmad Najid, menegaskan para pegiat turots sebagai filolog santri. "Ini sebagai bentuk jihad dalam merawat warisan ilmu dari para ulama terdahulu," ujarnya.

Pria akrab disapa Gus Najib ini menyebut Mubes kali ini kedua kalinya. "Yang pertama di Muktamar NU di Lampung tahun 2022 lalu yang berhasil mendeklarasikan gerakan nahdlatut turots," tambahnya.

Saat memaparkan materi, Dr KH Afifuddin Dimyathi menegaskan sumber inspirasi menulis turots beragam. "Bisa dari sendiri, orang lain maupun atas permintaan," ujarnya.

Inspirasi menulis, lanjutnya, merupakan amanat dari Allah. "Cuma mau dikerjakan atau tidak dikerjakan, pengalaman saya sendiri menulis karena lebih banyak dari aktivitas mengajar," tambahnya.

"Sehingga sampai merasakan kenikmatan dalam menulis, meskipun sekarang saya sendiri berhenti menulis dulu," tambahnya. "Baik menulis turots yang dicetak untuk sekedar dikoleksi ataupun dipasarkan," tambahnya.

Perspektif lain disampaikan narasumber Dr Anas Al-Hifni dari Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan. Menurutnya, karya turots tidak harus dicetak dalam bahasa Arab. "Tapi bagaimana turots bisa dialihbahasa ke Inggris atau Cina, agar makin internasional," ujarnya.

Tapi dirinya menggarisbawahi perlunya pembedaan tugas dalam rantai publikasi turots.

"Yang sudah menjadi penulis, tidak usah menjadi distributor, nanti keduanya akan jadi buyar jika dilakukan oleh orang yang sama," pesannya. Dirinya juga menyatakan siap mendukung untuk membuka jaringan agar turots makin berkembang.

Pengasuh Pondok Al-Muhajirin 3, KH Ali Zamroni, mengapresiasi kegiatan yang digelar. "Semoga kegiatan ini makin mendorong kita berbuat kebaikan untuk merawat warisan ulama," pungkasnya.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan shalat jamaah Maghrib dan shalawat Nabi. Lalu dipungkasi dengan pemberian ijazah sanad keilmuan dari para kiai sepuh. (*)

Tombol Google News

Tags:

Muktamar NU Nahdlatut Turots nahdlatul ulama